News Berita

Tiga Sudut Pandang Institusi Melihat Peran Dosen

Bagaimana institusi memberikan sudut pandang dalam variasinya untuk menengok peran dosen, melihatnya sebagai pekerja, sebagai pegawai, atau sebagai profesional pendidikan. #userstory

Tiga Sudut Pandang Institusi Melihat Peran Dosen
Ilustrasi Peran Dosen (Sumber: https://www.freepik.com/free-vector/color-shadows-teacher-icons-set_4411507.htm#fromView=search&page=2&position=39&uuid=dcbe1cbc-7e2e-4518-af6a-aab2437f4012&query=lecturer+role)
Ilustrasi Peran Dosen (Sumber: https://www.freepik.com/free-vector/color-shadows-teacher-icons-set_4411507.htm#fromView=search&page=2&position=39&uuid=dcbe1cbc-7e2e-4518-af6a-aab2437f4012&query=lecturer+role)

Pergeseran paradigma perguruan tinggi di era modern telah memicu krisis identitas yang mendalam bagi para pendidik. Relasi struktural antara institusi dan dosen kini tidak lagi sekadar berlandaskan pada tridarma perguruan tinggi, melainkan tereduksi oleh tuntutan birokrasi dan komodifikasi pendidikan.

Dalam melihat dinamika struktural ini, kita dapat memetakan posisi dosen melalui tiga sudut pandang institusional yang saling bertolak belakang. Ketiga perspektif ini secara langsung menentukan apakah sebuah kampus masih berfungsi sebagai ruang inklusif produksi pengetahuan atau berubah menjadi pabrik ijazah. Oleh karena itu, penting untuk membedah bagaimana institusi mendefinisikan keberadaan dosen di tengah kepungan sistem yang semakin teknokratis.

​Pandangan pertama menempatkan dosen sebagai pekerja yang kebetulan memiliki tugas tambahan untuk mengajar di kelas. Dalam kerangka ini, institusi terjebak pada rasionalitas instrumental di mana dosen dinilai semata-mata dari kemampuannya memenuhi beban kerja administratif yang kaku.

Akibatnya, jam terbang kelas maupun riset sering dikorbankan demi pemenuhan borang akreditasi, pelaporan kinerja periodik, dan berbagai indikator kuantitatif lainnya. Mengajar dan meneliti kehilangan ruh intelektualnya karena dosen lebih difungsikan sebagai klerk birokrasi yang sibuk mengurus tumpukan dokumen pelaporan. Pada titik ini, identitas akademik memudar karena institusi lebih menghargai tingkat kepatuhan prosedural dibandingkan kedalaman eksplorasi keilmuan yang secara riil dihasilkan.

​Perspektif kedua menawarkan antitesis yang sangat ideal, yakni memandang dosen sebagai profesional pendidikan yang kebetulan berstatus pekerja. Pandangan ini memberikan ruang bagi otonomi akademik dan menempatkan dosen sebagai agen intelektual yang memegang tanggung jawab moral terhadap peradaban. Institusi yang menganut paradigma ini akan memposisikan dirinya sebagai fasilitator utama, bukan sekadar mandor yang mengawasi jam kerja buruhnya.

Dosen diberikan kebebasan penuh merancang ekosistem pembelajaran kritis, mengembangkan riset berdampak sosial, dan tidak dikekang oleh metrik yang dangkal. Hubungan kerja tetap profesional, namun ruh utamanya adalah kemitraan setara dalam merawat marwah ilmu pengetahuan di lingkungan kampus.

​Realitas di lapangan sering kali memunculkan pandangan ketiga yang jauh lebih timpa, di mana institusi melihat dosen murni sebagai pekerja subordinat yang harus siap menerima penugasan apa pun tanpa penolakan. Dalam relasi kuasa yang timpang ini, batas-batas profesionalisme menjadi kabur karena dosen kerap dibebani pekerjaan di luar ranah tridarma perguruan tinggi yang sebetulnya bukan kapasitas mereka.

Alih-alih dihargai sebagai mitra intelektual, mereka justru terjebak dalam kultur senioritas feodal yang memaksa mereka untuk menuruti segala instruksi tanpa ruang untuk bersuara. Ironisnya, kondisi ini mereduksi marwah seorang pendidik menjadi tak ubahnya asisten serabutan yang sekadar mengeksekusi kehendak struktural, mengorbankan waktu berharga yang seharusnya didedikasikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

​Tarik-menarik antara ketiga perspektif struktural tersebut pada akhirnya akan menentukan masa depan pendidikan tinggi kita hari ini. Apabila kampus terus-menerus mereduksi peran dosen menjadi sekadar pekerja atau instrumen birokrasi, maka kita sedang berjalan menuju kemerosotan intelektual.

Institusi pendidikan harus segera menyadari bahwa kualitas pembelajaran holistik hanya bisa dicapai melalui sistem yang benar-benar memanusiakan para pendidiknya. Mengembalikan muruah dosen sebagai profesional pendidikan sejati adalah sebuah keharusan mutlak jika kita masih menginginkan kampus sebagai mercusuar peradaban.

Buka sumber asli