News Berita

Produsen Pupuk Prioritaskan Kebutuhan Dalam Negeri Meski Australia Berminat

Australia incar ekspor pupuk urea Indonesia akibat krisis global. APPI dan Kementan tegaskan stok 10 juta ton diprioritaskan untuk kebutuhan petani dalam negeri.

Produsen Pupuk Prioritaskan Kebutuhan Dalam Negeri Meski Australia Berminat
Ilustrasi pupuk milik PT Pupuk Indonesia.
 Foto: Pupuk Indonesia
Ilustrasi pupuk milik PT Pupuk Indonesia. Foto: Pupuk Indonesia

Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) menyatakan telah menerima sinyal permintaan ekspor pupuk dari pihak Australia.

Meskipun peluang tersebut terbuka lebar akibat gangguan rantai pasok dunia, produsen pupuk menegaskan pemenuhan kebutuhan petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

Sekretaris Jenderal APPI, Achmad Tossin Sutawikara, menjelaskan bahwa hingga saat ini besaran tonase yang diminta oleh Australia belum dirinci secara mendalam.

Ia menegaskan bahwa pemerintah masih memegang teguh kebijakan Domestic Market Obligation atau DMO guna menjamin ketersediaan pupuk bagi petani lokal.

"Betul, sudah ada indikasi permintaan dari Australia. Namun Pemerintah masih memprioritaskan DMO," ujar Tossin, Selasa (21/4).

Stok Nasional Mencukupi

Terkait ketahanan stok nasional, Tossin memastikan bahwa ketersediaan pupuk saat ini sangat mencukupi untuk mendukung produktivitas pertanian Indonesia. Total stok untuk seluruh jenis pupuk mulai dari Urea, NPK, SP 36, ZA, hingga pupuk organik telah mencapai angka 10 juta ton.

"Untuk kebutuhan DMO kurang lebih 10 juta ton untuk semua jenis pupuk," tutur Tossin menekankan keamanan pasokan domestik.

Wamentan Sudaryono ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (12/1). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
Wamentan Sudaryono ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (12/1). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Rencana ekspor ini sebelumnya telah dibahas dalam pertemuan antara Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dengan Duta Besar Australia Rod Brazier.

Kerja sama yang dijajaki ini diharapkan bersifat timbal balik atau resiprokal guna menjaga keseimbangan perdagangan dan kepentingan nasional kedua negara.

"Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat," kata Sudaryono.

Dalam skema kerja sama tersebut, Indonesia berpeluang mengekspor urea ke Australia. Sebagai imbal baliknya, Indonesia akan mengimpor bahan baku industri pupuk yang penting seperti fosfat, termasuk jenis Diammonium Phosphate atau DAP dari negara tetangga tersebut.

Sudaryono menegaskan bahwa keunggulan Indonesia dalam memproduksi urea secara mandiri merupakan kekuatan strategis di tengah kondisi konflik global. Meski potensi keuntungan ekspor menggiurkan, ia menjamin bahwa kepentingan petani domestik tidak akan tergeser.

"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor," pungkas Sudaryono.

Buka sumber asli