News Berita

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Reli Saham AI

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Reli Saham AI #bisnisupdate #update #bisnis #text

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Reli Saham AI
Ilustrasi Wall Street Foto: Wikimedia Commons
Ilustrasi Wall Street Foto: Wikimedia Commons

Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (6/5), didorong reli saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kuatnya musim laporan keuangan perusahaan AS.

Dikutip dari Reuters, indeks S&P 500 naik 1,46 persen ke level 7.365,09. Nasdaq melonjak 2,03 persen menjadi 25.838,94, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 1,24 persen ke posisi 49.910,59.

Kuatnya laporan kinerja Advanced Micro Devices (AMD) memicu reli saham produsen chip dan saham terkait kecerdasan buatan (AI) lainnya. Saham AMD melesat hampir 19 persen ke rekor tertinggi setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartalan melampaui ekspektasi analis, didorong tingginya permintaan chip pusat data mereka.

Dalam beberapa pekan terakhir, Wall Street terus reli karena investor mulai mengabaikan perang di Timur Tengah dan lebih fokus pada kuatnya kinerja perusahaan, terutama emiten yang terkait AI.

Penguatan saham teknologi dipimpin Nvidia Corp (NVDA) naik 5,7 persen. Sementara saham Corning Inc (GLW) menguat setelah mengumumkan kerja sama dengan Nvidia untuk memperluas produksi produk konektivitas optik yang digunakan pada pusat data AI di Amerika Serikat.

Saham Hut 8 Corp (HUT) melesat 35 persen setelah pengembang pusat data AI tersebut menandatangani kontrak sewa 15 tahun senilai USD 9,8 miliar untuk kampus pusat data Beacon Point di Texas.

Ilustrasi Nvidia. Foto: PhotoGranary02/Shutterstock
Ilustrasi Nvidia. Foto: PhotoGranary02/Shutterstock

Adapun saham Super Micro Computer Inc (SMCI) melonjak 24,5 persen setelah perusahaan merilis proyeksi pendapatan kuartal IV dan laba disesuaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Selain saham teknologi, Walt Disney Co (DIS) naik 7,5 persen setelah perusahaan hiburan itu membukukan laba kuartal II di atas estimasi analis. Investor juga menyoroti strategi pertumbuhan perusahaan yang dipaparkan CEO Josh D’Amaro.

Sementara itu, Uber Technologies Inc (UBER) menguat 8,5 persen setelah perusahaan memproyeksikan pemesanan yang kuat pada kuartal II.

Berdasarkan data London Stock Exchange (LSEG), lebih dari 80 persen perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga 1 Mei berhasil melampaui estimasi laba analis. Dengan capaian tersebut, perusahaan-perusahaan di indeks S&P 500 diperkirakan mencatat pertumbuhan laba terkuat dalam lebih dari empat tahun terakhir.

“Ekonomi berjalan dengan baik. Tidak ada tanda-tanda bahaya nyata menuju perlambatan. Dengan kondisi seperti itu, investor perlu memiliki saham,” ujar Senior Portfolio Manager Globalt Investments Thomas Martin, Kamis (7/5).

Penguatan juga pasar turut ditopang sentimen positif dari hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Saham global melonjak dan harga minyak turun setelah Iran menyatakan sedang meninjau proposal baru dari AS.

Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 8 persen ke level USD 101 per barel. Penurunan harga minyak ini membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.

Ilustrasi Produksi Minyak Mentah Brent. Foto: Scott Heppel/AFP
Ilustrasi Produksi Minyak Mentah Brent. Foto: Scott Heppel/AFP

Dari sisi ekonomi, data payroll swasta AS mencatat kenaikan terbesar dalam 15 bulan pada April. Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih stabil meskipun konflik dengan Iran masih membayangi prospek ekonomi global.

Investor kini menantikan laporan non-farm payrolls AS yang akan dirilis Jumat (8/5) mendatang. Berdasarkan survei Reuters, ekonom memperkirakan lapangan kerja AS bertambah 62.000 pada April setelah meningkat 178.000 pada Maret.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve St. Louis Alberto Musalem mengatakan risiko kebijakan moneter kini bergeser menuju inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama di tengah pasar tenaga kerja yang masih kuat.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 18,8 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 sesi sebelumnya sebesar 17,6 miliar saham.

Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup menguat, dipimpin sektor industri yang naik 2,6 persen dan sektor teknologi informasi yang menguat 2,56 persen.

Sejak awal tahun, indeks S&P 500 telah naik hampir 8 persen, sementara Nasdaq melonjak sekitar 11 persen.

Jumlah saham yang menguat di indeks S&P 500 juga melampaui saham yang turun dengan rasio 1,7 banding 1. S&P 500 mencatat 46 rekor tertinggi baru dan 21 rekor terendah baru, sedangkan Nasdaq membukukan 186 rekor tertinggi baru dan 92 rekor terendah baru.

Buka sumber asli