Populasi Ikan Sapu-sapu di Ciliwung Meledak, Tanda Sungai Sedang Sakit
Populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung meningkat drastis, ini merurpakan tanda sungai tercemar. #kumparanSAINS

Populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung meningkat sekitar 24 kali lipat dalam 14 tahun terakhir. Dari yang awalnya hanya 12 ekor pada penelitian 2011 menjadi 287 ekor pada penelitian terbaru 2023–2024.
Temuan ini dapat dilihat dalam artikel berjudul "Reinvetarisasi dan Analisis Laju Peningkatan Diversitas Ikan di Sungai Ciliwung" yang dipublikasikan di Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025). Penelitian yang dilakukan Iqbal Mujadid dkk itu dipublikasikan pada 19 Agustus 2025.
Yusli Wardiatno, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, mengatakan bahwa meningkatnya populasi menandai bahwa kondisi Ciliwung sedang tidak baik-baik saja. Menurutnya, melimpahnya ikan sapu-sapu di Ciliwung bukanlah tanda ekosistem yang kaya, melainkan indikasi kuat bahwa sungai tersebut sedang "sakit".
“Saat ini, ikan sapu-sapu adalah spesies yang paling mudah ditemukan di Ciliwung, seolah-olah sungai tersebut ‘memang miliknya," kata Yusli (22/4).
Dominasi (ikan sapu-sapu) ini menunjukkan perubahan mendasar pada kondisi sungai, yang menyebabkan hilangnya keragaman ikan air tawar lokal yang sebelumnya dikenal tinggi di sungai-sungai di Jawa.- Yusli Wardiatno, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University -
Sapu-sapu dikenal mampu bertahan dalam kondisi air rendah kadar oksigen, air keruh, dan lingkungan yang tidak layak huni bagi spesies lain, menjadikannya penyintas yang mendominasi perairan. Di tengah dominasi ini, muncul ide untuk menangkap sapu-sapu sebanyak mungkin dan memanfaatkannya sebagai sumber ekonomi, yang dinilai masuk akal untuk menekan populasi.

Dalam penelitian yang dilakukan Iqbal Mujadid dkk, ikan sapu-sapu paling mudah ditemui di bagian hilir Sungai Ciliwung, yaitu di segmen DKI Jakarta 1 dan 2. Wilayah tersebut memiliki kualitas air rendah dan tingkat pencemaran tinggi. Kondisi sungai yang dipenuhi berbagai polutan membuat banyak spesies ikan lain tidak mampu bertahan hidup di area tersebut.
Dominasi ikan sapu-sapu juga diperkuat oleh ketiadaan predator alami. Kulitnya yang sangat keras membuat predator lokal sulit memangsa spesies ini, sehingga populasinya berkembang tanpa kontrol alami.
Yusli memperingatkan bahwa pemanfaatan tersebut harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Ikan yang hidup di perairan tercemar dapat mengakumulasi logam berat di dalam jaringan tubuhnya, dengan beberapa temuan menunjukkan kadar yang melampaui ambang batas aman untuk konsumsi.
“Risiko kesehatan juga tetap ada meskipun ikan diolah menjadi produk non-pangan seperti pakan, pupuk, atau bahan industri. Logam berat berpotensi kembali masuk ke rantai makanan atau terserap tanaman melalui pupuk jika proses pengolahannya tidak benar-benar bersih,” jelasnya.
Menurutnya, langkah mengendalikan sapu-sapu melalui penangkapan massal dan pemanfaatan ekonomi hanyalah solusi sementara. Persoalan dominasi sapu-sapu tidak cukup dijawab dengan hal tersebut. Langkah ini harus disertai dengan perbaikan kualitas sungai dan perubahan perilaku masyarakat, terutama kesadaran untuk tidak melepas spesies asing ke alam.