News Berita

Rupiah, Kepanikan, dan Kebiasaan Kita Membayangkan Bencana

Rupiah boleh melemah, tetapi akal sehat tidak boleh ikut goyah. Di tengah gejolak ekonomi, ketenangan dan kejernihan berpikir tetap menjadi modal utama. #userstory

Rupiah, Kepanikan, dan Kebiasaan Kita Membayangkan Bencana
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
Sejumlah uang kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping uang kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Beberapa waktu terakhir saya memperhatikan satu pola yang terus berulang setiap kali nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Bukan hanya angka di layar yang bergerak naik turun, melainkan juga emosi publik yang ikut bergejolak. Seolah-olah setiap kenaikan dolar selalu menjadi alarm yang memanggil kecemasan kolektif. Media ramai memberitakan. Pengamat berlomba mengeluarkan prediksi. Media sosial dipenuhi analisis, spekulasi, dan tidak jarang ramalan yang terdengar semakin gelap dari hari ke hari.

Di tengah situasi seperti itu, saya justru memiliki keyakinan yang berbeda. Saya melihat pelemahan rupiah yang terjadi saat ini sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Dalam pandangan saya, rupiah masih memiliki peluang untuk kembali menguat ke kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per dolar AS. Keyakinan ini tentu bukan ramalan, apalagi kepastian. Namun, ia lahir dari cara saya melihat kondisi ekonomi Indonesia secara lebih utuh, tidak hanya melalui pergerakan angka di pasar valuta asing, tetapi juga melalui denyut kehidupan yang masih saya lihat setiap hari.

Saya memahami bahwa tidak semua orang akan sepakat. Dalam ekonomi, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar. Namun, yang sering mengusik pikiran saya bukanlah perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan kecenderungan sebagian pihak untuk menghadirkan skenario paling buruk seolah-olah itu adalah masa depan yang tak terelakkan.

Belakangan, misalnya, muncul berbagai prediksi yang menyebut rupiah dapat menembus angka Rp20.000 per dolar atau bahkan lebih tinggi. Tentu siapa pun berhak menyampaikan analisisnya. Namun, saya berpendapat bahwa setiap prediksi semestinya disampaikan dengan kehati-hatian intelektual. Sebab prediksi ekonomi bukan sekadar soal angka. Ia juga berinteraksi dengan psikologi publik.

Dalam bukunya yang terkenal, Thinking, Fast and Slow, Daniel Kahneman menjelaskan bagaimana manusia cenderung memberi bobot lebih besar pada informasi yang mengandung ancaman dibandingkan informasi yang bersifat netral. Dalam konteks ekonomi, berita buruk sering kali menyebar lebih cepat daripada kabar baik. Ketakutan memiliki daya tarik yang unik. Ia mengundang perhatian, memicu percakapan, dan dalam era digital, sering kali menghasilkan klik yang melimpah.

Akibatnya, tidak jarang prediksi berubah fungsi. Dari alat analisis menjadi komoditas perhatian.

Ketika Persepsi Menjadi Kenyataan

Ada satu pelajaran menarik dalam ilmu ekonomi yang sering terlupakan oleh masyarakat awam: pasar tidak hanya bergerak karena fakta, tetapi juga karena persepsi terhadap fakta.

Kita bisa membayangkan ekonomi seperti sebuah kapal besar. Mesin kapal mungkin masih bekerja dengan baik, bahan bakar masih tersedia, dan arah pelayaran masih jelas. Namun jika seluruh penumpang tiba-tiba percaya bahwa kapal akan tenggelam, kepanikan yang muncul bisa menciptakan masalah baru yang jauh lebih besar daripada ancaman yang sebenarnya.

Fenomena ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy—ramalan yang menjadi kenyataan karena terlalu banyak orang mempercayainya.

Dalam sejarah ekonomi dunia, banyak krisis diperburuk bukan semata-mata oleh lemahnya fundamental ekonomi, melainkan oleh hilangnya kepercayaan publik. Ketika masyarakat panik, investor ikut cemas. Ketika investor cemas, pasar bereaksi. Ketika pasar bereaksi, kepanikan semakin besar. Lingkaran itu terus berputar.

Karena itulah saya merasa perlu membedakan antara kewaspadaan dan kepanikan.

Kewaspadaan adalah sikap yang sehat. Ia mendorong kita memahami situasi secara rasional. Sebaliknya, kepanikan sering kali membuat kemampuan berpikir jernih menghilang. Dalam banyak kasus, kerugian terbesar justru muncul bukan karena masalah ekonomi itu sendiri, melainkan karena respons yang berlebihan terhadap masalah tersebut.

Melihat Ekonomi dari Dekat

Alasan utama mengapa saya belum ikut larut dalam pesimisme adalah karena saya masih melihat aktivitas ekonomi yang berjalan di sekitar saya.

Ketika berkunjung ke pasar, saya masih melihat transaksi berlangsung. Ketika melewati kawasan usaha kecil, saya masih melihat orang berjualan. Ketika berbincang dengan pelaku UMKM, saya masih menemukan semangat untuk bertahan dan berkembang.

Tentu saya tidak menutup mata terhadap berbagai kesulitan yang ada. Harga beberapa kebutuhan meningkat. Biaya hidup terasa lebih berat dibandingkan beberapa tahun lalu. Daya beli sebagian kelompok masyarakat menghadapi tekanan. Semua itu nyata dan tidak boleh diabaikan.

Namun, ekonomi bukan hanya kumpulan masalah. Ekonomi juga merupakan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi terhadap masalah.

Salah satu kekuatan terbesar bangsa ini justru terletak pada daya lenting sosialnya. Masyarakat Indonesia telah melewati berbagai guncangan ekonomi, mulai dari krisis 1998, pandemi COVID-19, hingga berbagai tekanan global yang muncul setelahnya. Setiap kali menghadapi tekanan, selalu ada kemampuan untuk menyesuaikan diri, menemukan cara baru, dan menjaga roda kehidupan tetap berputar.

Karena itu saya sering merasa bahwa sebagian analisis ekonomi terlalu terpaku pada layar monitor dan terlalu sedikit melihat kenyataan di lapangan.

Angka memang penting. Statistik juga penting. Tetapi kehidupan ekonomi tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh grafik. Ada unsur kepercayaan, adaptasi, kreativitas, dan ketahanan sosial yang sering kali tidak masuk ke dalam tabel-tabel ekonomi.

Ilustrasi dibuat dengan AI
Ilustrasi dibuat dengan AI

Soal Fundamental dan Kepercayaan pada Institusi

Alasan lain yang membuat saya tetap optimistis adalah pernyataan pemerintah bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat.

Sebagian orang mungkin akan langsung merespons sinis. Mereka menganggap pernyataan semacam itu sekadar narasi untuk menenangkan publik. Sikap kritis tentu diperlukan. Namun menurut saya, skeptisisme yang sehat berbeda dengan sinisme yang berlebihan.

Ketika Menteri Keuangan menyampaikan bahwa kondisi fundamental ekonomi masih terjaga, saya melihat pernyataan itu sebagai salah satu sumber informasi yang layak dipertimbangkan. Bukan karena pemerintah selalu benar, melainkan karena lembaga-lembaga negara memiliki akses terhadap data yang jauh lebih luas dibandingkan yang tersedia bagi masyarakat umum.

Dalam ruang publik hari ini, kita sering menyaksikan paradoks yang menarik. Sebagian orang begitu mudah mempercayai potongan video pendek berdurasi satu menit, tetapi sangat sulit mempercayai penjelasan yang disampaikan oleh institusi resmi.

Padahal dalam masyarakat modern, keberadaan institusi adalah fondasi penting bagi stabilitas. Kita boleh mengkritik kebijakan pemerintah. Kita bahkan perlu melakukannya ketika diperlukan. Namun pada saat yang sama, kita juga perlu menjaga agar kritik tidak berubah menjadi ketidakpercayaan total terhadap seluruh institusi.

Karena ketika kepercayaan kepada institusi runtuh, yang tersisa hanyalah ruang kosong yang akan segera diisi oleh rumor, spekulasi, dan berbagai bentuk disinformasi.

Menyederhanakan Persoalan yang Kompleks

Belakangan saya juga melihat munculnya kecenderungan untuk mengaitkan pelemahan rupiah dengan satu atau dua program pemerintah tertentu. Menurut saya, cara pandang seperti ini terlalu menyederhanakan persoalan.

Nilai tukar mata uang adalah salah satu variabel ekonomi yang paling kompleks. Ia dipengaruhi oleh begitu banyak faktor yang saling berinteraksi. Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, kondisi geopolitik global, arus modal internasional, harga komoditas dunia, sentimen investor, hingga ekspektasi pasar terhadap masa depan ekonomi global semuanya memiliki pengaruh.

Dalam situasi seperti itu, menyalahkan satu program tertentu terasa seperti mencari penjelasan yang mudah untuk persoalan yang rumit.

Manusia memang cenderung menyukai cerita yang sederhana. Kita lebih nyaman jika ada satu penyebab yang jelas dan satu pihak yang bisa ditunjuk sebagai kambing hitam. Namun kenyataan ekonomi jarang sesederhana itu.

Ekonomi modern lebih menyerupai jaring yang sangat luas. Ketika satu simpul bergerak, simpul lain ikut bergetar. Karena itulah kita perlu berhati-hati terhadap penjelasan yang terdengar terlalu sederhana untuk masalah yang sebenarnya sangat kompleks.

Belajar Tenang di Tengah Gejolak

Pada akhirnya, tulisan ini bukanlah ajakan untuk menutup mata terhadap risiko. Saya tidak sedang mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Saya juga tidak sedang menyatakan bahwa rupiah pasti akan menguat sesuai perkiraan saya.

Yang ingin saya sampaikan jauh lebih sederhana daripada itu.

Di tengah arus informasi yang begitu deras, mungkin kita perlu belajar membedakan antara fakta dan ketakutan. Kita perlu membedakan antara analisis dan sensasi. Kita perlu membedakan antara kewaspadaan yang sehat dan kepanikan yang tidak produktif.

Ekonomi pada dasarnya adalah urusan angka. Namun ekonomi juga merupakan urusan kepercayaan. Ketika kepercayaan hilang, angka-angka bisa berubah menjadi sumber kecemasan yang tak berkesudahan. Sebaliknya, ketika kepercayaan tetap terjaga, masyarakat memiliki ruang untuk berpikir jernih dan mengambil keputusan secara rasional.

Karena itu, saya memilih untuk tetap tenang.

Bukan karena saya yakin masa depan akan selalu berjalan sesuai harapan. Bukan pula karena saya percaya bahwa ekonomi Indonesia kebal terhadap berbagai risiko global. Saya memilih tenang karena saya percaya bahwa ketenangan adalah syarat pertama untuk melihat kenyataan secara utuh.

Mungkin rupiah memang masih akan menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Mungkin perjalanan menuju penguatan tidak berlangsung secepat yang dibayangkan. Namun sejarah menunjukkan bahwa tidak ada gejolak ekonomi yang berlangsung selamanya. Setiap gelombang pada akhirnya akan mencari titik keseimbangannya sendiri.

Pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah rupiah akan menguat minggu depan atau bulan depan. Pertanyaan yang layak kita renungkan adalah: ketika menghadapi ketidakpastian, apakah kita ingin menjadi masyarakat yang mudah digerakkan oleh ketakutan, atau masyarakat yang mampu menjaga kejernihan berpikir di tengah badai?

Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari nilai tukar mata uangnya, melainkan juga dari kualitas akal sehat warganya dalam menghadapi perubahan.

Buka sumber asli