News Berita

Perubahan Guru Tidak Terjadi Saat Pelatihan

Seorang guru tidak berhenti menjadi pembelajar ketika ia mulai mengajar. Justru karena ia mengajar, ia memilih untuk terus belajar.

Perubahan Guru Tidak Terjadi Saat Pelatihan
Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen
Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen

Ada anggapan yang cukup kuat di dunia pendidikan bahwa perubahan terjadi ketika guru mengikuti pelatihan. Semakin banyak pelatihan yang diikuti, semakin baik pula kualitas guru. Karena itu, setiap tahun sekolah dan pemerintah menginvestasikan waktu, tenaga, dan anggaran yang tidak sedikit untuk menyelenggarakan berbagai bentuk pengembangan profesional.

Pelatihan memang penting. Ia membuka wawasan, memperkenalkan pendekatan baru, dan memperkaya cara pandang seorang guru terhadap pembelajaran. Namun, setelah bertahun-tahun berada di lingkungan sekolah, saya justru sampai pada sebuah keyakinan lain: pelatihan bukanlah tempat perubahan terjadi. Pelatihan hanya membuka pintu. Perubahan sesungguhnya baru dimulai ketika guru kembali memasuki kelasnya.

Di ruang kelas itulah semua gagasan diuji. Tidak ada lagi fasilitator yang memberi arahan, tidak ada lagi rekan kelompok yang berdiskusi, dan tidak ada suasana yang membangkitkan semangat sesaat. Yang tersisa hanyalah guru, murid-muridnya, dan berbagai dinamika yang tidak pernah sama setiap hari.

Karena itulah perubahan tidak pernah dapat diukur dari banyaknya sertifikat yang dimiliki guru. Perubahan lebih tepat dilihat dari kebiasaan baru yang mulai tampak dalam keseharian. Cara guru menyambut murid di pagi hari, kesediaannya mendengar pendapat yang berbeda, keberaniannya mencoba strategi pembelajaran baru, atau kesabarannya mendampingi murid yang mengalami kesulitan sering kali jauh lebih bermakna daripada berbagai slogan tentang inovasi pendidikan.

Perubahan juga jarang berlangsung secara dramatis. Ia tumbuh perlahan. Bahkan sering kali orang yang mengalaminya tidak segera menyadarinya.

Saya teringat pada pertumbuhan seorang anak. Orang tua yang bertemu setiap hari sering merasa anaknya tidak banyak berubah. Namun ketika kerabat datang setelah beberapa bulan, mereka segera berkata, "Wah, sekarang sudah tinggi sekali." Perubahan memang sering tidak terlihat dari dekat, tetapi menjadi nyata ketika kita menengok perjalanan yang telah dilalui.

Demikian pula dengan guru.

Penulis berfoto bersama dengan guru-guru peserta seusai pelatihan ( foto pribadi)
Penulis berfoto bersama dengan guru-guru peserta seusai pelatihan ( foto pribadi)

Guru yang terus belajar mungkin tidak merasa dirinya berubah dari minggu ke minggu. Namun jika ia membandingkan cara mengajarnya hari ini dengan dua atau tiga tahun yang lalu, ia akan menemukan banyak hal yang dahulu dianggap biasa kini sudah ditinggalkan. Ia menjadi lebih sabar, lebih terbuka menerima masukan, lebih percaya kepada kemampuan murid, dan lebih menikmati proses belajar bersama.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Carol Dweck mengenai growth mindset. Menurutnya, kemampuan seseorang bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan kemauan memperbaiki diri. Dalam konteks pendidikan, guru yang memiliki pola pikir bertumbuh tidak melihat kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk berkembang.

Karena itu, sekolah seharusnya tidak hanya mengapresiasi hasil akhir, tetapi juga menghargai proses perubahan yang sedang dijalani guru. Tidak semua perubahan langsung menghasilkan prestasi yang tampak. Ada perubahan yang baru terlihat setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Namun justru perubahan yang tumbuh perlahan seperti itulah yang biasanya bertahan lebih lama.

Pengalaman di SD dan SMP Hikmah Teladan memperlihatkan bahwa perubahan lebih mudah terjadi ketika guru memiliki ruang untuk saling belajar. Forum guru, diskusi paralel, refleksi berkala, dan percakapan informal sering kali menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan sederhana yang kemudian mengubah praktik pembelajaran. Bukan karena ada kewajiban, melainkan karena tumbuh keinginan untuk menjadi lebih baik bersama.

Di sinilah saya melihat perbedaan antara sekolah yang berkembang dan sekolah yang berjalan di tempat. Sekolah yang berkembang tidak menunggu perubahan datang dari luar. Mereka membangun kebiasaan belajar di dalam komunitasnya sendiri. Setiap guru menjadi pembelajar, sekaligus menjadi sumber belajar bagi guru yang lain.

Perubahan bukanlah sebuah peristiwa yang selesai dalam satu hari. Ia adalah perjalanan panjang yang ditempuh melalui keberanian mencoba, kerendahan hati untuk menerima masukan, dan kesetiaan merawat kebiasaan-kebiasaan baik.

Mungkin murid tidak pernah mengetahui buku apa yang dibaca gurunya, pelatihan apa yang pernah diikutinya, atau sertifikat apa yang dimilikinya. Namun mereka selalu dapat merasakan satu hal: apakah guru di hadapan mereka masih bertumbuh.

Dan bagi saya, itulah ukuran perubahan yang paling bermakna. Seorang guru tidak berhenti menjadi pembelajar ketika ia mulai mengajar. Justru karena ia mengajar, ia memilih untuk terus belajar.

Buka sumber asli