Trump Tuding Iran Kolaps Secara Finansial
Trump Klaim Iran Kolaps Finansial Usai Selat Hormuz Diblokade Total AS #newsupdate #news #update #text

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (22/4) mengklaim Iran mengalami "kolaps finansial" setelah sebelumnya ia mengklaim Selat Hormuz diblokade total oleh militer AS.
Pernyataan terbaru ini mempertegas eskalasi ketegangan di tengah perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Trump pada Selasa (21/4) malam.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut tekanan ekonomi kini menghantam langsung Iran hingga membuat negara itu kehilangan pemasukan besar setiap hari mencapai USD 500 juta atau setara Rp 8,5 triliun.
"Iran sedang kolaps secara finansial! Mereka ingin Selat Hormuz segera dibuka-kehausan uang! Kehilangan 500 juta dolar per hari," tulis Trump.
Ia bahkan mengklaim kondisi internal Iran mulai terguncang akibat krisis tersebut.
"Militer dan polisi mengeluh karena tidak dibayar. SOS!!!" lanjutnya.

Tiga jam sebelumnya, lewat platform yang sama, Trump juga menyatakan Selat Hormuz telah "diblokade total" oleh AS setelah negosiasi damai gagal mencapai kesepakatan.
"Iran tidak ingin Selat Hormuz ditutup, mereka ingin tetap terbuka agar bisa menghasilkan 500 juta dolar per hari," tulisnya.
Ia menilai sikap Iran yang terkesan mendukung penutupan hanyalah upaya menjaga citra di tengah tekanan.
"Mereka hanya ingin ‘menjaga muka’ karena saya sudah memblokadenya sepenuhnya," ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat membalas dengan nada keras dan menilai langkah AS sebagai pelanggaran serius.
"Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang dan merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata," tulis Araghchi di X.
Ia juga menyoroti insiden terhadap kapal dagang Touska yang disitas militer AS sebagai eskalasi yang lebih berbahaya.
"Menyerang kapal komersial dan menyandera awaknya adalah pelanggaran yang lebih besar," lanjutnya.
Sebelumnya, Iran memilih diam atas perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Washington dan disebut tengah mengambil langkah hati-hati sambil menunggu kepastian arah negosiasi.
Situasi di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia, masih belum stabil, dengan lalu lintas kapal yang tetap terganggu dan ketegangan berpotensi meningkat sewaktu-waktu.