Wall Street Melemah, Perang Iran Masih Tekan Sentimen Pasar
Pelemahan terjadi seiring meningkatnya kembali kekhawatiran terkait perang di Iran, mengalahkan sentimen positif laporan kinerja perusahaan. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Saham-saham di Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (21/4), setelah sempat menguat di awal sesi. Pelemahan terjadi seiring meningkatnya kembali kekhawatiran terkait perang di Timur Tengah yang mengalahkan sentimen positif dari laporan kinerja perusahaan.
Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 293,18 poin atau 0,59 persen menjadi 49.149,38. Indeks S&P 500 (.SPX) melemah 45,13 poin atau 0,63 persen ke level 7.064,01, sementara Nasdaq Composite (.IXIC) turun 144,43 poin atau 0,59 persen menjadi 24.259,96.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya bersedia menghadiri pembicaraan dengan AS di Pakistan jika Washington menghentikan kebijakan tekanan dan ancaman. Namun, Teheran menolak negosiasi yang mengarah pada penyerahan.
Penurunan saham pun semakin dalam di akhir sesi setelah muncul laporan mengenai Wakil Presiden AS, JD Vance, membatalkan perjalanannya ke Pakistan untuk pembicaraan damai. Dalam beberapa pekan terakhir, pasar saham sempat menguat karena optimisme akan tercapainya kesepakatan damai.
“Dua hal sedang terjadi, bagaimana resolusi atau arah penyelesaian terkait Iran, tetapi di sisi lain jika itu tidak menjadi faktor, ekspektasi terhadap kinerja perusahaan sangat baik dan laporan yang masuk sejauh ini juga mendukung, sementara ekonomi tetap dalam kondisi baik,” ujar manajer portofolio senior di GLOBALT Investment, Thomas Martin.
“Faktor ketidakpastian terbesar adalah apa yang akan terjadi dengan Iran, dan tidak ada yang benar-benar tahu,” tambahnya.
Sebelumnya, indeks acuan S&P 500 sempat menguat hingga 0,4 persen pada hari tersebut. Data ekonomi dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Maret, didorong oleh kenaikan harga bensin akibat perang dengan Iran yang memicu lonjakan pendapatan di stasiun pengisian bahan bakar.
Penjualan ritel naik 1,7 persen bulan lalu, merupakan kenaikan terbesar sejak Maret 2025, setelah sebelumnya direvisi naik menjadi 0,7 persen pada Februari. Angka ini juga melampaui estimasi ekonom yang sebesar 1,4 persen.
Kemudian, optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan kinerja emiten yang solid turut menopang kepercayaan investor, dengan ekspektasi pertumbuhan laba kuartal pertama sekitar 14 persen menurut data LSEG.
J.P. Morgan menaikkan target akhir tahun untuk S&P 500 dengan mempertimbangkan pertumbuhan berbasis teknologi dan AI. Sementara itu, Amazon menyatakan akan menginvestasikan hingga 25 miliar dolar AS ke Anthropic, menunjukkan perusahaan besar masih agresif dalam mengembangkan teknologi AI. Saham Amazon ditutup naik 0,66 persen.
Indeks energi S&P 500 menjadi satu-satunya sektor yang menguat, naik 1,31 persen, didorong lonjakan harga minyak mentah akibat ketegangan di Timur Tengah. Saham UnitedHealth melonjak 7 persen setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba tahunan dan melampaui ekspektasi pasar pada kuartal pertama, menjadi kontributor terbesar penguatan Dow dengan tambahan sekitar 138 poin.
Di sisi lain, saham Apple turun 2,52 persen setelah perusahaan mengumumkan CEO Tim Cook akan menyerahkan kepemimpinan kepada kepala divisi hardware, John Ternus.

Investor juga mencermati pernyataan Kevin Warsh, calon Ketua Federal Reserve dari Presiden Donald Trump, yang menjalani sidang konfirmasi di Senat pada Selasa (21/4).
Warsh menegaskan, ia tidak memberikan janji kepada Trump untuk memangkas suku bunga, dan berupaya meyakinkan senator bahwa ia akan bertindak independen dari Gedung Putih.
Namun, Senator Partai Republik Thom Tillis berjanji akan menghambat konfirmasi Warsh hingga Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan terhadap Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, yang dinilai mengancam independensi bank sentral.
Kebuntuan ini berpotensi memengaruhi kebijakan moneter, terutama setelah Trump menyatakan akan memberhentikan Powell jika tidak mundur saat masa jabatannya berakhir pada Mei.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 2,67 banding 1 di NYSE dan 2,53 banding 1 di Nasdaq.
S&P 500 mencatatkan 50 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan empat saham mencapai titik terendah baru. Sementara Nasdaq mencatat 144 saham mencetak rekor tertinggi baru dan 62 saham mencapai level terendah.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 18,08 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 18,4 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.