News Berita

Saya yang Sehat Ikut Pola yang Sakit

Kita sering merasa sehat hanya karena masih mampu bekerja dan beraktivitas. Padahal, merasa sehat dan benar-benar sehat tidak selalu berarti hal yang sama.

Saya yang Sehat Ikut Pola yang Sakit
Ilustrasi Lari Foto: Sorn340 Studio Images/Shuttterstock
Ilustrasi Lari Foto: Sorn340 Studio Images/Shuttterstock

Ada satu kesamaan yang sering muncul setiap kali kabar duka datang secara tiba-tiba. Orang-orang yang ditinggalkan hampir selalu mengatakan hal yang sama:

"Padahal tadi masih sehat."

Kalimat sederhana itu sering membuat kita bertanya kembali tentang makna kesehatan yang sebenarnya.Kalimat itu terdengar sederhana. Namun semakin dipikirkan, semakin menarik pertanyaan yang tersimpan di dalamnya. Benarkah seseorang sehat hanya karena masih mampu bekerja, beraktivitas, dan menjalani rutinitas seperti biasa?

Pertanyaan itu muncul dalam sebuah percakapan tentang kesehatan yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Dari sana, obrolan mengalir ke berbagai pengalaman tentang penyakit, pengobatan, pola hidup, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele.

Di tengah percakapan itu, ada satu kalimat yang membuat saya berhenti sejenak.

"Saya yang merasa sehat ikut pola yang sakit. Cuman berat bagi saya mengurangi gorengan."

Sekilas kalimat itu terdengar ringan dan mengundang senyum. Namun di balik candanya, tersimpan kesadaran yang tidak selalu dimiliki orang yang merasa dirinya sehat.

Sering kali mereka yang pernah berhadapan dengan penyakit justru lebih disiplin menjaga dirinya. Mereka lebih berhati-hati memilih makanan, lebih teratur beristirahat, lebih rajin memeriksakan kondisi kesehatan, dan lebih peka terhadap perubahan yang terjadi.

Sebaliknya, orang yang merasa sehat sering kali hidup dengan keyakinan bahwa semuanya masih aman.

Padahal, belum tentu.

Tanda-Tanda Kesehatan yang Diabaikan

Kita terbiasa membayangkan penyakit sebagai sesuatu yang datang dengan tanda yang jelas. Rasa sakit yang hebat, kondisi yang membuat aktivitas terganggu, atau gejala yang sulit diabaikan.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada orang yang tetap bekerja dan menjalani rutinitas seperti biasa sambil membawa masalah kesehatan yang belum disadari. Ada pula yang menganggap keluhan tertentu sebagai hal sepele karena tidak cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Tidak semua peringatan datang dengan suara keras.

Saya teringat dua kisah yang berbeda. Seseorang yang masih beraktivitas seperti biasa sebelum kabar duka datang, dan seseorang yang menganggap gangguan pencernaan sebagai masalah sepele hingga kondisinya terlanjur serius.

Kadang ia hanya muncul sebagai tubuh yang lebih cepat lelah dari biasanya. Kadang sebagai tidur yang tidak lagi nyenyak meski jam istirahat terasa cukup. Kadang sebagai keluhan kecil yang datang berulang, lalu hilang, lalu datang lagi hingga kita menganggapnya bagian normal dari kehidupan.

Salah satu alasan mengapa tanda-tanda itu sering luput diperhatikan adalah karena kita terlalu sibuk untuk menganggapnya penting.

Sibuk Bukan Berarti Sehat

Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah menganggap kesibukan sebagai tanda bahwa kondisi fisik masih baik-baik saja.

Selama masih mampu datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, menghadiri rapat, atau memenuhi berbagai target, banyak orang merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Padahal kemampuan untuk terus beraktivitas tidak selalu mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Kita hidup dalam budaya yang sering memuji orang yang terus bekerja meski kelelahan. Kurang tidur dianggap konsekuensi kesuksesan. Istirahat sering dipandang sebagai kemewahan yang bisa ditunda.

Akibatnya, banyak orang lebih cepat merespons notifikasi pekerjaan daripada kebutuhan dirinya sendiri.

Kita tahu kapan pekerjaan harus diselesaikan dan berbagai kewajiban harus ditunaikan.

Namun kita sering tidak tahu kapan harus berhenti sejenak dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih.

Kesibukan memang dapat menjadi tanda produktivitas. Tetapi kesibukan bukanlah ukuran kesehatan.

Ironisnya, banyak dari kita baru mulai serius menjaga kesehatan setelah bertemu dokter, menerima hasil pemeriksaan yang mengejutkan, atau melihat orang terdekat jatuh sakit. Kita rela mengeluarkan biaya untuk memperbaiki kondisi yang sudah bermasalah, tetapi sering merasa sayang meluangkan waktu untuk mencegahnya sejak awal.

Kita sering menganggap diri sehat hanya karena masih sanggup bekerja. Padahal mesin fotokopi di kantor juga tetap bisa menyala beberapa saat sebelum akhirnya mati total.

Mengetahui Pentingnya Kesehatan, tetapi Menunda

Percakapan itu juga mengingatkan saya pada berbagai ironi kecil yang sering hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang mengurangi nasi demi menurunkan berat badan, tetapi tanpa sadar menggantinya dengan roti sisir yang ukurannya cukup untuk mengenyangkan lebih dari satu orang.

Ada yang rajin berolahraga setiap akhir pekan, tetapi merasa segelas minuman bersoda setelahnya adalah hadiah yang tidak perlu dihitung.

Ada pula yang ingin menjaga kualitas suara, tetapi tetap akrab dengan es dan makanan favorit yang sering dituduh sebagai biang keladi.

Dan ada banyak di antara kita yang berulang kali berjanji akan tidur lebih awal. Namun malam demi malam, janji itu kalah oleh sinetron, drakor, dracin, atau satu episode lagi yang selalu terasa terlalu sayang untuk dilewatkan.

Barangkali masalahnya bukan kurang informasi. Hampir semua orang sudah tahu pentingnya tidur yang cukup, olahraga yang teratur, dan pola makan yang lebih baik. Yang sering tidak kita sadari adalah kecenderungan untuk merasa bahwa risiko itu selalu terjadi pada orang lain, bukan pada diri sendiri.

Bukan karena kita tidak tahu.

Sebagian besar dari kita justru sudah memahami apa yang sebaiknya dilakukan.

Kita sering gagal menjaga kesehatan bukan karena tidak tahu caranya. Kita gagal karena selalu merasa masih punya waktu untuk memulainya besok.

Mungkin karena perubahan selalu menuntut pengorbanan. Dan pengorbanan, sekecil apa pun, tidak pernah benar-benar mudah.

Menjaga Kesehatan Sebelum Terlambat

Pada akhirnya, hampir semua orang memiliki harapan yang sama: hidup lebih lama, tetap produktif, dan menikmati waktu bersama orang-orang yang dicintai.

Namun harapan itu tidak cukup diwujudkan dengan merasa baik-baik saja.

Ia membutuhkan perhatian terhadap hal-hal kecil yang sering diabaikan. Tidur yang cukup. Pola makan yang lebih teratur. Kesediaan memeriksakan diri ketika ada perubahan yang tidak biasa. Dan yang tidak kalah penting, keberanian untuk sesekali melambat.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari percakapan tersebut. Kadang orang yang merasa sehat justru perlu belajar dari mereka yang sedang sakit. Bukan karena ingin hidup dalam ketakutan, melainkan karena kesehatan sering kali lebih mudah dijaga sebelum ia hilang daripada dicari setelah ia pergi.

Barangkali karena itulah kalimat "padahal tadi masih sehat" selalu terdengar begitu menyedihkan. Ia mengingatkan kita bahwa merasa sehat dan benar-benar sehat tidak selalu berarti hal yang sama.

Buka sumber asli