News Berita

Pesta Pora Raporan: Tentang Capaian Siswa yang Patut Dirayakan

Momentum penerimaan rapor semestinya menjadi perayaan keberhasilan proses belajar siswa di sekolah. Bukan karena perolehan nilai, tetapi karena potensi diri yang menjadi keunggulan setiap siswa.

Pesta Pora Raporan: Tentang Capaian Siswa yang Patut Dirayakan
Ilustrasi kegembiraan siswa dalam penerimaan rapor. (Sumber: generated Gemini AI)
Ilustrasi kegembiraan siswa dalam penerimaan rapor. (Sumber: generated Gemini AI)

Euforia penghujung semester dan tahun ajaran kerap mengundang gairah bagi seluruh pelajar dari mana-mana pun jenjangnya. Masa penghabisan tersebut lazimnya menjadi kesempatan yang mendatangkan gempita bagi segala tujuan dan penjuru, entah melaluinya dengan perjalanan panjang ke jujukan destinasi rekreasi atau sekadar bergurau riang bersama sanak famili. Namun, sadarkah kita alami bahwa liburan sekolah hanya sebatas distraksi dari beban batin atas angka capaian belajar yang tidak terpenuhi?

Mengingat demikian, hendaknya kita berkaca pada “biang keladi” atas segelintir ketidaktentraman yang menghantui para siswa hingga kini, ialah penerimaan laporan hasil belajar peserta didik atau raporan. Satu agenda yang dinanti banyak siswa dan wali murid, atau dapat juga memusnahkan selera dan semangat mereka dengan kecamuk kekhawatiran sebab jadi perihal kejut yang entah mengejawentahkan kemelut. Nilai-nilai mata ajar yang tersusun serasi atau progres belajar yang dinarasikan bak berita terkini tak ubahnya memberi dua muka di dua sisi berbeda, harap-harap maupun cemas-cemas.

Mungkin tidak banyak siswa dan orang tua yang menyambut hari penerimaan rapor dengan suka cita dan gegap gempita, oleh karena nilai dan hasil belajar yang kiranya tidak selaras dengan harap dan asa. Namun, hari pelaporan dan pembagian rapor seyogyanya menjadi momen bahagia bagi seluruh insan pendidikan.

Seyogianya kita patut memaknai penerimaan rapor sebagai perihal perayaan reflektif tentang pencapaian dan keberhasilan proses belajar siswa yang tumbuh berkelindan dengan bakat dan potensi dalam diri mereka masing-masing. Aspek integritas dan disiplin kejujuran akademik adalah nilai utama yang perlu diprioritaskan. Tentang nurani dan insaniah siswa yang tidak terkikis seiring berkembangnya intelektualitas atas ilmu, praktik, dan teori yang mereka dapatkan dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Terlepas dari angka-angka dalam baris dan kolom yang runut sejajar berdasarkan tiap-tiap mata pelajaran, hakikatnya telah menjadi keniscayaan bahwa setiap dari kita telah dibekali potensi dan kelebihan yang menonjol di subjek-subjek tertentu. Akan sangat naif jika kita hanya memandang kecerdasan manusia berdasarkan tolok ukur tunggal semata. Akan sangat bengis jika keberagaman potensi manusia adalah nihilitas yang tidak berketerimaan untuk dapat mewarnai dinamika dan kompleksitas kehidupan berhingar-bingar.

Sebagaimana manusia yang berkembang dinamis, semua dari kita—pun siswa dan anak-anak—telah berbekal mutlak dengan bakat dan keunggulan atas dirinya. Di dalamnya terdapat satu bidang yang sangat mencolok, tetapi satu bidang lainnya ada pula yang tidak terlalu kentara. Paradigma yang demikian telah sejak lama dibedah oleh Howard Earl Gardner melalui buah pemikirannya yang diberi tajuk Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences).

Konsepsi tersebut memaknai keahlian dan potensi manusia sebagai sesuatu multifungsi dan berkembang runut mengikuti dinamika kehidupannya, alih-alih menetap dan bertunggal. Namun, fenomena saat ini adalah hegemoni yang terbentuk atas standar dan kriteria manusia yang layak berpredikat “cerdas”. Padahal tidak ada kriteria mutlak tentang tolok ukur sebuah kecerdasan. Segala bentuk keahliannya adalah mahakarya progresivitas manusia yang bereksistensi, beretika, dan berpemikiran sesuai cara dan keunikannya tersendiri.

Barangkali kehadiran tulisan ini tidak bermaksud untuk bermuara sebagai justifikasi yang memberikan solusi, melainkan betapa lebih arifnya apabila kita berkehendak untuk memikirkan ulang dan merefleksikan standardisasi kecerdasan yang mengonstruksi pemikiran banyak insan pendidikan dewasa ini.

Kepada teman-teman pelajar, apabila terdapat angka-angka dalam buku rapor yang tidak sesuai angan-angan, tetap berbanggalah atas proses belajar dan potensi unik yang dimiliki. Hal demikianlah selaiknya menjadi perayaan keberhasilan yang tidak dipandang dari satu sisi kompetensi saja. Semua dari kita hebat dan berkeunggulan berdasarkan kebinekaan kecerdasan di masing-masingnya.

Kepada Bapak-Ibu wali siswa, sesederhana apa pun capaian anak-anak kita sudah semestinya menjadi kebanggaan yang patut mendapat apresiasi dan dukungan kita semua. Atas kerja keras dalam proses belajar, kejujuran, dan moralitas yang senantiasa dijunjung tinggi dalam setiap kegiatan akademik di sekolah.

Sudah barang tentu menjadi peran kita untuk membuka mata dan menyelia sukma dalam mendekonstruksi bias kecerdasan yang sangat timpang tersebut, bahwa laporan hasil belajar peserta didik bukan dipandang hanya dari “seberapa besarnya”, melainkan dari “bagaimana prosesnya” selama satu semester perjalanan bertumbuhnya di kelas. Sebab sejatinya, merayakan progresivitas manusia adalah tentang keberhasilan menumbuhkan humanitas serta kesadaran untuk memberi ruang inklusif bagi tiap-tiap potensi agar melesat sesuai kodratnya.

Buka sumber asli