Perjalanan Caca Tengker Menjalani Program IVF Hingga Punya Anak Pertama
Caca Tengker mengenang kembali perjalanannya menjalani program IVF di tahun 2017 untuk memiliki anak pertama. #momsupdate #update #mom #text

Tidak semua pasangan yang memutuskan memiliki anak bisa langsung mendapatkannya dengan mudah. Ya Moms, bagi Alsi Mega Marsha Tengker atau Caca Tengker dan suaminya, Barry Tamin, perjalanan menuju kehamilan justru dimulai dari sebuah keputusan besar yaitu menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).
Keputusan itu tidak lahir dari keterpaksaan, melainkan dari kesiapan yang dibangun perlahan sejak awal pernikahan.
Di balik keputusan tersebut, tersimpan proses panjang, mulai dari memahami kondisi kesehatan masing-masing, memperkuat hubungan sebagai pasangan, hingga menghadapi naik turunnya emosi selama menjalani program kehamilan.
Awal Mula Caca Tengker Memutuskan Menjalani Program IVF

Sejak awal menikah, Caca dan Barry rutin berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dari pemeriksaan tersebut, mereka mengetahui ada beberapa faktor yang berpotensi membuat kehamilan menjadi lebih sulit.
Dokter menemukan adanya masalah pada kualitas sperma Barry, serta kista yang dimiliki Caca. Informasi itu menjadi bekal penting bagi keduanya untuk memahami pilihan program kehamilan yang tersedia.
Ketika akhirnya merasa siap memiliki anak, mereka kembali berkonsultasi. Saat itu dokter menjelaskan bahwa peluang keberhasilan IVF lebih tinggi dibandingkan metode lain yang belum mereka coba, seperti inseminasi. Penjelasan tersebut membuat keduanya mantap mengambil langkah.
"Dokter bilang peluang terbesarnya memang dengan IVF, dan itu sudah terbukti dari data-data yang ada," ujar Caca saat ditemui kumparanMOM, Rabu (10/6).
Alih-alih merasa takut, Caca dan Barry justru menyambut proses itu dengan semangat.
"Kita memang mindful bahwa ini pilihan yang kita ambil bersama dan mau menjalaninya bareng-bareng," katanya.
Caca Tengker: Fondasi Terpenting Bukan Tindakan Medis, tetapi Hubungan Pasangan
Sebelum berbicara tentang suntikan hormon atau proses laboratorium, Caca justru menyoroti hal yang menurutnya paling penting dalam program kehamilan yaitu hubungan suami dan istri.
Pada awal pernikahan, sebelum memutuskan punya anak, kesiapan mental dan hubungan yang sehat menjadi modal utama sebelum menjalani program kehamilan apa pun.
Kesepakatan tujuan bersama itulah yang kemudian menjadi pegangan ketika mereka harus menghadapi berbagai tahapan IVF yang tidak selalu mudah.
Perjalanan IVF Caca Tengker: Menjalani Suntikan Hormon Seorang Diri
Salah satu fase yang paling menantang dalam IVF adalah stimulasi hormon untuk mematangkan sel telur.
Saat itu, sang suami, Barry masih bekerja di Bandung, sehingga sebagian besar proses harus dijalani Caca sendiri. Setiap hari ia menjalani suntikan hormon untuk merangsang pematangan sel telur sebelum proses pengambilan.
Secara fisik, Caca mengaku tidak mengalami banyak kendala. Namun, perubahan suasana hati menjadi tantangan tersendiri.
"Suntiknya tidak masalah, tapi mungkin mood aku yang bermasalah," katanya sambil tertawa.
Meski memiliki banyak dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat, jarak dengan suami membuatnya sesekali merasa sendirian.
Perubahan hormon yang terjadi selama proses IVF membuat emosi menjadi lebih sensitif. Pada masa-masa itulah kehadiran pasangan terasa sangat berarti.
Dari 11 Sel Telur hingga Menjadi Embrio

Setelah menjalani serangkaian suntikan, dokter menyatakan terdapat 11 sel telur yang matang dan siap diambil.
Proses pengambilan sel telur atau ovum pick-up dilakukan dengan pembiusan total. Sebelumnya, dokter sudah menjelaskan bahwa prosedur tersebut relatif aman, tetapi bisa menimbulkan rasa tidak nyaman setelahnya.
Benar saja, ketika efek bius hilang, Caca merasakan tubuhnya lemas dan perut terasa kembung selama beberapa hari. Meski demikian, proses berjalan sesuai rencana.
Pada hari yang sama, Barry juga memberikan sampel sperma yang kemudian dipertemukan dengan sel telur di laboratorium. Dari sana, tim embriolog memantau perkembangan embrio dari hari ke hari.
Caca masih mengingat bagaimana dirinya diperlihatkan perkembangan embrio tersebut, mulai dari pembelahan sel hingga mencapai tahap blastokista.
Tidak semua embrio berkembang dengan kualitas yang sama. Ada yang dinilai kurang baik dan tidak dapat digunakan, sementara beberapa lainnya memenuhi kriteria untuk ditransfer.
Saat itu mereka dihadapkan pada dua pilihan, membekukan embrio terlebih dahulu atau langsung melakukan transfer.
Caca memiliki keinginan kuat untuk segera melanjutkan proses.
"Aku maunya langsung ditanam saat itu juga," kenangnya.
Akhirnya, satu embrio terbaik dipilih untuk menjalani proses embryo transfer.
Empat Belas Hari yang Terasa Sangat Panjang bagi Caca Tengker

Bagi banyak pasangan yang menjalani IVF, masa tunggu setelah transfer embrio sering kali menjadi fase paling emosional. Hal itu pula yang dirasakan oleh Caca.
Selama 14 hari, ia harus menunggu untuk mengetahui apakah embrio berhasil berkembang menjadi kehamilan.
"Itu masa yang paling challenging," katanya.
Dokter sebenarnya tidak menyarankan melakukan tes kehamilan terlalu dini karena hasil negatif belum tentu menunjukkan kegagalan. Namun seperti banyak calon ibu lainnya, rasa penasaran sulit dibendung.
Caca diam-diam melakukan tes sendiri sebelum waktunya. Hari demi hari, garis pada test pack terlihat semakin jelas.
Meski begitu, kepastian tetap harus menunggu hasil pemeriksaan darah.
Sampai akhirnya, hari yang paling membekas dalam ingatan Caca datang di bulan Desember 20217.
Saat itu ia sedang dalam perjalanan menuju rumah ayahnya di Puncak ketika pesan WhatsApp dari perawat masuk ke ponselnya.
Hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar hormon kehamilan yang tinggi. Artinya, program IVF yang mereka jalani berhasil.
"Aku tidak mungkin lupa momen itu. Itu berita yang benar-benar ditunggu-tunggu," kenangnya.
Meski pada pemeriksaan USG kantung kehamilan belum terlihat karena usia kandungan masih sangat dini, hasil laboratorium sudah cukup menjadi jawaban atas penantian panjang mereka.
Di sisi lain, Caca juga melihat bagaimana Barry berjuang dengan caranya sendiri. Walaupun harus bolak-balik Bandung dan Jakarta, suaminya selalu berusaha hadir dan mendampingi setiap proses yang bisa ia jalani bersama.
Kini ketika menoleh ke belakang, Caca menyadari bahwa dukungan tersebut jauh lebih besar daripada yang ia rasakan saat emosinya sedang naik turun akibat hormon.
IVF Adalah Pilihan, Bukan Kompetisi
Dari pengalamannya, Caca berharap banyak orang melihat program kehamilan dengan lebih bijak.
Menurutnya, setiap pasangan memiliki kondisi, kemampuan, dan pertimbangan yang berbeda-beda. Karena itu tidak ada satu metode yang bisa dianggap lebih baik daripada yang lain.
Ia juga menyoroti masih adanya stigma yang sering kali lebih banyak menyalahkan perempuan ketika kehamilan belum terjadi, sementara pemeriksaan kesuburan pada laki-laki kerap diabaikan.
"Trying to conceive dengan cara apa pun itu pilihan masing-masing," ujarnya.
Bagi Caca, hal terpenting sebelum memilih IVF, inseminasi, maupun program hamil alami adalah memastikan hubungan pasangan berada dalam kondisi yang sehat.
Sebab pada akhirnya, program kehamilan bukan hanya soal kesiapan finansial atau fisik, tetapi juga kesiapan mental untuk berjalan bersama menghadapi segala kemungkinan.
"Mau IVF, good for you. Mau inseminasi, good for you. Mau natural, good for you. Tapi yang paling penting, hubungan pasangannya dulu yang diperbaiki," tutupnya.