News Berita

Romantisasi Slow Living di Desa dalam Kacamata Masyarakat Urban

Ketika seorang wisatawan melihat petani yang membajak sawah dengan kerbau, mereka melihatnya sebagai pemandangan yang tradisional dan damai, sebuah romantisme masa lalu yang hilang di kota. #userstory

Romantisasi Slow Living di Desa dalam Kacamata Masyarakat Urban
Pemandangan di Desa. Gambar: Shutterstock
Pemandangan di Desa. Gambar: Shutterstock

Di jagat maya, slow living kerap dirayakan sebagai sebuah pencapaian spiritual, sebuah seni untuk "menemukan diri kembali" di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat. Bagi masyarakat urban yang lelah dengan tuntutan korporasi, desa adalah pelarian sempurna di mana waktu seolah berhenti berdetak. Namun, di balik bingkai estetik Instagram yang menampilkan kabut pagi dan hamparan sawah, terdapat jurang persepsi yang amat dalam.

Bagi orang kota yang datang dengan tabungan mapan, hidup di desa adalah tombol jeda (pause) yang sengaja ditekan untuk memulihkan energi sebelum kembali ke realitas yang kompetitif. Sebaliknya, bagi warga asli yang lahir dan besar di sana, "kelambatan" tersebut bukanlah sebuah pilihan yang mewah, melainkan tombol macet (stuck) yang dipaksakan oleh keadaan.

Di saat orang kota menikmati sunyinya malam sebagai detoksifikasi digital, warga desa mungkin sedang terjebak dalam sunyi yang sama karena ketiadaan akses infrastruktur, minimnya lapangan kerja, dan layanan publik yang tak kunjung sampai ke depan pintu rumah mereka.

Ironisnya, "tombol macet" yang dialami warga desa ini sering kali disalahpahami oleh masyarakat urban sebagai sebuah "keaslian" yang murni atau "kesederhanaan" yang luhur. Ketika seorang wisatawan melihat petani yang membajak sawah dengan kerbau, mereka melihatnya sebagai pemandangan yang tradisional dan damai—sebuah romantisme masa lalu yang hilang di kota.

Padahal, bagi sang petani, itu adalah bukti nyata dari ketiadaan akses terhadap teknologi pertanian modern atau ketidakmampuan ekonomi untuk menyewa mesin. Masyarakat kota cenderung mengagungkan ketiadaan fasilitas sebagai bentuk "kembali ke alam," tanpa menyadari bahwa apa yang mereka sebut sebagai keasrian sebenarnya adalah manifestasi dari keterpinggiran.

Mereka memuja ketidakhadiran sinyal internet sebagai "detoks digital," sementara bagi pemuda desa, itu adalah tembok tebal yang memutus akses mereka terhadap informasi, pendidikan, dan peluang ekonomi global. Dengan melabeli ketertinggalan ini sebagai gaya hidup slow living, masyarakat urban secara tidak sadar sedang merayakan ketimpangan pembangunan seolah-olah itu adalah sebuah warisan budaya yang harus tetap lestari dan statis.

Perbedaan fundamental antara kedua kelompok ini terletak pada keberadaan "pintu darurat." Masyarakat urban yang menekan tombol jeda di desa selalu memiliki tiket pulang di saku mereka; mereka bisa kembali ke hiruk-pikuk kota, mengakses rumah sakit spesialis, atau mengejar karier bergaji tinggi kapan pun mereka bosan dengan kesunyian.

Bagi mereka, desa hanyalah latar belakang dari sebuah fase hidup yang sementara. Namun, bagi masyarakat desa yang terjebak dalam tombol macet, tidak ada pilihan untuk keluar dari "kelambatan" tersebut. Mereka tidak memiliki privilege untuk sekadar mampir; mereka menetap dalam ketiadaan akses yang sama setiap harinya tanpa jaminan masa depan yang lebih cepat.

Ketimpangan ini menjadi semakin nyata ketika kita menyadari bahwa kemewahan untuk "hidup lambat" hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki kecepatan (finansial dan akses) untuk meninggalkannya. Sementara itu, warga desa terus dipaksa berjalan di tempat, menonton para pencinta slow living datang dan pergi, sambil tetap memikul beban ketertinggalan yang dianggap orang luar sebagai sebuah kedamaian.

Di sisi lain, ketimpangan ini semakin sulit diputus ketika masyarakat desa sendiri mulai menormalisasi kondisi tersebut sebagai sebuah garis hidup yang tak terelakkan. Istilah slow living mungkin asing di telinga mereka, namun dampaknya terasa dalam bentuk pengabaian terhadap potensi diri dan daerah. Ada semacam kelesuan kolektif—sebuah kondisi di mana mereka tidak menyadari bahwa kelambatan yang mereka jalani adalah hasil dari pengabaian sistemik, bukan sekadar "nasib" orang kecil.

Tanpa kesadaran untuk berbenah dan menuntut perubahan, warga desa berisiko terus menjadi penonton di tanah sendiri; menerima begitu saja pembangunan yang ala kadarnya atau kebijakan yang tidak berpihak. Kesadaran untuk keluar dari "tombol macet" ini sering kali terhambat oleh kurangnya literasi dan akses informasi, sehingga impian untuk maju sering kali layu sebelum berkembang, kalah oleh narasi bahwa hidup di desa memang selamanya harus tertinggal dan bersahaja.

Ilustrasi anak bermain bersama di Desa. Foto: Shutterstock
Ilustrasi anak bermain bersama di Desa. Foto: Shutterstock

Pada akhirnya, ketika kesadaran akan "tombol macet" itu mulai menyengat, namun lapangan kerja dan fasilitas tetap stagnan, warga desa dihadapkan pada pilihan pahit: bertahan dalam kelambatan yang memiskinkan atau pergi mencari kecepatan di tempat lain. Inilah yang memicu gelombang perantauan besar-besaran. Desa-desa kita perlahan kehilangan tenaga kerja produktif dan pikiran-pikiran segar, menyisakan lansia dan anak-anak dalam sebuah siklus yang kian sepi.

Mereka dipaksa merantau bukan karena membenci tanah kelahirannya, melainkan karena "romantisme hidup sederhana" tidak bisa membayar tagihan listrik atau biaya pendidikan. Urbanisasi menjadi pelarian logis dari slow living yang dipaksakan. Ironinya, saat masyarakat kota berbondong-bondong datang ke desa untuk mencari ketenangan, penduduk aslinya justru berdesakan di kereta dan bus menuju kota demi mengejar ketertinggalan yang selama ini dianggap "estetik" oleh para pendatang tersebut.

Persoalan ketimpangan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengubah sudut pandang masyarakat urban atau sekadar memotivasi warga lokal. Di sinilah peran negara menjadi krusial dan wajib hadir secara nyata. Pemerintah tidak boleh hanya menjadi fasilitator bagi masuknya investor atau pengembang properti yang memperparah gentrifikasi desa dengan dalih pariwisata "estetik".

Kewajiban utama pemerintah adalah menjamin bahwa infrastruktur dasar—mulai dari layanan kesehatan, pendidikan berkualitas, hingga akses pasar dan teknologi—terdistribusi secara merata hingga ke pelosok. Pembangunan tidak boleh berhenti pada proyek fisik yang padat semen namun miskin pemberdayaan. Jika pemerintah gagal menghidupkan ekonomi desa secara inklusif, maka "slow living" akan selamanya menjadi eufemisme bagi kemiskinan struktural. Tugas negara adalah memastikan bahwa hidup di desa adalah sebuah pilihan hidup yang bermartabat dan produktif, bukan sebuah hukuman bagi mereka yang tidak memiliki akses untuk pergi ke kota.

Buka sumber asli