Tatapan sebagai Simbol Kerinduan
Perasaan rindu tidak selalu hadir melalui kata-kata. Dalam cerpen "Mata yang Tak Berkedip", tatapan menjadi simbol yang menggambarkan kerinduan, penantian, dan perasaan yang masih bertahan.

Tidak semua perasaan selalu hadir melalui kata-kata. Ada kalanya seseorang memilih diam, tetapi perasaannya justru terlihat melalui cara ia memandang sesuatu. Tatapan sering kali menyimpan makna yang lebih dalam daripada yang terlihat. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang merindukan sesuatu biasanya tidak selalu mengungkapkannya secara langsung. Ada yang memilih diam, ada yang menyimpannya dalam ingatan, dan ada pula yang tanpa sadar menunjukkannya melalui pandangan mata.
Hal tersebut terlihat dalam cerpen Mata yang Tak Berkedip karya Mulla Shandri. Cerpen ini tidak secara langsung menjelaskan perasaan tokohnya, tetapi menghadirkan simbol-simbol yang perlahan membangun emosi dalam cerita. Salah satu simbol yang cukup menonjol ialah tatapan. Tatapan dalam cerita tidak hanya menjadi bagian dari penggambaran tokoh, tetapi juga memperlihatkan adanya perasaan yang masih tertinggal.
Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa unsur-unsur dalam karya fiksi saling berkaitan untuk membentuk makna secara utuh. Artinya, hal-hal yang tampak sederhana dalam sebuah cerita sebenarnya dapat menyimpan pesan tertentu yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Simbol dalam karya fiksi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita, tetapi juga menjadi cara pengarang menyampaikan makna tanpa harus menjelaskannya secara langsung.
Hal tersebut terlihat dalam salah satu penggalan cerpen berikut:
"Di kejauhan, aku merasa lelaki bermata satu itu sedang menunggu dengan sabar."
Dari penggalan cerpen tersebut tidak hanya menunjukkan aktivitas menunggu secara biasa. Kata menunggu memperlihatkan bahwa tokoh masih menyimpan rasa rindu terhadap sesuatu yang belum selesai dalam hidupnya. Rasa rindu yang dimaksud bukan sekadar keinginan untuk bertemu kembali dengan seseorang, tetapi kerinduan terhadap jawaban atas pertanyaan yang belum pernah terselesaikan. Kesabaran tokoh dalam menunggu menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya melepaskan kenangan dan pertanyaan yang masih tertinggal di dalam pikirannya.
Perasaan tersebut semakin diperkuat melalui kutipan lain:
"Namun, selama aku masih mampu bertanya—meski tanpa jawaban—aku percaya cerita ini belum benar-benar selesai."
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh masih menyimpan keyakinan terhadap sesuatu yang belum berakhir. Harapan yang dipertahankan bukan sekadar menunggu kehadiran seseorang secara fisik, melainkan keinginan untuk menemukan makna dan jawaban dari sesuatu yang selama ini belum tuntas. Hal inilah yang membuat penantian tokoh terasa lebih dalam karena yang dipertahankan bukan sekadar seseorang, melainkan sesuatu yang masih memiliki arti di dalam hidupnya.
Hal menarik dari cerpen ini adalah pengarang tidak menjelaskan rasa rindu secara langsung. Pembaca justru diajak memahami perasaan tokoh melalui suasana dan simbol yang dibangun di dalam cerita. Cara seperti ini membuat pembaca memiliki ruang untuk memahami makna cerita dari sudut pandang masing-masing. Tatapan yang hadir di dalam cerita akhirnya tidak lagi dipahami hanya sebagai tindakan melihat, tetapi menjadi simbol yang memperlihatkan adanya kerinduan yang belum benar-benar selesai.
Pada akhirnya, kerinduan memang tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau kata-kata yang diucapkan secara terus terang. Ada perasaan yang tetap tinggal meskipun tidak pernah diungkapkan. Melalui tatapan, seseorang dapat menyimpan harapan, kenangan, bahkan pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Dari sinilah tatapan menjadi simbol yang menunjukkan bahwa tidak semua hal yang hilang benar-benar selesai begitu saja.