Satgam Imunisasi IDAI: Vaksin DPT Tidak Sebabkan Radang Otak
Menurut IDAI, KIPI setelah vaksin DPT tidak menyebabkan radang selaput otak. #momsupdate #update #mom #text

Kasus bayi perempuan berusia 9 bulan berinisial NR yang diduga menerima vaksin tidak sesuai di Puskesmas Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, masih menjadi perhatian publik. Bayi tersebut mengalami demam tinggi, kejang berkepanjangan, hingga harus menjalani perawatan intensif setelah menerima imunisasi pada Sabtu (13/6).
Hasil evaluasi yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bekasi bersama Tim Komite Daerah (Komda) Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (PP KIPI) Jawa Barat menyimpulkan memang terjadi pemberian vaksin ganda akibat pencatatan riwayat imunisasi yang tidak lengkap pada buku vaksinasi pasien.
Meski demikian, tim menyatakan tidak ditemukan bukti ilmiah bahwa pemberian vaksin DPT ganda menyebabkan radang otak maupun radang selaput otak (meningitis).

Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), juga menegaskan bahwa vaksin DTP tidak menyebabkan radang selaput otak.
"Vaksin DTP (pentavalen) tidak menyebabkan radang selaput otak," ujar Prof. Hartono kepada kumparanMOM, Jumat (4/7).
Ia menjelaskan, vaksin DTP merupakan bagian dari imunisasi dasar yang diberikan sebanyak tiga dosis, kemudian dilanjutkan dengan satu dosis penguat (booster) pada usia 18 bulan.
Bahkan, apabila seorang anak secara tidak sengaja menerima dosis booster lebih awal atau mendapat dosis vaksin berlebih, kondisi tersebut juga tidak menyebabkan meningitis.
"Dosis booster yang diberikan lebih awal atau dosis vaksin berlebih yang diberikan secara tidak sengaja juga tidak menyebabkan radang selaput otak, mengingat vaksin tersebut tidak mengandung kuman hidup," jelasnya.
KIPI Kejang Setelah Imunisasi Biasanya Ringan
Dalam kasus ini, bayi NR mengalami demam tinggi disertai kejang beberapa jam setelah imunisasi. Menurut Prof. Hartono, kejang yang muncul sebagai dampak dari imunisasi umumnya merupakan kejang ringan dan bersifat sementara.
"Bila anak mengalami kejang setelah imunisasi, biasanya merupakan kejang karena demam, bukan radang selaput otak," jelasnya.
Demam merupakan salah satu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dapat muncul pada sebagian anak. Namun, sebagian besar KIPI bersifat ringan dan sementara.
Karena itu, orang tua perlu mendapatkan penjelasan mengenai kemungkinan KIPI yang dapat terjadi setelah imunisasi, termasuk cara mengatasinya di rumah.
"Orang tua perlu dijelaskan KIPI yang mungkin terjadi dan cara mengatasinya. KIPI umumnya ringan dan sementara," ujar Prof. Hartono.
Orang Tua dan Tenaga Kesehatan Perlu Sama-sama Memastikan Jenis Vaksin
Menanggapi adanya dugaan kesalahan pemberian vaksin pada kasus di Bekasi, Prof. Hartono menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan orang tua sebelum imunisasi dilakukan.
Menurutnya, kedua belah pihak perlu memastikan kembali jenis vaksin yang akan diberikan kepada anak, sekaligus mengevaluasi apakah terdapat kondisi yang menjadi kontraindikasi sementara untuk imunisasi, misalnya anak sedang mengalami demam tinggi.
"Orang tua dan tenaga kesehatan perlu mendiskusikan dan memastikan vaksin apa yang akan diberikan kepada anak serta apakah ada kontraindikasi vaksin saat itu, misalnya anak sedang demam tinggi," jelasnya.
Sebelumnya, ibu korban, Andin (33), mengaku datang ke Puskesmas Bintara Jaya untuk memberikan vaksin campak kepada putrinya. Namun, ia curiga anaknya justru menerima dua suntikan tanpa penjelasan yang memadai mengenai jenis vaksin yang diberikan.
Beberapa jam setelah imunisasi, bayi tersebut mengalami demam tinggi, muntah, sulit makan, hingga kejang berkepanjangan. Saat menjalani pemeriksaan di rumah sakit, dokter menemukan adanya peradangan pada selaput otak atau meningitis.
Meski demikian, hasil evaluasi Tim PP KIPI Jawa Barat menyatakan belum ditemukan bukti ilmiah yang menghubungkan pemberian vaksin DPT dengan terjadinya meningitis maupun ensefalitis. Dinas Kesehatan Kota Bekasi menyebut kemungkinan infeksi sudah terjadi sebelum imunisasi dan gejalanya muncul secara bersamaan setelah vaksinasi.
Prof. Hartono pun mengingatkan bahwa manfaat imunisasi jauh lebih besar dibandingkan risiko efek samping yang mungkin muncul.
"Terlepas dari risiko KIPI yang jauh lebih ringan dibandingkan bahaya penyakit, imunisasi bermanfaat untuk melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi yang berbahaya," pungkasnya.