Pengacara: Pria Misterius di Kasus Tewasnya ASN Bangkalan Wiraswasta dari Malang
Pengacara: Pria Misterius di Kasus Tewasnya ASN Bangkalan Wiraswasta dari Malang #newsupdate #update #news #text

Pengacara keluarga Ruly Yunis Setiawati, Risang Bima Wijaya, menyebut pria misterius yang bersama korban merupakan wiraswasta. Pria tersebut berasal dari Sulawesi yang tinggal di Kabupaten Malang.
Ruly merupakan Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kabupaten Bangkalan. Dia ditemukan tewas dalam mobil dinas pelat merah nopol M 1090 GP di parkiran Bandara Juanda, Sidoarjo, Rabu (25/6).
Dalam rekaman CCTV diketahui mobil dinas Ruly sempat dikendarai oleh pria misterius itu saat masuk ke parkiran bandara. Pria itu bermasker, berkacamata, dan mengenakan jam tangan di tangan sebelah kiri.
"(Asalnya pria misterius) luar Jawa. Tinggal di daerah Kabupaten Malang. Tapi dia asal dan lahir di luar Pulau Jawa. Bukan (seorang ASN). Tercatatnya dia itu wiraswasta," kata Risang kepada kumparan, Selasa (30/6).

Dari informasi yang beredar, pria misterius itu bernama Emran. Namun, Risang membantahnya. Ia hanya membenarkan bahwa pria misterius itu berinisial E, namun bukan Emran.
"Bukan ya, tebak-tebak itu. Saya kan guyonan sama teman-teman Bangkalan itu. Ini inisialnya apa? E, betul, inisialnya depannya E. Belakangnya? Ah ini kan huruf mati kan? Saya nyebut, N gitu tok. Asal sebut itu. Kalau inisialnya betul itu E. Ini enggak tahu tapi itu siapa, tidak tahu itu hanya hasil identifikasi, terus diprofiling, betul orang ini E ini," ucapnya.
Risang menyampaikan bahwa korban memiliki suami yang saat ini menderita sakit diabetes. Sehingga, suami korban beberapa hari harus tinggal di rumahnya.
"(Ruly) masih berstatus istri orang. Cerai dari suami pertamanya tahun berapa itu, belasan tahun yang lalu. Sakit (suami) hampir belum 1 tahun loh ya. Dia kan ada diabetes. Kakinya itu, ya orang diabetes tahu sendiri toh, ada luka di kaki kiri. Harus dirawat intensif, jadi dia itu enggak bisa ke mana-mana aslinya itu kalau enggak diantar orang," katanya.
"Selama hampir 1 tahun ini. Dan harus dirawat, ganti perban, ganti ini, ganti itu, gitu. Jadi kalau Senin sampai Kamis itu pulang ke orang tuanya suaminya ini biar enggak ngerepoti istrinya di rumah. Nanti kalau Jumat, Sabtu, Minggu, itu di rumahnya," lanjutnya.
Ia mengatakan bahwa adik korban telah diperiksa oleh pihak kepolisian untuk proses identifikasi pada Senin (29/6) kemarin.
Dari proses identifikasi itu, kata Risang, tidak ditemukan uang sepeser pun di dompet korban. Ia menduga bahwa uang di dompet korban diambil oleh pria misterius tersebut.
"Dimintai kayak betul identifikasi lah itu, seperti identifikasi, terus soal emas-emas yang hilang itu apa saja. Terus ditunjukkan kan bukti-buktinya itu, terus mengenali mengidentifikasi barang-barang pribadi korban yang ditemukan. Terus ditunjukkan barang bukti yang ditemukan juga, misalnya dompet, dompet besar, kemudian kartu ATM, kemudian HP," ujar dia.
"Jadi di sana itu tidak ada uang sedikit pun tidak ada uang itu, Rp 1.000 loh enggak ada. Enggak mungkin orang jalan, perjalanan dari Bangkalan-Malang berapa hari enggak ada uang tunai Rp 1.000 pun enggak ada. (Diduga) diambil," imbuhnya.

Risang menambahkan, pihak keluarga mendesak kepolisian untuk segera mengungkap kasus ini secepatnya.
"Keluarga ya tetap mendesak itu secepatnya. Identitas sudah terungkap, foto sudah terungkap. Dari foto itu, pasti ini terduga pelaku ini kan punya teman, punya saudara, punya kerabat, punya tetangga. Pasti ini dengan tersebarnya foto-foto terduga pelaku ini akan cukup memudahkan ya. Saya tidak ngomong cukup memudahkan, bisa saja mempersulit, tambah dia sembunyi juga bisa kan. Atau tambah jauh, tapi kan paling tidak cukup, bisa dikenali dulu identitasnya sudah," kata dia.
Sementara itu, Kasi Humas Polresta Sidoarjo, AKP Tri Novi Handono, mengatakan bahwa pihaknya saat ini masih terus menyelidiki dan memeriksa sejumlah saksi.
"Sampai dengan sekarang masih menunggu hasil laboratorium forensik Polda Jatim dan masih dalam penyelidikan, pendalaman, mengumpulkan data-data serta masih memeriksa beberapa saksi-saksi," kata Novi.