Tahap Pelaksanaan Program IVF
Ini tahap-tahap penting yang menentukan kesuksesan program bayi tabung (IVF), Moms. #momsupdate #update #mom #text

Moms, apakah Anda dan suami sedang menjajaki program in-vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung? Ya, IVF merupakan salah satu terapi infertilitas yang dalam beberapa tahun terakhir ini semakin populer dan banyak diminati di Indonesia.
Wamenkes Dante Saksono menyebut, berdasarkan data Kemenkes, jumlah pasangan pengguna IVF sebanyak 36 ribu pada 2024, meningkat cukup tinggi dari sebelumnya sebanyak 23 ribu pasangan pada 2021.
Nah agar lebih mudah memahami bagaimana tahapan IVF dan lebih bisa mempersiapkan diri, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini, Moms.
Tahapan Program IVF (Bayi Tabung)

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Dr. dr. Ivan Rizal Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, Sp.OG, menjelaskan, sebelum memulai program IVF, dokter akan menjelaskan mulai dari persiapan hingga apa saja yang perlu dilakukan.
Pasien juga disarankan menjalani hidup sehat agar kualitas sperma dan sel telurnya baik sehingga program IVF berjalan lancar. Berikut tahapan yang dilakukan:
1. Evaluasi, konseling & edukasi
Pasangan akan menjalani evaluasi menyeluruh bersama dokter untuk memahami kondisi, harapan, serta kesiapan fisik dan mental, meliputi:
Pemeriksaan kondisi fisik & hormonal, meliputi:
Screening pra-kehamilan
Tes cadangan sel telur (ovarian reserve)
Analisa sperma
Sesi konseling bersama klinisi
Edukasi lengkap tentang proses IVF
2. Stimulasi: Merangsang folikel agar berkembang bersama

Pada siklus haid normal, hanya satu sel telur yang terpilih berkembang (monoovulasi). Dalam IVF, suntikan stimulasi diberikan agar 10–15 folikel bisa berkembang sekaligus.
Durasi suntikan: 8 – 12 hari
Target folikel: 10 – 15 folikel
"Suntikan bisa dilakukan secara mandiri oleh pasien di rumah," ujar dr Ivan kepada kumparanMOM.
3. Pemantauan dan Pengambilan Sel Telur
Selama stimulasi, dokter memantau perkembangan folikel secara berkala. Saat sudah siap, pasien menjalani tindakan Ovum Pick Up (OPU) atau pengambilan sel telur.
Tindakan yang dilakukan:
Pemantauan rutin pertumbuhan folikel
OPU dengan sedasi/anestesi ringan
Durasi tindakan: 15 – 30 menit
4. Fertilisasi: Proses pembuahan di laboratorium embriologi
Sel telur yang berhasil dipetik dibuahi dengan sperma di laboratorium. Embrio yang terbentuk dipantau selama ±5 hari hingga mencapai stadium blastokista — saat terbaik untuk evaluasi kualitasnya.
Dokter akan menentukan embrio mana yang paling layak untuk ditransfer.
5. Transfer Embrio

Ada dua opsi berdasarkan kondisi pasien:
Fresh transfer — embrio langsung ditanam pada siklus yang sama atau 2 bulan kemudian dan dilakukan pemantauan selaput rahim. Tes kehamilan dilakukan sekitar 2 minggu setelahnya.
Frozen transfer — embrio dibekukan dan ditransfer kapan pun pasien dan dokter siap, tanpa mengulang proses dari awal. Embrio beku dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat panjang.
“Pada tahap ini, dokter juga dapat mendiskusikan opsi untuk melakukan evaluasi kromosom melalui pemeriksaan yang disebut Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A),” kata dokter yang praktik di RS Bunda Menteng, Jakarta Pusat, ini.
Apa Itu PGT-A?
Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGT-A) adalah pemeriksaan opsional untuk menilai kondisi kromosom embrio sebelum ditransfer.
Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil biopsi yang diambil saat embrio mencapai stadium blastokista, kemudian sampel dikirim ke laboratorium genomik.