Swasembada Pangan Hari Ini, Siapa yang Menjaga Besok?
Keberhasilan swasembada beras patut diapresiasi. Namun, keberlanjutannya tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh generasi yang akan melanjutkannya.

Belakangan ini, swasembada pangan kembali menjadi topik yang banyak dibicarakan. Berbagai capaian produksi dan peningkatan hasil panen mendapat perhatian luas. Salah satunya adalah keberhasilan swasembada beras yang diumumkan oleh Presiden Prabowo dalam panen raya di Karawang pada tanggal 7 Januari 2026. Di tengah ketidakpastian pangan global, capaian tersebut tentu menjadi kabar yang menggembirakan.
Namun, ketika berbicara tentang swasembada pangan, perhatian sering kali tertuju pada apa yang berhasil dicapai hari ini. Sementara itu, muncul pertanyaan lain: bagaimana memastikan capaian tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat visi Indonesia Emas 2045. Dalam berbagai dokumen perencanaan pembangunan nasional, ketahanan dan kemandirian pangan ditempatkan sebagai salah satu fondasi penting untuk mendukung kemajuan bangsa. Di waktu yang sama, Kementerian PPN/Bappenas memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 324 juta jiwa pada tahun 2045. Artinya, kebutuhan pangan nasional juga akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.
Di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat, sektor pertanian Indonesia juga menghadapi tantangan yang sangat penting, yaitu regenerasi pelaku usaha pertanian. Hasil Sensus Pertanian 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa mayoritas pengelola usaha pertanian perorangan masih berasal dari Generasi X dan Baby Boomer. Sementara itu, proporsi Generasi Z hanya sekitar 2,14 persen dari total pengelola usaha pertanian perorangan di Indonesia.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan swasembada pangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang akan melanjutkannya. Sebab, keberhasilan memenuhi kebutuhan pangan nasional bukan hanya ditentukan oleh apa yang dapat dicapai hari ini, melainkan juga oleh siapa yang akan mengelola dan mempertahankannya pada masa mendatang.
Rendahnya keterlibatan generasi muda di sektor pertanian tentu tidak terjadi tanpa alasan. Selama ini, pertanian masih sering dipandang sebagai sektor yang identik dengan pekerjaan fisik yang berat, penghasilan yang tidak menentu, serta peluang karier yang terbatas. Di sisi lain, banyak generasi muda lebih tertarik dengan profesi di bidang teknologi, bisnis, atau industri kreatif yang dinilai lebih menjanjikan dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Padahal, sektor pangan saat ini telah berkembang jauh melampaui pandangan tersebut. Perkembangan teknologi serta digitalisasi pertanian membuka berbagai peluang baru yang tidak selalu identik dengan pekerjaan di sawah. Sayangnya, perubahan ini belum sepenuhnya dikenal oleh banyak generasi muda. Akibatnya, sektor pangan sering kali kalah menarik bukan karena tidak memiliki masa depan, melainkan karena peluang yang dimilikinya belum banyak terlihat.
Dalam konteks tersebut, pembahasan mengenai swasembada pangan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi dan pencapaian target jangka pendek. Keberhasilan swasembada pada akhirnya juga bergantung pada kemampuan menyiapkan generasi yang akan melanjutkan, mengembangkan, dan menjaga sektor pangan di masa depan. Tanpa regenerasi yang berjalan dengan baik, berbagai capaian yang berhasil diraih hari ini berisiko menghadapi tantangan keberlanjutan di kemudian hari.
Keberhasilan swasembada beras yang dirayakan saat ini tentu layak di apresiasi. Namun, ketika Indonesia menghadapi tahun 2045 dengan kebutuhan pangan yang semakin besar, tantangan yang dihadapi tidak hanya soal meningkatkan produksi. Pada akhirnya, swasembada pangan bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan pangan untuk hari ini, tetapi juga tentang memastikan bahwa akan selalu ada generasi yang siap menjaga keberlanjutannya di masa depan.