Zulhas Akan Olah Sampah Bau-Bermasalah Untuk Terangi Jakarta
Zulhas Akan Olah Sampah Bau-Bermasalah Untuk Terangi Jakarta #newsupdate #update #news #text

Pemerintah menegaskan komitmen untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta dengan pendekatan mengubah limbah menjadi energi listrik.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut, langkah ini menjadi bagian dari janji besar pemerintah agar persoalan sampah tidak lagi membebani warga.
Hal itu disampaikan Zulhas dalam Penandatanganan Kerja Sama Pemprov DKI dengan Danantara terkait Fasilitas Pengolah Sampah di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (4/5).
“Penandatanganan ini adalah kontrak dengan jutaan warga Jakarta. Memang sini simbolnya dua ya,” ujar Zulhas.
Ia menegaskan, kerja sama yang diteken bukan sekadar formalitas, melainkan komitmen konkret untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini menumpuk dan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat.
“Bahwa sampah mereka tidak akan terus menumpuk, berbau, dan membanjiri jalan mereka lagi. Insya Allah dua tahun lagi. Ini adalah tindak lanjut dari arahan tegas Bapak Presiden, bahkan kami berkali-kali ditelepon ya, Bapak Presiden Prabowo,” ujar Zulhas.
“Seratus persen sampah Indonesia terolah dengan baik, insya Allah nanti doakan pada tahun 2029. Mungkin yang belum selesai tinggal yang di rumah-rumah. Nah, yang itu kita akan bisa selesaikan,” lanjutnya.
Zulhas menilai, Jakarta menjadi contoh nyata bagaimana arahan pemerintah pusat dijalankan dalam bentuk aksi konkret di lapangan. Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendorong pengolahan sampah berbasis energi atau waste to energy.

“Jakarta hari ini membuktikan bahwa arahan itu bukan sekadar angka tapi aksi nyata. Saya mengapresiasi komitmen nyata Pak Gubernur Jakarta, Mas Pramono Anung, terima kasih Pak Gubernur (Pramono Anung), Pak Mendagri (Tito Karnavian) juga yang terus mendukung pengelolaan sampah menjadi waste to energy ini, ya. Yang memilih bertindak bersama kita, bersama kami,” katanya.
Zulhas punya gagasan, pengelolaan sampah akan dibuat bermanfaat bagi warga. Sumber masalah, akan diubah jadi energi listrik yang akan dimanfaatkan untuk kebutuhan perkotaan.
“Yang memilih bertindak bersama kami, sampah yang selama ini menumpuk di depan rumah warga Jakarta akan diubah menjadi listrik yang mengaliri kota ini. Jadi sampah yang berbau, yang bermasalah, kita akan ubah jadi listrik yang nanti bermanfaat untuk menerangi Jakarta. Itulah janji yang hari ini kita tanda tangani bersama,” tegasnya.
Ia menambahkan, program ini akan terus diperluas ke berbagai daerah lain di Indonesia, menyusul Jakarta yang menjadi prioritas utama karena tingkat urgensinya.
“Nanti selanjutnya minggu depan ada batch kedua. Kita akan ada 11 provinsi, yaitu Yogya, DKI sudah, Lampung, Serang, Semarang, Surabaya, Bekasi, Medan, Tangerang, Bogor Raya. Minggu depan, ya,” ujarnya.
Ia juga memaparkan sejumlah daerah lain yang tengah dipersiapkan untuk proyek serupa, termasuk yang hampir rampung maupun yang masih dalam tahap awal.
“Yang sudah hampir jadi, Kota Palembang, Pak, tapi pakai Perpres 35 yang akan nanti kita gabungkan jadi 109. Nah kemudian yang baru akan dipersiapkan ada empat lagi: Pekalongan, Tegal Raya, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Karawang. Minggu depan ada 11,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi ini akan melibatkan investasi dari pihak Danantara.
“Danantara nanti yang bangun. Kita yang berkomitmen untuk menyediakan lahan dan sampah,” ujarnya.
Ia menambahkan, skema kerja sama yang digunakan bersifat investasi, di mana pemerintah daerah memastikan ketersediaan sampah sebagai bahan baku serta menjamin penggunaan lahan, meskipun tidak seluruhnya merupakan aset milik Pemprov DKI.
“Tapi intinya kita bisa jamin bahwa tanah itu bisa dipakai untuk pengolahan sampah,” jelasnya.
Terkait teknis lebih lanjut, termasuk luas lahan dan distribusi sampah, Dudi menyebut masih dalam tahap pembahasan. Namun ia memastikan bahwa program pengolahan sampah lain seperti RDF tetap berjalan berdampingan.
“Belum sampai ke sana. Tapi ya, kan volume-nya banyak ya,” katanya.
Ia juga menegaskan pengelolaan sampah di Jakarta ke depan tidak lagi mengandalkan sistem open dumping, melainkan beralih ke metode yang lebih ramah lingkungan.
“Nah, yang nggak boleh itu kita praktik open dumping. Tapi tetap bisa digunakan dengan sanitary landfill,” ujarnya.