Rupiah Mulai Menguat ke Level Rp 17.364 per Dolar AS
Kurs rupiah mulai menguat terhadap dolar AS, didorong sentimen penurunan harga minyak hingga langkah intervensi BI. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan kembali setelah sebelumnya sempat menyentuh level psikologis Rp 17.400 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (7/5) pukul 11.11 WIB, rupiah berada di posisi Rp 17.364 per dolar AS atau menguat sekitar 22,50 poin dibandingkan posisi sebelumnya di kisaran Rp 17.383 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi setelah rupiah pada Selasa (5/5) sempat tertekan hingga menembus level Rp 17.400 per dolar AS, yang menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk on dan penurunan harga minyak mentah dunia merespon laporan AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
“Akan tergantung pada respon Iran, yang dhiarapkan dalam beberapa hari kedepan. Untuk saat ini investor masih memiliki harapan besar untuk berakhirnya perang,” kata Lukman kepada kumparan, Kamis (7/5).
Lebih lanjut, tekanan terhadap rupiah sebelumnya dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menuturkan ada 7 langkah yang dilakukan meliputi intervensi pasar valas sampai pengawasan pembelian dolar AS.
Terkait intervensi di pasar valas, Perry menjelaskan BI akan melakukannya di dalam negeri maupun luar negeri melalui instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward(DNDF), dan offshore NDF di pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
“Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup,” kata Perry di Istana Negara dikutip Kamis (7/5).
Langkah kedua, BI akan memperkuat aliran masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menutup outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.
Selanjutnya, BI juga akan melanjutkan pembelian di pasar sekunder, yang hingga saat ini telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year to date.
Keempat, BI akan menjaga likuiditas perbankan tetap longgar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1 persen.
Selain itu, salah satu langkah yang juga penting adalah BI memperketat pembelian valuta asing tanpa underlying. Batas pembelian dolar yang sebelumnya USD 100.000 diturunkan menjadi USD 50.000 per orang per bulan, dan akan kembali ditekan menjadi USD 25.000.
“Sehingga pembelian dolar di atas USD 25.000 itu harus pakai underlying,” ujarnya.
BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal, termasuk pengembangan pasar yuan-rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Keenam, BI juga akan memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan melibatkan bank domestik agar pasokan likuiditas meningkat. Terakhir, BI akan meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi, bekerja sama dengan OJK.