News Berita

Rupiah Menguat ke Rp 17.860, Bank Indonesia Beberkan Faktor Pendorongnya

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,71 persen menjadi Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6) pukul 16.00 WIB. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Rupiah Menguat ke Rp 17.860, Bank Indonesia Beberkan Faktor Pendorongnya
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Bank Indonesia (BI) bicara mengenai nilai tukar rupiah yang perlahan mulai menguat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,71 persen menjadi Rp 17.860 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (12/6) pukul 16.00 WIB.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan penguatan tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan yang ditempuh oleh BI.

“Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6).

Destry menjelaskan bauran kebijakan tersebut mencakup kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,5 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.

“Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah,” ungkap Destry.

Destry menuturkan setelah kenaikan BI-Rate, aliran modal asing mulai menunjukkan perkembangan positif seiring meningkatnya daya tarik instrumen keuangan domestik. Minat investor global tercermin dari arus masuk dana asing pada transaksi SRBI nonresiden dan Surat Berharga Negara (SBN) yang pada 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing mencapai Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun.

“Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp 26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” ucap Destry.

Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam penutupan KKI, Minggu (10/8).  Foto: Bank Indonesia
Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam penutupan KKI, Minggu (10/8). Foto: Bank Indonesia

Kemudian dari sisi ketahanan eksternal, Destry menyebut BI juga memperkuat kerja sama keuangan dengan People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Kerja sama tersebut menghasilkan tiga kesepakatan, yakni penguatan sinergi stabilitas keuangan regional, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta perluasan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

“Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” terang Destry.

Ke depan, BI akan terus hadir di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.

“Dengan berbagai perkembangan diatas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap USD menuju ke level fundamentalnya,” tutur Destry.

Buka sumber asli