News Berita

Trump: AS Seharusnya Tak Pernah Terlibat Perang di Timur Tengah

Trump: AS Seharusnya Tak Pernah Terlibat Perang di Timur Tengah #newsupdate #news #update #text

Trump: AS Seharusnya Tak Pernah Terlibat Perang di Timur Tengah
Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China (14/5/2026). Foto: Maxim Shemetov/REUTERS
Presiden AS Donald Trump menghadiri pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China (14/5/2026). Foto: Maxim Shemetov/REUTERS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan AS seharusnya tak pernah terlibat perang di Timur Tengah.

Trump mengakui keterlibatan militer AS dalam perang Irak di masa lalu merupakan kesalahan besar yang membawa dampak panjang bagi Washington.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News yang dikutip AlJazeera, Minggu (31/5), saat membahas negosiasi yang tengah berlangsung antara AS dan Iran.

"Kita melihat apa yang terjadi di Irak. Kita melakukan hal yang sangat buruk. Itu keputusan yang sangat bodoh. Seharusnya kita tidak berada di sana sejak awal," ujarnya.

Singgung Iran dan Serangan Pembom B-2

Trump juga menyinggung Iran dalam konteks yang sama. Ia mengatakan AS seharusnya tidak berada di Iran, tetapi berpendapat bahwa serangan militer AS pada Juni 2025 diperlukan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

"Kita seharusnya tidak berada di Iran, tetapi Iran memiliki kemampuan," ujarnya.

Trump lalu mengklaim serangan pembom siluman B-2 milik AS terhadap tiga fasilitas nuklir berhasil menghentikan ambisi nuklir Iran.

Citra satelit menunjukkan tampilan lebih dekat Fasilitas Nuklir Natanz dengan kerusakan bangunan baru, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, dekat Natanz, Iran, 2 Maret 2026. Foto:  Vantor/Handout via REUTERS
Citra satelit menunjukkan tampilan lebih dekat Fasilitas Nuklir Natanz dengan kerusakan bangunan baru, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, dekat Natanz, Iran, 2 Maret 2026. Foto: Vantor/Handout via REUTERS

"Jika kami tidak menyerang mereka dengan pembom B-2 saat itu, mereka akan memiliki senjata nuklir sekarang. Ceritanya akan sangat berbeda," kata Trump.

Menurutnya, jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir, dampaknya bisa mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah secara drastis.

Negosiasi Berjalan Tak Buru-buru

Sementara itu, negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu.

Meski pembicaraan belum mencapai kesepakatan final, Trump mengatakan dirinya tidak terburu-buru.

"Butuh waktu lama. Saya tidak terburu-buru," ujarnya.

"Kalau Anda terburu-buru, Anda tidak akan mendapatkan kesepakatan yang baik. Perlahan tapi pasti kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Jika tidak mendapatkannya, kami akan mengakhirinya dengan cara yang berbeda," lanjut Trump.

JD Vance berjabat tangan dengan pejabat Pakistan setibanya untuk pembicaraan perdamaian AS-Iran, disaksikan Asim Munir dan Mohammad Ishaq Dar di Islamabad, Sabtu (11/4/2026). Foto: Jacquelyn Martin/POOL/AFP
JD Vance berjabat tangan dengan pejabat Pakistan setibanya untuk pembicaraan perdamaian AS-Iran, disaksikan Asim Munir dan Mohammad Ishaq Dar di Islamabad, Sabtu (11/4/2026). Foto: Jacquelyn Martin/POOL/AFP

Ia menegaskan AS tetap mengutamakan jalur diplomatik, tetapi opsi militer masih terbuka apabila perundingan gagal.

"Kami akan membuat kesepakatan yang hebat. Jika tidak, kami akan kembali dan menyelesaikannya secara militer," kata Trump.

Dalam wawancara yang sama, Trump juga mengklaim AS sengaja tidak menghancurkan seluruh struktur militer Iran selama konflik berlangsung.

"Militer mereka pada dasarnya kami biarkan karena kami menganggap mereka cukup moderat. Ada pihak lain yang tidak moderat. Mereka yang kami targetkan," ujarnya.

Saat ini, salah satu isu utama yang masih dinegosiasikan adalah masa depan program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Buka sumber asli