News Berita

Studi: Terlalu Sering Bantu Anak Bisa Membuatnya Lebih Berisiko Depresi

Ingat, Moms, tugas orang tua mendampingi anak, bukan mengambil alih penyelesaian masalahnya. #momsupdate #update #mom #text

Studi: Terlalu Sering Bantu Anak Bisa Membuatnya Lebih Berisiko Depresi
Ilustrasi anak marah. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi anak marah. Foto: Shutter Stock

Sebagai orang tua, wajar kalau Anda ingin selalu ada untuk anak—membantu, melindungi, dan memastikan semuanya berjalan baik. Tapi, bagaimana jika niat baik itu justru berdampak sebaliknya?

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa terlalu banyak membantu anak, atau yang dikenal sebagai overparenting, bisa berpengaruh pada kesehatan mental mereka, bahkan hingga dewasa.

Apa Itu Overparenting?

Overparenting adalah pola pengasuhan ketika orang tua terlalu sering terlibat dalam kehidupan anak—mulai dari mengambil alih masalah mereka, mencegah anak menghadapi kesulitan, hingga terlalu mengontrol keputusan sehari-hari.

Sekilas terlihat seperti bentuk kasih sayang. Tapi dalam jangka panjang, ini bisa membatasi ruang anak untuk belajar dan berkembang.

Riset soal Overparenting

Meta-analisis yang dilakukan para peneliti dari Shanghai Normal University, China, menggabungkan 44 studi dengan lebih dari 21.000 partisipan menemukan pola yang cukup konsisten.

Anak-anak yang dibesarkan dengan tingkat overparenting yang tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami kecemasan, depresi, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya.

Menariknya, hubungan ini menjadi semakin kuat seiring bertambahnya usia anak, terutama saat mereka memasuki masa remaja hingga dewasa awal.

Artinya, dampaknya mungkin tidak langsung terlihat saat anak masih kecil, tetapi bisa muncul lebih jelas di kemudian hari.

Kenapa Terlalu Banyak Dibantu Justru Jadi Masalah bagi Anak?

Ilustrasi anak di bully. Foto: imtmphoto/Shutterstock
Ilustrasi anak di bully. Foto: imtmphoto/Shutterstock

Ketika anak terlalu sering “diselamatkan” dari masalah, mereka kehilangan kesempatan penting untuk belajar:

* mengambil keputusan

* menyelesaikan masalah

* menghadapi konsekuensi

Padahal, kemampuan-kemampuan ini adalah fondasi penting untuk menjadi individu yang mandiri.

Akibatnya, saat menghadapi tantangan di dunia nyata, anak bisa merasa kewalahan. Mereka mungkin lebih mudah cemas, kurang percaya diri, dan tidak yakin dengan kemampuan dirinya sendiri.

Anak Butuh Tantangan (dalam batas aman)

Dalam psikologi, ada konsep bahwa anak membutuhkan tiga hal utama untuk berkembang dengan sehat:

  • otonomi (merasa punya kendali atas diri sendiri)

  • kompetensi (merasa mampu)

  • relasi (merasa terhubung dengan orang lain)

Overparenting bisa menghambat dua hal pertama—autonomi dan kompetensi—karena anak jarang diberi kesempatan untuk mencoba sendiri.

Padahal, menghadapi tantangan kecil sehari-hari justru membantu anak membangun daya tahan mental.

Jadi, Harus Bagaimana?

Mendampingi anak tetap penting. Tapi ada perbedaan antara mendampingi dan mengambil alih.

Alih-alih langsung turun tangan, Anda bisa mulai dengan:

* memberi anak kesempatan mencoba dulu

* membiarkan mereka membuat kesalahan kecil

* hadir sebagai pendukung, bukan “penyelamat”

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan hanya melindungi anak hari ini, tapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi hidup di masa depan.

Buka sumber asli