News Berita

Tahun Baru Hijriah dan Mimpi Menyatukan Waktu Umat

Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian kalender. Momentum hijrah mengajak umat memperbaiki diri, memperkuat persatuan, dan menata masa depan peradaban Islam. #userstory

Tahun Baru Hijriah dan Mimpi Menyatukan Waktu Umat
Ilustrasi Tahun Baru Hijriah. Foto: Generated by AI
Ilustrasi Tahun Baru Hijriah. Foto: Generated by AI

Setiap kali 1 Muharam tiba, umat Islam memasuki tahun yang baru. Namun berbeda dengan perayaan pergantian tahun Masehi yang identik dengan pesta kembang api dan hitung mundur, Tahun Baru Hijriah sering kali datang dalam suasana yang lebih hening.

Tidak banyak kemeriahan, tetapi justru di situlah letak maknanya. Tahun Baru Hijriah mengajak kita berhenti sejenak untuk melihat ke belakang, menilai perjalanan yang telah dilalui, lalu menentukan arah langkah berikutnya.

Kalender Hijriah lahir dari sebuah peristiwa yang mengubah sejarah dunia Islam: hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Menariknya, para sahabat tidak menjadikan kelahiran Nabi atau turunnya wahyu pertama sebagai awal penanggalan Islam. Mereka memilih hijrah. Pilihan itu menunjukkan bahwa perubahan memiliki posisi yang sangat penting dalam peradaban Islam.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah keberanian meninggalkan sesuatu yang menghambat untuk menuju sesuatu yang lebih baik. Karena itu, setiap pergantian tahun Hijriah sesungguhnya merupakan pengingat bahwa hidup selalu menyediakan ruang untuk memperbaiki diri.

Ilustrasi berdoa. Foto: Shutterstock
Ilustrasi berdoa. Foto: Shutterstock

Namun lebih dari empat belas abad setelah peristiwa hijrah, umat Islam masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah bagaimana membangun persatuan di tengah keberagaman pandangan yang begitu luas.

Setiap tahun, masyarakat hampir selalu menunggu pengumuman resmi tentang awal Ramadan, Idulfitri, atau Iduladha. Tidak jarang muncul perbedaan penetapan tanggal di berbagai negara, bahkan di dalam satu negara yang sama. Sebagian orang menganggapnya sebagai hal biasa. Sebagian lainnya melihatnya sebagai pekerjaan rumah yang belum selesai dalam kehidupan umat Islam modern.

Di tengah perkembangan teknologi yang memungkinkan manusia mengirim pesan ke belahan dunia lain dalam hitungan detik, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: Mungkinkah umat Islam suatu hari memiliki kalender yang sama?

Pertanyaan itulah yang melahirkan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Gagasan ini menawarkan konsep sederhana tetapi strategis, yakni satu hari dan satu tanggal bagi seluruh umat Islam di dunia. Dengan dukungan ilmu astronomi modern yang semakin akurat, kalender Islam diharapkan dapat disusun secara global, sebagaimana kalender Masehi yang saat ini digunakan hampir di seluruh dunia.

Ilustrasi agama Islam. Foto: Shutterstock
Ilustrasi agama Islam. Foto: Shutterstock

Tentu saja jalan menuju kesepakatan tidak mudah. Perbedaan pandangan mengenai metode penetapan awal bulan merupakan bagian dari tradisi intelektual Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad. Karena itu, KHGT tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis astronomi. tetapi juga menyentuh aspek fikih, sejarah, dan dinamika sosial keagamaan yang kompleks.

Namun terlepas dari berbagai perdebatan tersebut, ada satu hal yang patut diapresiasi: semangat untuk mencari titik temu. Sebab yang sedang dibicarakan sesungguhnya bukan hanya soal tanggal, melainkan juga tentang bagaimana umat Islam membangun kesepahaman di tengah keragaman.

Pemikir Muslim besar, Ibnu Khaldun, pernah menjelaskan bahwa kekuatan suatu peradaban bertumpu pada kemampuan masyarakatnya membangun solidaritas dan keteraturan sosial. Peradaban besar tidak lahir karena semua orang memiliki pandangan yang sama, tetapi karena mereka mampu menyepakati hal-hal mendasar yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Kalender adalah salah satu fondasi itu. Ia bukan sekadar alat untuk mengetahui tanggal, melainkan juga simbol keteraturan, perencanaan, dan kebersamaan. Karena itulah, diskusi tentang kalender Islam global sesungguhnya merupakan bagian dari diskusi yang lebih besar tentang masa depan peradaban umat.

Ilustrasi kalender tanggal merah. Foto: Shutterstock/Yavdat
Ilustrasi kalender tanggal merah. Foto: Shutterstock/Yavdat
Perbedaan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya hilang. Namun peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang selalu sepakat dalam segala hal, tetapi oleh mereka yang terus mencari titik temu di tengah perbedaan.

Menyambut 1 Muharam 1448 Hijriah, pertanyaan terpenting bukanlah "Apakah seluruh umat Islam sudah memiliki kalender yang sama?" Pertanyaan yang lebih penting adalah "Apakah kita sudah memiliki semangat yang sama untuk terus bergerak menuju keadaan yang lebih baik?"

Sebab, hijrah yang sesungguhnya tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah kualitas. Dari sikap saling menyalahkan menuju budaya dialog. Dari kebiasaan mengeluh menuju semangat berkarya. Dari sekadar mewarisi sejarah menuju keberanian menciptakan sejarah baru.

Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah. Semoga tahun yang baru ini tidak hanya menambah usia kalender, tetapi juga menambah kedewasaan berpikir, keluasan wawasan, dan kekuatan persaudaraan umat dalam menghadapi tantangan zaman.

Buka sumber asli