News Berita

Pertamina dan Boeing Teken Kemitraan Pengembangan Rantai Pasok Bioavtur

Boeing menyabut positif kerja sama dari Pertamina karena saat ini Asia Tenggara salah satu pasar penerbangan yang tumbuh cepat, 7 persen tiap tahun. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Pertamina dan Boeing Teken Kemitraan Pengembangan Rantai Pasok Bioavtur
Penandatanganan MOU PT Pertamina (Persero) dengan Boeing terkait rantai pasok Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia Aero Summit 2026, Rabu (8/7/2026). Foto:  Fariza/kumparan
Penandatanganan MOU PT Pertamina (Persero) dengan Boeing terkait rantai pasok Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia Aero Summit 2026, Rabu (8/7/2026). Foto: Fariza/kumparan

PT Pertamina (Persero) dan Boeing menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) terkait rantai pasok dan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur pada armada pesawat di Indonesia.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan penguatan rantai pasok SAF semakin mendesak di tengah ketidakpastian situasi geopolitik global yang mengancam pasokan bahan bakar fosil, sehingga kehadiran SAF bukan lagi untuk mengurangi emisi karbon, namun juga demi ketahanan energi.

Simon menyebutkan, peran Boeing di industri SAF sudah berjalan setidaknya sejak tahun 2008, perusahaan bermitra dengan Virgin Atlantic dan GE Aviation melakukan salah satu penerbangan komersial pertama di dunia menggunakan bioavtur campuran minyak babassu, minyak kelapa, dan bahan bakar jet konvensional.

"Jadi hari ini, merupakan suatu kehormatan bagi Pertamina untuk menjajaki kemitraan penting ini dengan salah satu pelopor yang membantu mewujudkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan," katanya saat Indonesia Aero Summit 2026, Rabu (8/7).

Pertamina, kata dia, telah memproduksi dan mensertifikasi produk SAF, serta uji coba langsung pada penerbangan komersial, yakni campuran 2,4 persen SAF bersama PT Garuda Indonesia (Persero) dan 3 persen SAF dengan PT Pelita Air Service.

Adapun produksi bioavtur Pertamina dilakukan di Kilang Cilacap, yakni campuran avtur dengan minyak nabati dari kelapa sawit, minyak goreng jelantah (used cooking oil), serta bahan baku berbasis limbah berkelanjutan lainnya. Menurut Simon, perusahaan membutuhkan kemitraan untuk mengembangkan rantai pasok SAF lebih lanjut.

Menurutnya, Boeing memiliki keahlian teknis dan pengalaman penerbangan global, sementara Pertamina membawa teknologi kilang, keahlian biofuel, infrastruktur strategis, dan pengetahuan lanskap energi Indonesia. Ke depannya, kedua perusahaan membidik pembangunan jaringan SAF regional untuk Asia.

"Peningkatan skala SAF membutuhkan pengembangan bahan baku, teknologi canggih, sertifikasi, integrasi rantai pasokan, partisipasi maskapai penerbangan, regulasi yang mendukung, investasi, dan kemitraan yang tepercaya. Itulah mengapa kemitraan kami dengan Boeing sangat penting," tutur Simon.

Sementara itu, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, mengatakan Asia Tenggara merupakan salah satu pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat, dengan kenaikan 7 persen setiap tahun. Untuk itu, maskapai penerbangan di kawasan membutuhkan lebih dari 4.800 pesawat hingga tahun 2044.

"Kami sangat bangga bahwa Pertamina telah memutuskan untuk bekerja sama dengan kami sebagai mitra tepercaya di Indonesia. Kami membawa banyak keahlian, tetapi kami tidak dapat melakukannya tanpa pengetahuan lokal dan akar yang kuat yang dimiliki Pertamina di Indonesia," jelasnya.

Indra menilai, Indonesia berada pada posisi yang tepat menjadi peran utama penerbangan berkelanjutan di ASEAN. Kerja sama dengan Pertamina memperkuat kemitraan yang telah terjalin antara Boeing dengan Indonesia selama 77 tahun terakhir.

Pertamina Patra Niaga berkolaborasi dengan Kementerian ESDM, ITB, hingga BRIN untuk uji coba ground dan static test Sustainable Aviation Fuel (SAF) berupa bioavtur di pesawat Garuda Indonesia, Kamis (3/8/2023).  Foto: Pertamina Patra Niaga
Pertamina Patra Niaga berkolaborasi dengan Kementerian ESDM, ITB, hingga BRIN untuk uji coba ground dan static test Sustainable Aviation Fuel (SAF) berupa bioavtur di pesawat Garuda Indonesia, Kamis (3/8/2023). Foto: Pertamina Patra Niaga

Saat ini, kehadiran Boeing di Indonesia mencakup penerbangan komersial dan pertahanan, satelit, keberlanjutan rantai pasokan, modernisasi lalu lintas udara, keselamatan penerbangan, dan pengembangan talenta.

"Kemitraan dengan Pertamina ini merupakan perpanjangan dari komitmen kami. Kami berupaya memajukan masa depan penerbangan berkelanjutan Indonesia dan memperkuat ekosistem SAF di negara ini," tutur Indra.

Boeing dan Pertamina akan bekerja sama untuk mengidentifikasi bahan baku SAF, mendukung pengembangan kebijakan, dan mengeksplorasi peluang pasar yang dapat membantu membangun rantai nilai penerbangan yang lebih kuat.

Selain itu, Boeing juga telah berkolaborasi dengan ITB dan Pertamina dalam program Boeing University Innovation Leadership Development (BUILD), yang menjadi salah satu pilar pengumpulan bahan baku SAF dan analisis rantai pasok.

Buka sumber asli