News Berita

Selat Hormuz Dibuka Kembali, AS Pastikan Bebas Tarif Selama 60 Hari

Kesepakatan damai AS-Iran mulai berlaku, kini Selat Hormuz dibuka dan bebas tarif selama 60 hari. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Selat Hormuz Dibuka Kembali, AS Pastikan Bebas Tarif Selama 60 Hari
Personel militer Iran memasang bendera nasional di atas kapal selam selama latihan angkatan laut "Velayat-90" di Selat Hormuz di Iran selatan pada 3 Januari 2012. Foto: Ebrahim Nourozi/Jamejam Online/AFP
Personel militer Iran memasang bendera nasional di atas kapal selam selama latihan angkatan laut "Velayat-90" di Selat Hormuz di Iran selatan pada 3 Januari 2012. Foto: Ebrahim Nourozi/Jamejam Online/AFP

Kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai berlaku, sementara aktivitas pelayaran kembali beroperasi di Selat Hormuz setelah AS menyatakan berakhirnya blokade. Pada saat yang sama, kedua negara memasuki fase negosiasi yang lebih intens terkait program nuklir Teheran.

Mengutip Bloomberg, Jumat (19/6), Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis bahwa periode 60 hari untuk menyelesaikan rincian yang masih diperdebatkan dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang ditandatangani pada Rabu malam telah resmi dimulai.

Vance juga meredam kekhawatiran bahwa Iran pada akhirnya akan mengenakan tarif atau pungutan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah tersebut berpotensi menjadikan jalur pelayaran strategis yang selama ini dianggap sebagai perairan internasional sebagai sumber pendapatan bagi Teheran.

“Pertama-tama, kami percaya bahwa jalur perairan internasional harus bebas dari pungutan,” kata Vance.

Ia menambahkan bahwa negara-negara di kawasan akan bersama-sama menyusun kerangka keamanan yang tepat untuk Selat Hormuz di masa mendatang.

Menurut Vance, jika Selat Hormuz tidak dibuka, maka tidak akan ada kesepakatan final antara kedua pihak.

Harga minyak bergerak fluktuatif pada Kamis, dengan minyak mentah Brent ditutup di bawah USD 80 per barel. Namun, harga tersebut masih turun dibandingkan level mendekati USD 95 per barel setelah Presiden Donald Trump pekan lalu menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah dekat.

Meski demikian, harga minyak masih sekitar 30 persen lebih tinggi sejak awal tahun. Para pelaku pasar energi memperkirakan dibutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih lama, hingga volume pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) yang melewati Selat Hormuz kembali normal.

Ketika kedua pihak mulai menyusun posisi tawar dalam tahap negosiasi berikutnya, Trump dan Vance berupaya menepis kritik, termasuk dari kalangan sekutu politik mereka sendiri, yang menilai Iran memperoleh keuntungan lebih besar dalam nota kesepahaman awal tersebut.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump ditanya mengenai pelajaran yang ia peroleh terkait batas kekuasaan presiden dari operasi militer tersebut. Trump menjawab, “tidak ada batasan.”

Presiden AS Donald Trump tiba untuk menghadiri selingan musik sebelum makan malam gala sebagai bagian dari KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Selasa (16/6/2026). Foto:  Ludovic Marin/Pool via REUTERS
Presiden AS Donald Trump tiba untuk menghadiri selingan musik sebelum makan malam gala sebagai bagian dari KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Selasa (16/6/2026). Foto: Ludovic Marin/Pool via REUTERS

Ia kembali menegaskan klaim bahwa AS telah “mengalahkan mereka sepenuhnya secara militer” dan menyebut nota kesepahaman yang ditandatangani kemungkinan merupakan bentuk “penyerahan tanpa syarat” dari Iran.

Namun, untuk hari kedua berturut-turut, Trump juga mengakui bahwa tekanan terhadap pasokan minyak global menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menyetujui kesepakatan tersebut.

“Kita tidak akan memiliki pasokan minyak selama berbulan-bulan. Selama bom masih dijatuhkan, selat itu otomatis tertutup,” ujar Trump kepada Axios, merujuk pada Selat Hormuz.

Trump turut memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama berpotensi memicu dampak ekonomi yang serius secara global.

“Itu adalah jenis peristiwa yang bisa menyebabkan depresi ekonomi dunia,” katanya.

Buka sumber asli