Tidak Ada Kejahatan yang Sempurna: Kembalinya Otonomi Diri Elizabeth Smart
Diculik 9 bulan, tubuh Elizabeth Smart dijadikan ruang kekerasan. Bertahun-tahun kemudian, ia menjadikan tubuh yang sama sebagai cara merebut otonomi dan menolak "hanya" sebagai survivor. #userstory

Elizabeth Smart bukan sekadar nama dalam laporan penculikan yang mengguncang Amerika, melainkan juga perempuan yang menjalani hidup dengan cara terukur: ia berbicara pelan, seolah kata-kata itu lahir dari keheningan yang panjang; ia mengenang, tapi tak terhanyut, seakan ingatan itu merupakan daun kering yang melayang ringan di permukaan air.
Dalam sorot matanya yang teduh, tersimpan rahasia ketahanan—bagaimana seorang korban bisa bangkit, bukan dengan amarah yang membuncah, melainkan dengan getar sunyi yang membangun dunia baru dari puing-puing masa lalu.
Sembilan Bulan Tertawan
Pada dini hari 5 Juni 2002, ketika masih berusia 14 tahun, Elizabeth diculik dari kamar tidurnya di Salt Lake City oleh Brian David Mitchell dibantu Wanda Barzee, sepasang suami istri. Selama sembilan bulan, tubuhnya menjadi ruang di mana kekuasaan tanpa izin mengatur gerak, pakaian, dan ritme hidupnya.
Ia diselamatkan pada 12 Maret 2003 saat berjalan di State Street, Sandy, Utah, bersama para penculiknya: Sang Nabi palsu dan istrinya yang bengis. Meski tampak lelah dan ragu menyebutkan identitas aslinya karena takut, polisi mengenalinya sebagai Elizabeth Smart, sebuah titik balik di mana perlahan ia mulai menata kembali tubuhnya sebagai sesuatu yang ia jaga, bukan sekadar tempat luka melekat.
Dalam tradisi viktimologi, seorang korban sering digambarkan sebagai sosok yang terhenti di titik kejadian: menjadi contoh kasus yang selalu kembali ke trauma yang pernah menyergap. Elizabeth Smart, dalam banyak hal, memilih jalan lain: ia tidak menolak untuk mengenang, tetapi juga tidak membiarkan dirinya terjebak “hanya” sebagai penyintas.
Ia memilih berbicara, menceritakan pengalamannya, dan menjadi simbol bahwa seorang perempuan yang pernah kehilangan kendali atas tubuh dan hidupnya dapat kembali berdiri di ruang publik, bukan sebagai objek yang dilaporkan, melainkan sebagai subjek yang melawan dengan keanggunan. An empowered survivor, sebuah posisi yang tidak berarti ia melupakan kekerasan yang menimpanya, tetapi bahwa ia memilih untuk tidak tunduk dengan realita itu.
Setelah selamat dari penculikan, cara Elizabeth mendekati tubuhnya mulai terasa seperti perlawanan senyap terhadap ungkapan konvensional: “Your body is your vessel.” Tubuh yang pernah direnggut dan diatur dari luar kini ia kendalikan sepenuhnya—melalui disiplin latihan beban, pola makan tinggi protein ala atlet bodybuilder, hingga membawanya meraih gelar juara pertama kategori Fit Model Novice di NPC Wasatch Warrior pada April 2026. Ia tidak lagi membiarkan tubuhnya hanya menjadi tempat bekas kekerasan menempel, tetapi menjadikannya ruang di mana ia menegosiasikan ulang makna kuasa atas diri sendiri.
Foucault mengatakan, tubuh manusia bisa direkayasa menjadi docile body: dibentuk dan dikendalikan lewat kekuasaan, ritual, dan keteraturan yang terus-menerus dipaksakan dari luar. Elizabeth pernah merasakannya selama berbulan-bulan. Kini, ia menulis ulang narasi itu: tubuh yang dulu dipaksa patuh bertransformasi menjadi bidang di mana disiplin lahir dari dalam diri, sehingga tak lagi sepenuhnya docile terhadap kuasa luar.

Rahasia yang Diserap Waktu
Menelusuri kisah Elizabeth Smart, ada pelajaran yang kerap terlupa: tak ada kejahatan yang sempurna, sekalipun terasa begitu gelap dan tanpa celah bagi korban. Mitchell dan Barzee mungkin menyangka bisa menyembunyikan jejak selamanya di balik jubah agama dan ritual aneh, tapi akhirnya mereka jatuh bukan karena kebetulan, melainkan karena dunia yang tetap bekerja di bawah permukaan: foto yang beredar tanpa henti, ingatan yang tak padam, dan warga yang mengenali wajah mereka dari America's Most Wanted—sebuah acara TV pencarian buronan FBI.
Elizabeth bukan satu-satunya target Mitchell; ia sebelumnya mengincar saudara perempuannya, bahkan seorang gadis lain di masa lalu. Namun, hanya Elizabeth yang berhasil diculik dan dikuasai, sebelum kejahatan itu runtuh di hadapan penyelidikan yang konsisten dan keberanian masyarakat untuk bersuara.
Di depan hukum, Mitchell dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, sementara Barzee menerima 15 tahun penjara setelah mengaku bersalah, meski kemudian dibebaskan dalam situasi yang tetap kontroversial. Keduanya, pada akhirnya, tak bisa lari dari konsekuensi moral dan hukum atas kejahatan mereka.
“Tidak ada rahasia yang tak diserap kembali oleh waktu,” kata filsuf Prancis, Paul Ricoeur—dan dalam kisah Elizabeth Smart, kalimat itu terbukti: tubuh yang pernah dihantam kejahatan, direnggut kemerdekaannya, dan terperangkap dalam citra korban perlahan dijadikan vessel untuk melawan, sekaligus ruang merebut otonomi, menjadi suara yang memilih tak diam.
Elizabeth, tubuhnya, dan kisahnya—diceritakan dalam Bringing Elizabeth Home (2003) dan My Story (2013)—menunjukkan bahwa kejahatan mungkin bisa menang beberapa hari, beberapa bulan, atau bahkan beberapa dekade, tetapi tidak pernah menang selamanya sepanjang ada yang masih ingat, bersuara, dan menolak diam.