News Berita

Sekjen Golkar Terbitkan Buku ‘Kekuatan yang Menolong’, Tentang Makna Kehilangan

Sekjen Golkar Terbitkan Buku ‘Kekuatan yang Menolong’, Tentang Makna Kehilangan #newsupdate #update #news #text

Sekjen Golkar Terbitkan Buku ‘Kekuatan yang Menolong’, Tentang Makna Kehilangan
Sekretaris Jenderal Golkar Sarmuji dalam acara peluncuran buku, puisi dan lagu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Sekretaris Jenderal Golkar Sarmuji dalam acara peluncuran buku, puisi dan lagu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, meluncurkan buku berjudul Kekuatan yang Menolong di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Senin (20/4). Buku ini mengangkat pengalaman Sarmuji kehilangan putranya.

Dalam peluncuran buku itu turut hadir sejumlah menteri hingga wakil menteri di Kabinet Merah Putih, di antaranya Menteri ESDM yang juga Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Menkomdigi Meutya Hafid, Menteri P2MI Mukhtarudin, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily, hingga Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari.

“Saya menerbitkan dua buku, ditambah satu buku kenangan. Dua buku itu, yang pertama adalah Kekuatan yang Menolong. Kekuatan yang Menolong itu sebenarnya terjemahan dari Sulthanan Nashira. Itu nama putra kami, Muhammad Sutohoyo Sulthana Nasir,” kata Sarmuji dalam sambutannya, Senin (20/4).

Ia menjelaskan, nama anaknya tersebut sejak awal menjadi pengingat bagi dirinya dalam berpolitik agar selalu berada di jalur yang memberi manfaat.

“Dulu memang saya memberi nama Sulthana Nasir itu untuk menjadi pengingat saya. Saya prasastikan menjadi nama anak saya, karena waktu itu saya sudah masuk dalam dunia politik. Jadi saya berharap keberadaan saya dalam dunia politik itu menjadi Sulthana Nasir, menjadi kekuatan yang menolong, sebagaimana anak saya saya namai,” katanya.

Sarmuji menceritakan putranya meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit leukemia. Peristiwa itu menjadi refleksi mendalam yang kemudian dituangkan dalam karya tulisnya.

“Tapi ternyata Allah berkehendak lain, putra kami dipanggil pulang karena leukemia. Namun, namanya tetap tersimpan dalam hati dan menjadi pengingat bagi saya untuk menjadikan politik sebagai Sulthana Nasir, menjadi kekuatan atau kekuasaan yang menolong. Mudah-mudahan saya tetap diberikan kekuatan untuk berada pada jalur itu,” ujarnya.

Dalam buku tersebut, Sarmuji memaparkan pandangannya mengenai politik serta respons terhadap berbagai isu kerakyatan yang berkembang.

Sekjen Golkar, Sarmuji. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Sekjen Golkar, Sarmuji. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

“Kalau bukunya, dari bab pertama saya menjelaskan tentang politik sebagai kekuasaan yang menolong. Lalu bab-bab berikutnya berisi pernyataan-pernyataan saya menanggapi situasi yang berkembang, isu-isu kerakyatan di DPR, serta beberapa isu yang kami tanggapi sebagai Sekretaris Jenderal,” jelasnya.

Ia juga menutup bukunya dengan refleksi spiritual yang terinspirasi dari doa Nabi Ibrahim.

“Penutupnya, kami berharap secara paripurna menjadi politisi seperti doa Nabi Ibrahim. Doa Nabi Ibrahim itu ada di bab penutup: ‘Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi generasi yang datang kemudian’. Mudah-mudahan saya sebagai politisi bisa menjadi buah tutur yang baik bagi generasi yang akan datang,” katanya.

Sarmuji juga menyampaikan bahwa buku tersebut tidak hanya berisi gagasan politik, tetapi juga ungkapan perasaan dan refleksi kehidupan.

“Justru di saat-saat sempit, naluri menemukan dirinya. Saya ambil pena, seperti seorang kekasih yang hendak menuliskan surat cinta. Rangkaian kata satu demi satu tertata. Ada yang jadi buku, ada yang jadi puisi, ada yang jadi lagu. Rangkaian kata-kata itulah yang kami persembahkan hari ini, bukan sekadar untaian kata, tetapi ungkapan cinta dan doa,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, turut memberikan apresiasi atas peluncuran buku tersebut dan menyebut karya itu sebagai refleksi perjuangan hidup.

Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia dalam acara peluncuran buku, puisi dan lagu karya Sekjen Golkar Sarmuji di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia dalam acara peluncuran buku, puisi dan lagu karya Sekjen Golkar Sarmuji di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Saya pertama mengucapkan selamat kepada sahabat saya Pak Sarmuji yang telah mampu menguraikan isi hatinya dalam sebuah karya. Tadi saya juga terbawa suasana. Kenapa? Karena sebelum ananda almarhum ke Singapura, tiga minggu sebelumnya, Pak Sarmuji ini menelepon saya. Saya masih ingat,” kata Bahlil.

Ia juga mengenang momen kebersamaan dengan almarhum putra Sarmuji serta memberikan pesan inspiratif dari pengalaman tersebut.

“Semoga buku, puisi, serta lagu ini memberikan inspirasi bagi teman-teman keluarga besar KAHMI. Semoga ini juga menjadi kesadaran kolektif sejak dini,” ujarnya.

Bahlil menilai karya tersebut tidak hanya menjadi catatan pribadi, tetapi juga dapat memberi inspirasi bagi banyak pihak, khususnya dalam memaknai perjuangan dan peran politik dalam kehidupan masyarakat.

“Sukses Pak Sarmuji. Karya ilmiahmu sangat luar biasa. Semoga ini juga mampu ditularkan di DPP Partai Golkar sehingga yang belum lurus bisa diluruskan,” pungkasnya.

Buka sumber asli