Peringkat Kampus Palsu Dorong Euforia Reputasi Semu, Ancam Integritas Akademik
Predatory rankings mengancam dunia akademik, kenaikan peringkat yang dirayakan tanpa verifikasi cermat bisa berujung pada reputasi semu.
Reputasi adalah aset bernilai sangat tinggi bagi sebuah institusi. Sedemikian bernilainya sehingga segala upaya dikerahkan untuk membangun dan melindunginya. Salah satu faktor yang dapat menaikkan reputasi adalah pengakuan peringkat bagi institusi khususnya perguruan tinggi.
Di tengah lanskap kompetisi ribuan perguruan tinggi Indonesia, masuknya sebuah kampus dalam jajaran peringkat atas kampus terbaik menjadi dorongan penguat reputasi yang sangat dibanggakan oleh kampus itu.
Tidak heran, banyak perguruan tinggi memajang label peringkat terbaik di media-media publikasi mereka. Hal ini sah-sah saja karena status pemeringkatan itu mencerminkan pencapaian yang diperoleh dari upaya keras dan cerdas. Idealnya demikian.
Namun, dunia ini tidak ideal.
Ketika ada lembaga atau media yang memublikasi daftar peringkat kampus terbaik, ada euforia yang mendorong pihak kampus untuk segera membanggakan pengakuan itu. Euforia ini terkadang mengaburkan idealisme, berpotensi membawanya masuk dalam jebakan yang mengancam integritas akademik.

Disinformasi Peringkat Palsu
Salah satu kasus yang perlu menjadi perhatian bersama adalah fenomena “predatory rankings”, yakni pemeringkatan palsu yang diragukan kredibilitasnya. Istilah menyeramkan ini sepertinya meminjam dari fenomena serupa yang sudah dikenal sebelumnya di kalangan akademik, yakni predatory journal atau jurnal predator.
Baru-baru ini, beberapa media massa nasional menerbitkan berita mengenai peringkat kampus terbaik Indonesia berdasarkan pemeringkatan Webometrics 2026. Berita seperti ini selalu mendapatkan perhatian kalangan kampus, juga masyarakat yang khususnya sedang mencari informasi mengenai pilihan kampus untuk melanjutkan studi.
Yang menjadi masalah saat ini adalah dalam hal keabsahan informasinya. Beberapa berita tersebut rupanya merujuk pada data yang tidak kredibel, menggunakan referensi bukan dari sumber resmi Webometrics.
Vladimir M. Moskovkin dalam tulisannya “Predatory University Rankings Jeopardise the Value of Webometrics” (2026) mengungkap bahwa per Maret 2026, ia menemukan setidaknya ada 94 publikasi di Indonesia yang telah terjebak dalam kampanye disinformasi ini, merujuk data palsu Webometrics.
Pencetus Webometrics, Dr. (H.C.) Isidro F. Aguillo telah memberi peringatan adanya situs-situs palsu yang merilis data fiktif hasil rekayasa, mencatut istilah Webometrics dan menggunakan situs bernama domain mirip.
Masalah Webometrics dan uniRank
Situs resmi Webometrics dengan alamat webometrics.info dirilis oleh Cybermetrics Lab, bagian dari lembaga riset CSIC, Spanyol.
Pemeringkatan yang bernama lengkap Webometrics Ranking Web of Universities ini telah beroperasi sejak awal 2000-an. Dalam rentang waktu lebih dari dua dekade, Webometrics telah berkembang menjadi pemeringkat tepercaya berskala dunia.
Daftar peringkat Webometrics sejauh ini diakui kredibel dengan metodologi penilaian yang valid. Banyak perguruan tinggi di Indonesia merujuk pemeringkatan ini dalam peta reputasi mereka. Aguillo sebagai pencetus Webometrics juga pernah hadir langsung di beberapa kampus besar Indonesia untuk memberikan paparan mengenai sistem pemeringkatan kampus global.
Masalah timbul ketika situs resmi webometrics.info berhenti beroperasi tahun lalu. Aguillo mengumumkan bahwa sejak Januari 2025, data resmi Webometrics dirilis melalui platform Figshare.
Kemudian, sejak Januari 2026, data resmi yang dirilis melalui Figshare tersebut tidak lagi menyertakan daftar dan metrik lengkap secara terbuka. Hal ini dilakukan untuk membatasi akses data asli agar tidak mudah “dibajak” dan disalahgunakan oleh situs-situs palsu.
Aguillo pun menyerukan agar masyarakat tidak terjebak oleh “fake websites”.
Masalah kredibilitas pemeringkatan juga terjadi pada uniRank. Lembaga pemeringkat ini sebelumnya dikenal dengan 4ICU, telah beroperasi sejak 2005 menggunakan situs resmi unirank.org.
Sejauh ini, uniRank (4ICU) juga telah diakui kredibilitasnya secara global, menjadi rujukan reputasi oleh banyak perguruan tinggi di ratusan negara termasuk Indonesia.
Webometrics dan uniRank adalah dua pemeringkat global yang masing-masing menggunakan metodologi khas, dengan fokus penilaian dan pemeringkatan yang berbeda. Kedua pemeringkatan ini menunjukkan kekuatan reputasi perguruan tinggi pada areanya masing-masing.
Sekitar tahun 2019-an, muncul situs pemeringkatan yang bernama mirip dengan uniRank, yakni UNIRANKS. Nama domain yang digunakan pun mirip, yakni uniranks.com.
Reputasi Semu Mengancam Integritas Akademik
Memperhatikan kasus Webometrics dan uniRank beserta peringkat-peringkat tiruan atau yang bernama mirip lainnya, fenomena ini menimbulkan ancaman bagi dunia akademik.
Ketika euforia kenaikan peringkat dirayakan dengan kebanggaan maksimal tanpa verifikasi yang cermat, kebanggaan dan pencapaian itu akhirnya bisa menjadi reputasi semu yang justru berdampak negatif dan membahayakan.
Ketika kampus membanggakan informasi palsu, integritasnya patut dipertanyakan.
Di tengah era keterbukaan dan arus informasi yang deras saat ini, ketika masyarakat sangat rentan terhadap disinformasi, institusi pendidikan tinggi harus dapat menjadi penegak integritas yang dapat dipercaya oleh publik. Kampus jangan gegabah dengan klaim peringkat rancu.
Pun demikian dengan media massa sebagai pilar literasi digital yang memiliki tanggung jawab sebagai penjaga kebenaran dan penyaring informasi.
Media massa harus lebih sensitif dan kebal terhadap sumber-sumber palsu agar tidak menjadi bagian dari kampanye disinformasi yang menyesatkan. Media massa sangat dibutuhkan sebagai rujukan masyarakat dalam membedakan informasi yang benar dan yang salah. ~IS