Robot AI Kalahkan Atlet Pingpong Profesional, Jadi Rekor Baru
Ace menjadi robot AI pertama yang capai performa setara ahli dalam olahraga fisik kompetitif. #kumparanTECH

Robot otonom pingpong bernama Ace mencetak tonggak baru dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan robotika. Robot yang dikembangkan oleh Sony AI ini diklaim mampu menandingi hingga mengalahkan pemain manusia level elite dalam pertandingan resmi di Tokyo, Jepang.
Ace menjadi robot pertama yang mencapai performa setara ahli dalam olahraga fisik kompetitif. Tenis meja dipilih karena menuntut keputusan dalam hitungan milidetik, akurasi tinggi, serta adaptasi terhadap lawan yang tidak dapat diprediksi. Seluruh pertandingan mengikuti aturan International Table Tennis Federation dan dipimpin wasit berlisensi.
"Berbeda dengan gim komputer, di mana sistem AI sebelumnya mampu melampaui para ahli manusia, olahraga fisik dan real-time seperti tenis meja masih menjadi tantangan besar yang belum terpecahkan karena membutuhkan interaksi yang cepat, presisi, dan kompetitif di dekat hambatan serta pada batas waktu reaksi manusia," kata Direktur Sony AI Zurich dan Pemimpin Proyek Ace, Peter Dürr, mengutip Reuters.
"Ace memiliki kemampuan di atas manusia dalam membaca putaran bola yang datang, serta waktu reaksi yang melampaui manusia. Karena ia belajar bermain bukan dengan mengamati manusia, melainkan melatih dirinya sendiri melalui simulasi, responsnya juga berbeda dari pemain manusia dan sering menciptakan situasi yang tidak terduga."

Ace menggabungkan sembilan kamera yang tersinkronisasi dan tiga sistem visi untuk melacak bola berkecepatan tinggi dengan akurasi ekstrem. Sistem ini mampu menangkap gerakan yang tidak terlihat jelas oleh mata manusia. Robot ini juga dilengkapi delapan sendi, jumlah minimum untuk menghasilkan pukulan kompetitif, mencakup posisi, orientasi, dan kekuatan raket.
Hasil uji menunjukkan performa kompetitif. Pada April 2025, Ace menang tiga dari lima pertandingan melawan pemain tenis meja elite. Robot ini sempat kalah dari pemain profesional, tetapi kemudian berhasil membalas dengan kemenangan pada Desember 2025 dan awal 2026.
Pemain profesional Mayuka Taira mengakui kesulitan menghadapi Ace karena gaya bermainnya sulit diprediksi dan tidak menunjukkan emosi. Sementara itu, pemain elite Rui Takenaka menemukan celah saat menggunakan servis sederhana untuk memancing pengembalian bola yang lebih mudah diserang.
"Karena Anda tidak bisa membaca reaksinya, mustahil untuk mengetahui jenis pukulan apa yang tidak disukainya atau yang membuatnya kesulitan, dan hal itu membuatnya semakin sulit untuk dilawan," ujar Taira.

Pengembangan Ace tidak hanya bertujuan memenangkan pertandingan. Teknologi ini membuka peluang penerapan di berbagai sektor seperti manufaktur, layanan, hingga sistem yang membutuhkan kontrol real-time dan interaksi manusia. Studi terkait pencapaian Ace dipublikasikan di jurnal Nature.
Meski memiliki keunggulan membaca spin dan waktu reaksi yang melampaui manusia, Ace masih memiliki kelemahan dalam adaptasi strategi jangka panjang. Tim pengembang kini fokus meningkatkan kemampuan robot dalam menemukan kelemahan lawan, area yang selama ini menjadi kekuatan atlet profesional.
Kemajuan ini menjadi bagian dari tren global, dengan perusahaan teknologi di berbagai negara terus mendorong batas kemampuan robot. Dalam contoh lain, robot bahkan berhasil mengungguli pelari manusia dalam lomba half-marathon di Beijing, China, pada pekan lalu.