News Berita

Perkelahian Pagi dan Cermin Kualitas Manusia

Melihat perkelahian di pagi hari mengingatkan kita bahwa tantangan terbesar bangsa bukan teknologi atau pembangunan, melainkan kualitas manusia dan kemampuan mengendalikan diri. #userstory

Perkelahian Pagi dan Cermin Kualitas Manusia
Ilustrasi berkelahi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Ilustrasi berkelahi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Selain di film-film yang saya tonton, mungkin baru kali itu saya melihat sebuah perkelahian sungguhan tepat di depan mata. Bukan adegan yang sudah disusun dengan koreografi tertentu, bukan pula pertengkaran yang berakhir dengan tawa karena ternyata hanya gurauan. Ini adalah perkelahian yang nyata: pukulan yang benar-benar dilayangkan, tendangan yang benar-benar diarahkan, dan kemarahan yang benar-benar meledak.

Peristiwa itu saya temui dalam sebuah aktivitas yang sebenarnya sangat biasa: berjalan kaki pada pagi hari.

Pagi sering saya anggap sebagai waktu paling jujur dalam kehidupan. Saat jalanan belum terlalu ramai, ketika kota belum sepenuhnya mengenakan topeng kesibukannya, kita dapat melihat wajah masyarakat dalam keadaan yang lebih apa adanya. Karena itu, berjalan pagi sering menjadi kesempatan untuk mengamati banyak hal yang luput dari perhatian ketika hari sudah sibuk.

Pagi itu, ketika hendak memasuki sebuah ruas jalan, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Semacam firasat kecil bahwa suasana di sana terasa kurang nyaman.

Di pinggir jalan terlihat seorang anak muda duduk dengan sepeda motor di depannya. Dari bahasa tubuh dan ekspresinya, saya menangkap kesan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Di seberang jalan berdiri dua anak muda lain di dekat sepeda motor mereka. Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka lakukan. Pengalaman mengajarkan bahwa terlalu lama mengamati orang yang tidak dikenal kadang justru membawa kita pada masalah yang tidak perlu.

Karena itu saya terus berjalan seperti biasa.

Namun beberapa detik kemudian situasinya berubah.

Seorang anak muda keluar dari sebuah kios atau rumah yang berada tepat di dekat dua orang tadi. Tanpa banyak bicara, ia langsung melayangkan pukulan kepada salah seorang dari mereka. Dalam hitungan detik, perkelahian pecah. Pukulan dibalas pukulan. Tendangan dibalas tendangan. Suara teriakan mulai terdengar. Warga sekitar berdatangan untuk melerai.

Saya hanya sempat menoleh beberapa saat sebelum melanjutkan langkah.

Di tengah keributan itu, saya mendengar seseorang berkata bahwa ada anak muda yang mabuk.

Saya tidak tahu pasti apakah informasi itu benar. Namun jika memang demikian, peristiwa tersebut mengingatkan saya pada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perkelahian antarindividu.

Ia mengingatkan saya pada persoalan tentang pengendalian diri, kualitas manusia, dan tantangan pembangunan yang sering kali tidak terlihat dalam angka-angka statistik.

Ilustrasi berkelahi. Foto: Generated by AI
Ilustrasi berkelahi. Foto: Generated by AI

Ketika Kesadaran Kehilangan Kendali

Banyak perkelahian yang terjadi di berbagai tempat memiliki pola yang hampir serupa. Ada ketersinggungan kecil. Ada emosi yang tidak terkendali. Ada keberanian yang muncul secara tiba-tiba. Dan tidak jarang terdapat alkohol di belakangnya.

Secara psikologis, alkohol memang diketahui dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan impuls. Bagian otak yang berfungsi untuk mempertimbangkan risiko dan konsekuensi bekerja tidak seoptimal ketika seseorang berada dalam kondisi sadar. Akibatnya, hal-hal yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan percakapan berubah menjadi konflik terbuka.

Kalimat sederhana yang biasanya diabaikan bisa terasa sebagai penghinaan. Tatapan biasa dapat dianggap sebagai tantangan. Perselisihan kecil berubah menjadi pertarungan ego.

Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa menyalahkan minuman keras semata tidak cukup menjelaskan persoalan.

Alkohol memang dapat menjadi pemantik. Namun, pemantik tidak akan menghasilkan ledakan jika tidak ada bahan bakar yang menyertainya.

Bahan bakar itu bisa berupa rendahnya kemampuan mengelola emosi, lingkungan sosial yang permisif terhadap kekerasan, lemahnya pendidikan karakter, atau minimnya ruang pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan konflik secara dewasa.

Karena itu, persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar ada atau tidak adanya minuman keras. Bahwa yang menentukan bukan hanya apa yang dikonsumsi seseorang, melainkan juga siapa yang mengonsumsinya dan dalam lingkungan sosial seperti apa ia hidup.

Pendidikan yang Tidak Hanya Mengajar

Ilustrasi pendidikan. Foto: Dok. Kemendikdasmen
Ilustrasi pendidikan. Foto: Dok. Kemendikdasmen

Selama ini, kita sering memaknai pendidikan secara sempit sebagai proses memperoleh ijazah, gelar, atau keterampilan kerja. Padahal, fungsi pendidikan yang lebih mendasar adalah membentuk manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Dalam pandangan filsuf Jerman, Immanuel Kant, pendidikan adalah proses yang membuat manusia keluar dari kondisi liar menuju kehidupan yang beradab. Artinya, pendidikan bukan hanya soal kecerdasan intelektual, melainkan juga kemampuan menahan diri ketika marah, kemampuan menghormati orang lain ketika berbeda pendapat, dan kemampuan berpikir sebelum bertindak.

Sayangnya, pembangunan pendidikan sering kali lebih berfokus pada aspek kognitif daripada pembentukan karakter.

Kita bangga ketika angka partisipasi sekolah meningkat. Kita senang ketika jumlah sarjana bertambah. Kita berbicara tentang bonus demografi dan generasi emas. Namun pada saat yang sama, kita masih menyaksikan berbagai bentuk kekerasan yang muncul karena persoalan-persoalan sepele.

Ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak dapat diukur hanya dari lamanya seseorang duduk di bangku sekolah.

Seseorang bisa saja memiliki pendidikan formal yang tinggi, tetapi tetap gagal mengendalikan emosinya. Sebaliknya, seseorang dengan pendidikan formal yang terbatas bisa memiliki kedewasaan luar biasa dalam menyelesaikan konflik.

Karena itu, pendidikan sejatinya harus dipahami sebagai proses membangun kualitas manusia secara utuh.

Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya pandai berbicara tentang kemajuan, tetapi juga mampu hidup berdampingan dengan orang lain tanpa harus menjadikan kekerasan sebagai bahasa penyelesaian masalah.

Generasi Emas dan Tantangan yang Sering Terlupakan

Ilustrasi Gen Z. Foto: Odua Images/Shutterstock
Ilustrasi Gen Z. Foto: Odua Images/Shutterstock

Mungkin kita sering mendengar istilah "Generasi Emas". Berbagai pidato, seminar, dan artikel berbicara tentang visi besar tersebut.

Tidak ada yang salah dengan optimisme itu.

Namun ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu terus diajukan: Manusia seperti apa yang akan mengisi masa depan tersebut?

Kita sering berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, hilirisasi industri, dan pertumbuhan ekonomi. Semua itu penting. Namun, fondasi dari seluruh agenda besar tersebut tetaplah manusia.

Tidak ada teknologi yang dapat menggantikan integritas.

Tidak ada investasi yang mampu menggantikan kedewasaan sosial.

Tidak ada pembangunan fisik yang dapat menutupi rapuhnya kualitas karakter masyarakat.

Karena itu, setiap kali kita menyaksikan kekerasan yang tampaknya kecil dan sepele, sebenarnya kita sedang melihat gejala dari persoalan yang lebih mendasar.

Perkelahian bukan hanya tentang dua orang yang saling memukul.

Ia adalah sinyal.

Sinyal tentang bagaimana individu memandang konflik.

Sinyal tentang kualitas lingkungan sosial yang membentuk mereka.

Sinyal tentang sejauh mana pendidikan berhasil menanamkan kemampuan mengendalikan diri.

Tentu tidak adil jika satu perkelahian yang saya lihat pada pagi itu digunakan untuk menilai kondisi seluruh masyarakat di daerah tersebut. Realitas sosial jauh lebih kompleks daripada satu kejadian yang kebetulan saya saksikan.

Namun, pengalaman itu tetap memiliki makna.

Seperti lampu indikator kecil di dashboard kendaraan, satu lampu yang menyala belum tentu menandakan mesin akan rusak total. Namun, ia memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan sebelum masalahnya menjadi lebih besar.

Melampaui Larangan dan Hukuman

Para siswa saat melakukan pembelajaran koding dan kecerdasan buatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT)7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
Para siswa saat melakukan pembelajaran koding dan kecerdasan buatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT)7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Karena itu, upaya mengurangi dampak buruk minuman keras tidak cukup hanya dilakukan melalui pelarangan atau penindakan. Kebijakan semacam itu mungkin diperlukan dalam batas tertentu, tetapi tidak akan menyelesaikan akar persoalan jika kualitas manusianya tidak ikut diperbaiki.

Masyarakat yang matang tidak dibangun hanya dengan aturan. Ia dibangun melalui keluarga yang sehat, sekolah yang membentuk karakter, lingkungan sosial yang positif, dan budaya yang menghargai pengendalian diri.

Kita sering berharap memiliki generasi yang unggul. Namun, generasi unggul tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang ditanamkan setiap hari: menghormati orang lain, mengelola kemarahan, bertanggung jawab atas tindakan, dan memahami bahwa kekuatan terbesar manusia sering kali bukan terletak pada kemampuannya menyerang, melainkan pada kemampuannya menahan diri.

Pagi itu, saya melanjutkan perjalanan setelah perkelahian tersebut mulai dilerai warga. Jalan kembali tenang. Aktivitas masyarakat kembali berjalan seperti biasa. Namun pikiran saya tidak langsung meninggalkan peristiwa itu.

Saya terus memikirkan betapa tipisnya jarak antara peradaban dan naluri. Betapa mudahnya manusia kehilangan kendali ketika rem dalam dirinya tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya bawa pulang pagi itu.

Bahwa masa depan sebuah bangsa pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gedung yang dibangun, seberapa canggih teknologi yang dimiliki, atau seberapa besar anggaran yang digelontorkan. Semua itu penting, tetapi tetap berada di lapisan luar.

Di lapisan yang paling dalam, masa depan selalu ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

Dan kualitas manusia—sebagaimana saya sadari pagi itu—sering kali terlihat bukan ketika keadaan berjalan normal, melainkan ketika seseorang sedang marah, tersinggung, atau memiliki kesempatan untuk bertindak tanpa kendali.

Di situlah sesungguhnya ukuran peradaban bekerja.

Bukan pada apa yang kita katakan tentang diri kita, melainkan pada bagaimana kita bertindak ketika emosi mengambil alih. Dan mungkin, sebelum terlalu jauh berbicara tentang generasi emas, terdapat pertanyaan yang perlu terus kita ajukan: Sudahkah kita sungguh-sungguh membangun manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri?

Buka sumber asli