Sugiono Bertemu Menlu Filipina, Bahas Ekonomi hingga Geopolitik
Sugiono Bertemu Menlu Filipina, Bahas Ekonomi hingga Geopolitik #newsupdate #update #news #text

Menteri Luar Negeri Sugiono menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis (22/4). Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama kedua negara, mulai dari sektor ekonomi hingga isu geopolitik global.
Dalam konferensi pers bersama, Sugiono menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Filipina mencerminkan kemitraan erat sebagai sesama negara kepulauan dan pendiri ASEAN.
"Pertemuan kita hari ini mencerminkan kemitraan yang kuat antara Indonesia dan Filipina sebagai tetangga dekat, negara kepulauan, dan juga sebagai anggota pendiri ASEAN," kata Sugiono.

Ia menambahkan, fokus utama pembahasan adalah memastikan kerja sama bilateral yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara, sekaligus memperkuat peran ASEAN di tengah dinamika global.
"Diskusi kita berfokus pada satu tujuan, yaitu memastikan bahwa kerja sama bilateral kita memberikan manfaat nyata bagi rakyat kita. Dan karena Filipina memegang kepemimpinan ASEAN tahun ini, Indonesia juga menegaskan kembali dukungan penuh dan komitmen bersama kita untuk memperkuat persatuan dan sentralitas ASEAN di tengah meningkatnya ketidakpastian dan tantangan regional," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Sugiono menuturkan keduanya juga membahas langkah konkret untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis.
"Sahabat-sahabat, hari ini kita membahas langkah-langkah konkret untuk lebih memperkuat kerja sama bilateral kita di berbagai sektor strategis utama. Mengenai kerja sama ekonomi, kami sepakat untuk memperkuat kolaborasi, antara lain, dalam penyelesaian mata uang lokal, sistem pembayaran QR yang lebih kuat, dan konektivitas yang lebih baik antara kota-kota perbatasan seperti Manado, Bitung, Davao, dan General Santos," ucap dia.
Selain ekonomi, Sugiono menuturkan, kerja sama di sektor energi juga menjadi perhatian utama, mengingat kedua negara merupakan produsen nikel besar dunia.
"Kerja sama energi juga tetap menjadi prioritas strategis kami. Sebagai dua produsen nikel terbesar di dunia, kami menyambut baik kemajuan kemitraan mineral penting, termasuk aliansi nikel untuk membangun rantai pasokan global yang tangguh," terang Sugiono.
Di bidang politik dan keamanan, Sekjen Partai Gerindra itu menegaskan kedua negara sepakat memperkuat kerja sama maritim serta pengelolaan perbatasan.
"Dalam kerja sama politik dan keamanan, kami membahas dan sepakat untuk memperkuat kerja sama maritim, meningkatkan manajemen perbatasan, dan mempercepat diskusi tentang penetapan batas landas kontinen berdasarkan hukum internasional," imbuhnya.
Lebih lanjut, kedua menteri turut bertukar pandangan terkait isu regional dan global, termasuk situasi di Laut Cina Selatan dan Myanmar.
"Kami juga menekankan pentingnya proses politik inklusif di Myanmar, dukungan untuk perdamaian jangka panjang, stabilitas regional, dan bantuan kemanusiaan," kata Sugiono.
Terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah, Sugiono menuturkan, Indonesia dan Filipina menilai gencatan senjata menjadi langkah penting untuk mencegah eskalasi konflik.
"Mengenai dinamika geopolitik di Timur Tengah, kami berdua percaya bahwa gencatan senjata saat ini merupakan langkah penting untuk mencegah eskalasi yang lebih luas. Bagi negara-negara seperti Indonesia dan Filipina, stabilitas di Teluk sangat penting karena setiap gangguan akan memengaruhi keamanan energi, rantai pasokan, dan ketahanan ekonomi di kawasan kita," ujar dia.
Selain itu, Sugiono menegaskan, kedua negara juga menegaskan dukungan terhadap penyelesaian konflik Palestina melalui solusi dua negara.
"Dan pada saat yang sama, kami percaya bahwa perdamaian dan stabilitas yang langgeng di Timur Tengah tidak dapat dicapai tanpa keadilan bagi Palestina juga, dan kami berdua percaya bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya solusi untuk masalah ini," tandasnya.