Turki Gelar Peringatan Hari Demokrasi, Kenang Kegagalan Upaya Kudeta 2016
Turki Gelar Peringatan Hari Demokrasi, Kenang Kegagalan Upaya Kudeta 2016 #newsupdate #news #udpate #text

Kedutaan Besar (Kedubes) Turki di Jakarta menggelar diskusi panel Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional pada Rabu (15/7) untuk memperingati 10 tahun gagalnya upaya kudeta militer 2016.
Dalam kesempatan itu, Duta Besar (Dubes) Turki untuk Indonesia Talip Küçükcan mengatakan negaranya kini memiliki demokrasi yang lebih kuat.
"Yang kami miliki saat ini adalah demokrasi yang lebih kuat dan lebih tangguh dalam 10 tahun setelah upaya kudeta," kata Küçükcan kepada awak media, usai acara.
Menurut dia, upaya kudeta pada 15 Juli 2016 menjadi pelajaran penting bahwa demokrasi harus dijaga bersama oleh masyarakat, parlemen, media, hingga lembaga negara.
"Jika ingin melakukan perubahan sosial dan politik, caranya adalah melalui proses politik. Jangan menggunakan kekerasan, jangan menggunakan agama, karena itu semua merupakan nilai-nilai yang sakral bagi masyarakat," ujarnya.

Küçükcan juga menanggapi laporan sejumlah lembaga internasional, termasuk Freedom House, yang mengategorikan Turki sebagai negara "tidak bebas".
Ia membantah penilaian tersebut dan menegaskan seluruh pemilu di Turki dipantau pengamat internasional.
Menurutnya, Turki juga terus melakukan reformasi demokrasi, termasuk melalui kerja sama dengan Uni Eropa dan Dewan Eropa.
"Selalu ada ruang untuk perbaikan dalam setiap demokrasi, baik demokrasi Eropa, Amerika Serikat, maupun Indonesia. Namun Turki memiliki institusi yang transparan dan akuntabel," tuturnya.
Media Bebas Dinilai Jadi Pilar Demokrasi
Küçükcan menegaskan media memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi karena menjadi saluran suara masyarakat.
"Kami percaya media yang bebas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Tetapi kebebasan media juga harus diimbangi dengan tanggung jawab," ungkapnya.
Ia mengingatkan penyebaran misinformasi di media sosial juga dapat memicu perpecahan sosial jika tidak diimbangi dengan regulasi dan prinsip jurnalistik yang baik.
Kenang Kudeta Berdarah 2016
Dalam sambutannya, Küçükcan mengatakan peringatan ini digelar untuk mengenang kegagalan upaya kudeta militer pada 2016 yang berusaha menggulingkan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdoğan.
Menurutnya, sebagian kecil anggota militer saat itu keluar dari rantai komando dan menggunakan tank serta pesawat tempur untuk menyerang warga sipil, parlemen, hingga kompleks kepresidenan.
"Kami membayar harga yang mahal, tetapi kami juga melihat bagaimana demokrasi dipertahankan oleh rakyat di jalanan, media, lembaga demokrasi, dan militer," ujarnya.
Sekilas Hari Demokrasi Turki
Pemerintah Turki menetapkan 15 Juli sebagai Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional untuk mengenang kegagalan kudeta tersebut.
Pemerintah menyebut jaringan Fethullah Gülen berada di balik percobaan kudeta, tuduhan yang dibantah Gülen semasa hidupnya.
Peristiwa itu menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai sekitar 2.700 orang.

Pada peringatan di Jakarta tahun ini, Kedubes Turki menggelar diskusi panel yang membahas sejarah Hari Demokrasi tersebut.
Selain Dubes Talip Küçükcan, tokoh lain yang menjadi panelis antara lain Prof. Erman Akilli dari Ankara Hacı Bayram Veli University, Dr. Muhammad Syaroni Rofii dari Universitas Indonesia, dan Dr. Deden Mauli Darajat dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.