News Berita

Wall Street Ditutup Variatif, Dow Cetak Rekor saat Saham Chip Tersungkur

Wall Street ditutup variatif, Dow naik 1,73 persen dan S&P naik 0,41 persen, sementara Nasdaq turun tipis 0,09 persen. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Wall Street Ditutup Variatif, Dow Cetak Rekor saat Saham Chip Tersungkur
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada Kamis (4/6) seiring kemajuan menuju berakhirnya perang Iran yang meningkatkan sentimen investor. Namun, hasil kinerja Broadcom yang mengecewakan memicu aksi jual saham chip dan menyeret Nasdaq ke zona negatif.

Indeks Dow Jones yang berisi saham-saham unggulan melonjak dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru, didorong oleh penguatan saham sektor kesehatan dan keuangan.

Sementara itu, indeks S&P 500 mencatat kenaikan yang lebih terbatas, sedangkan Nasdaq ditutup sedikit melemah.

Mengutip Reuters, Jumat (5/6), indeks Dow Jones Industrial Average naik 874,86 poin atau 1,73 persen ke level 51.561,93. S&P 500 menguat 30,63 poin atau 0,41 persen menjadi 7.584,31. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 23,02 poin atau 0,09 persen ke posisi 26.830,96.

Produsen chip Broadcom gagal memenuhi ekspektasi pendapatan. Hal itu membuat sahamnya anjlok 12,6 persen dan membayangi euforia kecerdasan buatan (AI) yang telah mendorong indeks saham semikonduktor naik lebih dari 92 persen sepanjang tahun ini.

“Nyaris satu-satunya noda di pasar saat ini adalah Broadcom, dan saya pikir investor memanfaatkan penurunan harga untuk membeli,” kata Paul Nolte, penasihat kekayaan senior dan ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest, Elmhurst, Illinois.

“Saya tidak berpikir investor telah meninggalkan saham chip, tetapi yang belum mereka pahami adalah, ‘Apakah ini nyata? Apakah valuasi ini masuk akal?’ Saya belum yakin investor benar-benar mempertanyakan hal itu,” lanjutnya.

Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Rabu (3/6) meloloskan rancangan aturan yang akan menghalangi Presiden Donald Trump untuk melanjutkan perang dengan Iran.

Presiden AS Donald Trump mengedipkan mata ke arah anggota DPR dari Partai Republik Tom Emmer, dari Minnesota, sambil bertepuk tangan setelah menandatangani "Genius Act" di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Jumat (18/7/2025). Foto: Annabelle Gordon/REUTERS
Presiden AS Donald Trump mengedipkan mata ke arah anggota DPR dari Partai Republik Tom Emmer, dari Minnesota, sambil bertepuk tangan setelah menandatangani "Genius Act" di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Jumat (18/7/2025). Foto: Annabelle Gordon/REUTERS

Selain itu, kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi AS, yang menjadi syarat penting bagi Iran untuk menyetujui perjanjian damai, turut meningkatkan optimisme bahwa konflik tersebut dapat segera berakhir. Namun, gencatan senjata itu ditolak oleh kelompok Hezbollah yang didukung Iran yang menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon.

Penurunan harga kontrak minyak mentah bulan terdekat mencerminkan harapan bahwa lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz yang strategis dapat segera kembali normal.

“Berapa banyak kesepakatan yang sudah kita dengar? Selalu disebut sudah di depan mata, tetapi kita belum sampai ke titik itu,” kata Nolte.

“Memang ada kemajuan, tetapi apakah kemajuan itu cukup cepat sehingga dunia bisa kembali ke kondisi normal dalam beberapa minggu, beberapa bulan, atau mungkin baru tahun depan?" imbuhnya.

Dari sisi ekonomi, klaim awal tunjangan pengangguran naik 6,1 persen, lebih tinggi dari perkiraan. Biaya tenaga kerja dan produktivitas kuartal I juga direvisi turun secara signifikan.

Laporan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan jumlah PHK yang diumumkan perusahaan-perusahaan AS melonjak 11 persen pada Mei menjadi 97.006 pekerja. Hampir 40 persen dari jumlah tersebut dikaitkan dengan penggunaan AI.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sektor kesehatan dan keuangan mencatat kenaikan persentase terbesar. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi yang paling tertinggal.

Saham Marvell Technology menguat 4,9 persen. Di sisi lain, saham Advanced Micro Devices (AMD), Micron Technology, dan Qualcomm turun antara 2,6 persen hingga 7,7 persen.

Sektor kesehatan mendapat dorongan dari saham UnitedHealth yang melonjak 5,2 persen setelah Bank of America menaikkan rekomendasi saham perusahaan tersebut menjadi “buy”.

Pemulihan indeks sektor keuangan terjadi setelah aksi jual tajam pada sesi sebelumnya akibat kembali munculnya kekhawatiran terkait kredit swasta (private credit).

Blackstone menjadi manajer aset terbaru yang membatasi penarikan dana dari produk kredit swasta unggulannya setelah meningkatnya permintaan pencairan dana. Saham perusahaan itu naik 7,5 persen.

Sementara itu, perusahaan keamanan siber CrowdStrike merosot 3,8 persen setelah melaporkan kenaikan beban operasional kuartalan.

Roadshow investor untuk SpaceX yang dipimpin Elon Musk dimulai pada Kamis menjelang debut perdagangannya pada 12 Juni. Perusahaan tersebut menargetkan penghimpunan dana sebesar USD 75 miliar dalam IPO yang berpotensi menjadi rekor dan menilai perusahaan sebesar USD 1,75 triliun.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik melampaui saham yang turun dengan rasio 2,19 banding 1. Tercatat 308 saham mencetak level tertinggi baru dan 145 saham mencatat level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 3.082 saham menguat dan 1.681 saham melemah, dengan rasio saham naik terhadap saham turun sebesar 1,83 banding 1.

S&P 500 mencatat 24 level tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir dan 11 level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 100 level tertinggi baru dan 92 level terendah baru.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 18,77 miliar saham, lebih rendah dibanding rata-rata 20,11 miliar saham per sesi selama 20 hari perdagangan terakhir.

Buka sumber asli