Sugiono Respons Dino: Semua Saran dan Kritik Itu Bagus dan Baik
Sugiono Respons Dino: Semua Saran dan Kritik Itu Bagus dan Baik #newsupdate #update #news #text

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Sugiono menanggapi berbagai kritik dan saran terkait politik luar negeri yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto. Termasuk yang datang dari mantan Wamenlu Dino Patti Djalal beberapa waktu lalu terkait intensitas kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri.
Sugiono berterima kasih untuk saran dan kritik tersebut. Ia menyatakan tiap saran dan kritik yang bertujuan untuk perbaikan itu baik asal didasari fakta dan data yang akurat.
“Saya kira semua saran, semua kritik dalam langkah perbaikan itu bagus, baik. Tentu saja harus konstruktif, tentu saja juga harus berdasarkan pada fakta-fakta dan data-data yang akurat,” ucap Sugiono di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Rabu (3/6).
Sugiono menjelaskan, Presiden Prabowo selama ini menjalankan mandat yang tersurat dalam konstitusi UUD 1945 bahwa Indonesia adalah bagian dari pergaulan internasional. Maka itu, untuk menjalankan amanat tersebut, Indonesia harus hadir dalam pergaulan internasional.
“Indonesia merupakan bagian dari pergaulan internasional, bagian dari masyarakat dunia dan ini menuntut suatu kehadiran di dunia internasional,” ucapnya.
Sejak awal menjabat, lanjut Sugiono, Presiden Prabowo memegang prinsip seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Indonesia tetap menjadi negara yang netral atau tidak berpihak ke poros manapun.
Hal itu diimplementasikan dengan kehadiran Indonesia di banyak tempat. Sugiono mengatakan Indonesia perlu melakukan itu karena dalam berprinsip berkawan dengan semua.
“Kita harus berkawan dengan semuanya, istilahnya kan kita harus gaul dan semua itu direncanakan dengan baik, semua itu didahului oleh diskusi diplomatik yang baik. Jadi Presiden menentukan, kita kasih saran, substansi-substansi dan prioritas yang perlu dibahas,” ucapnya.
Sugiono menyampaikan bahwa kondisi global saat ini sedang dalam keadaan yang tidak biasa. Oleh karena itu, tidak selalu bisa menjalankan diplomasi dengan cara yang biasa.
“Terkait juga dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi saat ini, yang tidak bisa mengikuti jalur-jalur konvensional karena situasinya juga tidak biasa. Timur Tengah perang, banyak juga beberapa titik di dunia ini yang panas,” ucapnya.
Pertemuan langsung antar kepala negara atau kepala pemerintahan, menurut Sugiono, perlu dilakukan. Kedekatan personal antar kepala pemerintahan bisa terbangun melalui pertemuan langsung yang berimplikasi juga pada hubungan baik antarnegara.
“Sama seperti kita juga kan. Kalau telepon-telepon saja kan beda dengan bertemu langsung. Kita bisa melihat bahasa tubuh, ada kedekatan personal. Dari situ kita bisa berbicara mengenai hal yang lebih banyak. Intinya itu,” ucap Menlu.