News Berita

Perundingan AS-Iran Batal Digelar di Swiss, Timur Tengah Masih Membara

Perundingan AS-Iran Batal Digelar di Swiss, Timur Tengah Masih Membara #newsupdate #news #update #text

Perundingan AS-Iran Batal Digelar di Swiss, Timur Tengah Masih Membara
Wakil Presiden AS JD Vance melambaikan tangan saat naik ke pesawat Air Force Two setelah menghadiri pembicaraan tentang Iran di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/4/2026). Foto: Jacquelyn MARTIN / POOL / AFP
Wakil Presiden AS JD Vance melambaikan tangan saat naik ke pesawat Air Force Two setelah menghadiri pembicaraan tentang Iran di Islamabad, Pakistan, Minggu (12/4/2026). Foto: Jacquelyn MARTIN / POOL / AFP

Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang rencananya digelar di Swiss pada Jumat (19/6) resmi dibatalkan. Pembatalan tersebut memicu meningkatnya ketidakpastian gencatan senjata di Timur Tengah.

Pembatalan ini terjadi setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana kunjungan ke Jenewa, Swiss, yang sebelumnya menjadi lokasi pertemuan.

"Logistik dari negosiasi ini tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi," kata juru bicara Gedung Putih dalam pernyataan pada Kamis (18/6) malam, dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan bahwa delegasi AS sebenarnya sudah siap berangkat begitu jadwal final disepakati.

Pemerintah Swiss mengonfirmasi bahwa pertemuan di resor Burgenstock tidak akan berlangsung, namun tidak menjelaskan alasan pembatalan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Swiss hanya menyebut bahwa agenda tersebut dibatalkan tanpa rincian tambahan.

Iran belum memberikan respons resmi terkait pembatalan ini.

MoU Sementara Sudah Diteken

Cuplikan layar menunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian memegang memorandum yang ditandatangani dengan Presiden AS Donald Trump, di Teheran, Iran, Kamis (18/6/2026). Foto: Pool via WANA/Reuters TV
Cuplikan layar menunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian memegang memorandum yang ditandatangani dengan Presiden AS Donald Trump, di Teheran, Iran, Kamis (18/6/2026). Foto: Pool via WANA/Reuters TV

Sebelumnya, Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk damai pada Rabu (17/6).

Teheran menyatakan siap memulai pembicaraan teknis setelah kesepakatan sementara 14 poin memperpanjang gencatan senjata hingga 60 hari, termasuk di front Lebanon.

"Pihak Iran perlu melihat tanda-tanda implementasi kesepakatan interim terlebih dahulu," kata kantor berita semi-resmi Tasnim.

Trump juga menegaskan ingin mengakhiri perang dengan tuntutan "menyerah tanpa syarat" dari Iran.

Namun kesepakatan terbaru justru mencakup pelonggaran sanksi ekonomi dan pembekuan aset bernilai puluhan miliar dolar.

Komentar Petinggi Iran

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyebut Trump bertindak karena "keputusasaan".

Ia juga memperingatkan bahwa negosiasi nuklir lanjutan akan berlangsung sulit.

Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tengah, menghadiri rapat umum tahunan Quds, atau Hari Yerusalem di Teheran, Iran, pada 31 Mei 2019. Foto: AP Photo/Vahid Salemi
Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tengah, menghadiri rapat umum tahunan Quds, atau Hari Yerusalem di Teheran, Iran, pada 31 Mei 2019. Foto: AP Photo/Vahid Salemi

"Jika pihak Amerika terlalu menuntut, kami tidak akan menerimanya," ujarnya dalam pesan resmi yang dilansir Reuters.

Kesepakatan itu memberi waktu 60 hari untuk menentukan status program nuklir Iran.

Lebanon Masih Diserang

Sementara itu, Israel yang tidak ikut dalam perundingan tetap melanjutkan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Serangan terbaru Israel di Lebanon kembali menewaskan sedikitnya 15 orang, menurut laporan media negara NNA.

Situasi ini menambah keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan damai yang sedang diupayakan.

Dua pejabat Israel pada Kamis (18/6) menyebut pihaknya bernegosiasi dengan AS untuk mempertahankan pasukan di Lebanon selatan.

Buka sumber asli