News Berita

Spirit Haji dan Qurban: Jalan Menyembelih Ego Manusia

Haji dan Qurban ibadah fenomenal berakar sejak era nabi ibrahim hingga kini, ia menjadi puncak penyerahan diri kepada Tuhan.

Spirit Haji dan Qurban: Jalan Menyembelih Ego Manusia
Ilustrasi Jemaah Haji. Foto: SAMAREEN/Shutterstock
Ilustrasi Jemaah Haji. Foto: SAMAREEN/Shutterstock

Setiap musim haji dan Idul Adha tiba, umat Islam kembali diingatkan bahwa agama ini tidak dibangun semata oleh ritual, tetapi oleh pengorbanan, kepasrahan, dan perjuangan melawan ego manusia. Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah, dan qurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Di balik seluruh ritual itu terdapat pesan besar tentang bagaimana manusia menyerahkan dirinya secara total kepada Allah Swt.

Al-Quran menegaskan:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menjadi inti dari spirit qurban dan haji. Tuhan tidak membutuhkan darah, tidak membutuhkan daging, tidak membutuhkan persembahan materi. Yang diuji adalah keikhlasan manusia: apakah ia mampu melepaskan keterikatannya pada ego, ambisi, ketakutan, dan kepentingan duniawi.

Syariat haji sendiri telah berakar jauh sejak era Nabi Ibrahim AS, sekitar ribuan tahun sebelum masehi. Tradisi besar ini dimulai dari kisah keluarga kecil di tengah padang tandus. Ibrahim yang lama tidak memiliki anak akhirnya dianugerahi Ismail. Namun justru setelah kebahagiaan itu hadir, Allah memerintahkannya membawa Hajar dan Ismail ke lembah tandus yang tidak memiliki kehidupan.

Ilustrasi dibuat dari grok
Ilustrasi dibuat dari grok

Di sanalah jejak spiritual haji dimulai. Ketika, Hajar berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk anaknya. Dari kepasrahan dan perjuangannya lahirlah air Zamzam. Ibrahim kemudian diperintahkan membangun Ka’bah, yang saat itu hanyalah tumpukan batu di tengah padang pasir, tetapi kelak menjadi titik pertemuan manusia dari berbagai bangsa dan peradaban.

Ilustrasi Perjalanan Hajar dari Shafa dan Marwa yang kini menjadi rukun haji, sa'i dibuat dengan grok
Ilustrasi Perjalanan Hajar dari Shafa dan Marwa yang kini menjadi rukun haji, sa'i dibuat dengan grok
Allah SWT mengajarkan yang diziarahi bukanlah kemegahan bangunan, indahnya alam tapi justru warisan nilai luhur dan pembuktian iman

Puncak ujian itu datang ketika Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya sendiri. Perintah itu begitu dahsyat, melampaui nalar manusia biasa. Ibrahim memastikan bahwa itu benar-benar perintah Tuhan. Ketika ia menyampaikan kepada Ismail, sang anak justru meminta ayahnya patuh kepada Allah. Maka keduanya berjalan menuju puncak kepasrahan: seorang ayah yang rela kehilangan anaknya demi Tuhan, dan seorang anak yang rela menyerahkan hidupnya demi ketaatan.

Namun ketika pisau itu menyentuh leher Ismail, Allah menggantinya dengan seekor domba.

Di sinilah letak pesan agung kurban.

Bahkan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Mulia sendiri mengajarkan bahwa tak setetes darah dan nyawa manusia pun layak dipersembahkan pada Nya.

Ironisnya, sejarah dunia justru berkali-kali dipenuhi darah manusia yang ditumpahkan demi ambisi duniawi. Perang, kolonialisme, perebutan sumber daya, kekuasaan, bahkan atasnama agama yang ujungnya berbalut dengan arogansi identitas dan kebanggaan kelompok telah mengorbankan jutaan nyawa manusia. Manusia rela menyembelih sesamanya demi uang, kekuasaan, tanah, bahkan demi gengsi dan nafsu syahwatnya.

Melalui syariat qurban mengajarkan sebaliknya: yang harus disembelih pertama kali adalah ego manusia itu sendiri.

Penyempurnaan dan pemurnian Syariat Haji

Ketika Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, Ka’bah telah menjadi pusat ziarah besar berbagai bangsa. Tradisi Ibrahim masih diwarisi, tetapi mengalami distorsi panjang. Jalan spiritual berubah menjadi sarana pencarian duniawi. Haji menjadi ruang prestise sosial, bahkan semacam “pesugihan global” di jazirah Arab.

Kaum bangsawan dan tokoh agama dijadikan simbol-simbol sakral bak dewa kecil. Nama-nama seperti Latta, Uzza, dan Manat bukan sekadar berhala batu, melainkan representasi tokoh dan simbol genealogis yang dianggap memiliki kedekatan dengan kekuatan ilahi. Bangsa Quraisy merasa memiliki status istimewa sebagai pewaris Ka’bah dan bangsa pilihan.

Ilustrasi kabah yang dipenuhi berhala era sebelum Futhuh Makah, dibuat dengan grok
Ilustrasi kabah yang dipenuhi berhala era sebelum Futhuh Makah, dibuat dengan grok

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Arab. Dalam sejarah bangsa Yahudi misalnya, muncul keyakinan tentang “umat pilihan” yang kadang berkembang menjadi superioritas identitas. Di era modern, Nazi Jerman dengan mitos ras Arya juga membangun keyakinan tentang manusia unggul yang akhirnya melahirkan jutaan korban jiwa. Ketika nilai-nilai spiritualitas berubah menjadi alat superioritas, lahirlah penindasan.

Karena itu risalah Nabi Muhammad SAW hadir sebagai pemurnian risalah Ibrahim: mengembalikan tauhid sebagai jalan pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Tuhan. Ka’bah dibersihkan dari simbol-simbol kesombongan manusia, dan haji dikembalikan menjadi jalan kesetaraan universal.

Dalam ihram, manusia kehilangan seluruh identitas duniawinya. Tidak ada pembeda antara raja dan rakyat, kaya dan miskin, pejabat dan buruh. Semua mengenakan kain putih sederhana, berjalan bersama, thawaf bersama, berdoa bersama, dan kelak akan mati dengan kain serupa.

Ada istilah filosofis tarekat "Mati sebelum mati, membunuh ego dan identitas dan hanya menautkan penyerahan diri pada Sang Pencipta"

Menariknya, syariat haji baru benar-benar dijalankan secara penuh setelah Fathu Makkah. Sebelumnya, Makkah masih dikuasai Quraisy yang memusuhi kaum Muslimin. Nabi Muhammad SAW bahkan pernah mencoba melakukan haji damai tetapi dihalangi hingga lahir Perjanjian Hudaibiyah.

Baru setelah pembebasan Makkah, Nabi melaksanakan Haji Wada’, haji perpisahan yang menjadi puncak penyempurnaan syariat Islam. Secara filosofis, hal ini menunjukkan bahwa haji bukan ritual awal, melainkan puncak perjalanan spiritual dan sosial manusia. Ia bukan sekadar ibadah individual, tetapi simbol kematangan peradaban Islam.

Menjadi Manusia Haji

Pemikir Iran, Ali Shariati, menggambarkan haji sebagai perjalanan transformasi manusia. Menurutnya, manusia haji adalah manusia yang meninggalkan seluruh topeng sosialnya untuk kembali menjadi makhluk yang otentik di hadapan Tuhan.

Ihram, dalam pandangan Shariati, adalah penanggalan status-status palsu manusia. Thawaf adalah simbol bahwa hidup harus berpusat kepada Tuhan, bukan kepada ego dan materi. Sa’i menggambarkan perjuangan tanpa putus asa sebagaimana Hajar mencari air di padang tandus. Wukuf di Arafah adalah momentum manusia mengenali dirinya sendiri. Sedangkan melempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap segala bentuk setan: keserakahan, ketakutan, kekuasaan, dan egoisme.

Manusia haji adalah manusia yang pulang dengan kesadaran baru: bahwa hidup bukan tentang menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan dirinya sendiri.

Dalam sejarah modern, haji juga menjadi ruang pertukaran gagasan global umat Islam. Pada masa kolonialisme, Makkah dan Madinah menjadi titik pertemuan ulama, pedagang, aktivis, dan pejuang dari berbagai negeri. Dari sana lahir semangat anti-kolonialisme.

Banyak saudagar dan bahkan utusan sultan dari kerajaan Islam Nusantara bahkan mewakafkan tanah dan membangun pemondokan bagi jemaah haji dan kaum perantau yang bermukim di Haramain. Haji menjadi ruang pendidikan, konsolidasi politik, sekaligus penyebaran gagasan pembebasan.

Ilustrasi Para Haji dan Spirit anti Kolonialisme, dibuat dengan Grok
Ilustrasi Para Haji dan Spirit anti Kolonialisme, dibuat dengan Grok

Hal ini tergambar jelas dalam penelitian mendalam Tokoh kolonial Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje, menyadari potensi besar ini. Karena itu pemerintah kolonial mulai melakukan pengawasan ketat terhadap jamaah haji Nusantara. Label “haji” awalnya bahkan lebih dekat sebagai kategori administrasi pengawasan kolonial dibanding gelar prestise.

Namun karena para haji pulang dengan ilmu, pengalaman global, dan ketokohan sosial, lama-kelamaan gelar itu berubah menjadi simbol kehormatan yang muncul secara alamiah di masyarakat yang berbeda sama sekali dengan makna peyoratif dari pemerintah kolonial.

Hari ini, realitas haji semakin kompleks. Ia bersentuhan dengan biaya mahal, antrean panjang, kuota dan kebijakan negara, dan kemampuan finansial. Ada dimensi ekonomi dan administratif yang tak terhindarkan.

Namun di balik seluruh kompleksitas itu, haji tetap menyimpan rahasia spiritualnya sendiri. Banyak orang dipanggil berhaji melalui jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Ada yang tiba-tiba mendapat rezeki, ada yang memperoleh undangan, ada yang dipermudah setelah bertahun-tahun menunggu. Seolah Allah tetap menunjukkan bahwa rumah-Nya bukan semata soal kemampuan manusia, tetapi juga soal panggilan spiritual.

Begitu pula halnya qurban. Ia bukan lomba gengsi tentang siapa yang membeli hewan paling mahal. Bukan pula sekadar tradisi sosial tahunan. Qurban adalah latihan untuk memotong sifat rakus, sombong, dan keterikatan berlebihan pada dunia.

Daging qurban memang memberi manfaat sosial bagi fakir miskin dan dhuafa. Itu penting. Tetapi makna terdalamnya tetap bersifat spiritual: manusia belajar memberikan sesuatu yang dicintainya sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

Karena pada akhirnya, inti dari haji dan qurban bukan perjalanan menuju Ka’bah atau persembahan hewan sembelihan semata. Melainkan, sebuah perjalanan spiritual manusia menuju ketulusan.

Dan mungkin, di zaman ketika manusia modern begitu mabuk pada pencitraan, kekuasaan, dan materi, spirit Ibrahim justru menjadi semakin relevan: bahwa kemenangan terbesar manusia bukan ketika menguasai dunia, melainkan ketika berhasil menyembelih ego dalam dirinya sendiri, sebagaimana pesan Nabi Muhammad ketika pulang dari perang badar

Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri / hawa nafsu (Jihadun Nafs)
Buka sumber asli