News Berita

Setahun Sekolah Rakyat, Gus Ipul Tekankan Pendidikan Berbasis Data dan Empati

Mensos Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak yang sebelumnya berada dalam situasi sosial rentan.

Setahun Sekolah Rakyat, Gus Ipul Tekankan Pendidikan Berbasis Data dan Empati
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) didampingi Wamensos Agus Jabo menggelar Zoom Meeting bersama kepala Sekolah Rakyat (SR), tenaga pendidik, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Kemensos, Senin (4/5/2026).  Foto: Dok. Kemensos
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) didampingi Wamensos Agus Jabo menggelar Zoom Meeting bersama kepala Sekolah Rakyat (SR), tenaga pendidik, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Kemensos, Senin (4/5/2026). Foto: Dok. Kemensos

Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menggelar Zoom Meeting bersama kepala Sekolah Rakyat (SR), tenaga pendidik, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Kemensos, Senin (4/5/2026). Pertemuan ini digelar dalam rangka persiapan menuju satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat pada 14 Juli 2026.

Dalam arahannya, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak yang sebelumnya berada dalam situasi sosial rentan, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun akses pendidikan dasar.

“Ini saling belajar dengan semangat untuk bisa melayani sesuai tugas masing-masing dengan penuh empati. Mereka yang kita didik ini adalah siswa-siswa istimewa, titipan Tuhan dan negara,” ujarnya.

Gus Ipul menegaskan larangan keras terhadap bullying, kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, serta intoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat. Menurutnya, pelanggaran dalam bentuk apa pun tidak dapat ditoleransi dan akan dikenakan sanksi tegas.

“Tidak boleh ada bullying, tidak boleh ada kekerasan seksual maupun kekerasan fisik, dan tidak boleh ada intoleransi. Jika terbukti, bisa langsung diberhentikan,” tegasnya.

Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) didampingi Wamensos Agus Jabo menggelar Zoom Meeting bersama kepala Sekolah Rakyat (SR), tenaga pendidik, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Kemensos, Senin (4/5/2026).  Foto: Dok. Kemensos
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) didampingi Wamensos Agus Jabo menggelar Zoom Meeting bersama kepala Sekolah Rakyat (SR), tenaga pendidik, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Kemensos, Senin (4/5/2026). Foto: Dok. Kemensos

Memasuki satu tahun penyelenggaraan, Gus Ipul memperkenalkan tema “Dari Terlantar Menuju Bersinar” sebagai arah pengembangan Sekolah Rakyat. Tema ini diarahkan untuk memperkuat prestasi, karakter, serta ruang ekspresi siswa di berbagai bidang.

Ia juga meminta setiap sekolah tidak hanya mencatat capaian akademik, tetapi juga perkembangan sosial dan minat bakat siswa, termasuk seni, olahraga, dan keterampilan.

Dari sisi data, Kementerian Sosial mencatat terdapat 59 Sekolah Rakyat yang telah terakreditasi dengan total 453 siswa yang akan lulus pada 2026. Komposisi lulusan terdiri dari 329 siswa SD, 113 SMP, dan 11 SMA.

Hasil asesmen awal menunjukkan sebagian siswa mulai memiliki arah masa depan, di antaranya 5 siswa berencana kuliah, 4 siswa ingin masuk TNI, dan 2 siswa masih dalam proses menentukan pilihan.

Gus Ipul menegaskan bahwa tidak boleh ada lulusan Sekolah Rakyat yang kehilangan arah setelah menyelesaikan pendidikan. Setiap anak, kata dia, harus mendapatkan pendampingan sesuai potensi masing-masing.

“100 anak, 100 kesempatan. Setiap anak punya jalan dan peluang yang berbeda, dan tugas kita memastikan semua punya ruang untuk bersinar,” ujarnya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat memberikan arahan terkait pemutakhiran data tunggal dan Sekolah Rakyat di Pendopo Manggala Praja Nugraha Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (29/3/2026).
 Foto: Kemensos RI
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat memberikan arahan terkait pemutakhiran data tunggal dan Sekolah Rakyat di Pendopo Manggala Praja Nugraha Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (29/3/2026). Foto: Kemensos RI

Ia juga mendorong pelaksanaan open house Sekolah Rakyat sebagai bentuk transparansi program, sekaligus membuka ruang partisipasi publik untuk melihat langsung proses pembelajaran dan perkembangan siswa.

Dalam laporan, Kepala Sekolah SRMA 31 Pekanbaru menyampaikan bahwa banyak siswa yang awalnya datang dalam kondisi sosial dan kepercayaan diri yang rendah. Namun setelah pendampingan berjalan, perubahan mulai terlihat, terutama pada keberanian dan partisipasi siswa di kelas.

“Awalnya banyak anak yang tertutup dan tidak percaya diri. Sekarang mereka mulai berani tampil, aktif di kelas, dan lebih terbuka,” katanya.

Hal serupa disampaikan Kepala Sekolah SRMA 27 Takalar yang menyebut bahwa tantangan awal terletak pada kemampuan komunikasi siswa.

Sekolah kemudian fokus membangun keberanian berbicara dan pembiasaan penggunaan Bahasa Indonesia sebelum masuk pada penguatan akademik.

“Di awal kami mulai dari hal paling dasar, yaitu keberanian anak untuk berbicara. Setelah itu baru pelan-pelan kemampuan akademiknya ikut berkembang,” katanya.

Menutup pertemuan, Gus Ipul kembali menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus benar-benar menjadi ruang aman dan ruang harapan bagi anak-anak yang sebelumnya berada dalam situasi sulit.

“Dari terlantar menuju bersinar itu harus benar-benar kita wujudkan, bukan hanya jadi slogan,” pungkasnya.

Buka sumber asli