News Berita

Peneliti BRIN Ungkap Mi Lethek Ternyata Lebih Ramah untuk Gula Darah

Rupanya, keunggulan tersebut tidak lepas dari proses produksi yang masih mempertahankan metode tradisional. #kumparanFOOD #newsupdate

Peneliti BRIN Ungkap Mi Lethek Ternyata Lebih Ramah untuk Gula Darah
Ilustrasi mi lethek. Foto: Shutterstock
Ilustrasi mi lethek. Foto: Shutterstock

Warga Bantul pasti sudah enggak asing lagi dengan mi lethek. Mi berbahan dasar singkong ini merupakan salah satu kuliner legendaris yang diperkirakan sudah ada sejak 1940-an. Selain dikenal karena cita rasanya yang khas, kini mi lethek juga menarik perhatian karena manfaatnya.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa mi lethek punya karakteristik pencernaan yang berbeda dibandingkan mi berbahan dasar terigu.

Peneliti dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Hernawan, menyebut bahwa mi lethek mengandung lebih dari 63 persen slowly digestible starch (SDS), yaitu jenis pati yang dicerna lebih lambat oleh tubuh.

“Artinya, pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung bertahap, sehingga tidak memicu lonjakan gula darah yang cepat,” kata Hernawan, seperti dikutip dari laman BRIN, Minggu (3/5).

Ilustrasi mie lethek. Foto: Maharani afifah/Shutterstock
Ilustrasi mie lethek. Foto: Maharani afifah/Shutterstock

Hal ini juga membuat mi lethek berpotensi menjadi pilihan yang lebih aman, terutama bagi masyarakat yang ingin menjaga kadar gula darah. Sebab, nilai indeks glikemik (IG) mi lethek tergolong lebih rendah, yaitu berada di kisaran 68-69, dibandingkan pada mi instan berbahan dasar tepung terigu yang umumnya memiliki IG di atas 80.

Menurut Hernawan, temuan ini menunjukkan potensi mi lethek sebagai pilihan pangan yang lebih ramah untuk pengendalian gula darah, terutama bagi masyarakat dengan risiko penyakit metabolik. Rupanya, keunggulan tersebut tidak lepas dari proses produksi yang masih mempertahankan metode tradisional.

Mi lethek sendiri dibuat melalui tahapan fermentasi singkong kering (gaplek), penggilingan menggunakan batu, pengukusan berulang, hingga penjemuran alami di bawah sinar matahari. Proses ini membentuk struktur pati yang lebih kompleks sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna tubuh.

Pembuatan Mie Lethek di Yogyakarta. Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Pembuatan Mie Lethek di Yogyakarta. Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO

“Teknik pengolahan ini berperan dalam membentuk struktur pati yang lebih kompleks sehingga lebih lambat dicerna tubuh. Proses yang diwariskan secara turun-temurun tersebut terbukti memberikan dampak signifikan terhadap kualitas nutrisi dan karakteristik pencernaan produk,” jelasnya.

Secara historis, mi lethek awalnya berkembang sebagai solusi pangan di masa keterbatasan bahan pokok, ketika singkong digunakan sebagai pengganti beras dan gandum. Kini, perannya mulai bergeser menjadi salah satu alternatif pangan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dengan kandungan karbohidrat sekitar 88-89 persen serta kadar protein dan lemak yang rendah, mi lethek selama ini dikenal sebagai sumber energi. Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa pangan tradisional ini juga memiliki nilai tambah sebagai pangan fungsional.

Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Ethnic Foods (2026), yang semakin memperkuat posisi mi lethek, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk berbasis ilmiah.

Pembuatan Mie Lethek di Yogyakarta. Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Pembuatan Mie Lethek di Yogyakarta. Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO

Selain itu, penelitian ini juga membuka peluang pengembangan mi lethek dalam strategi diversifikasi pangan nasional. Berbahan dasar singkong yang mudah dibudidayakan dan adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan, mi lethek dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap gandum impor.

Meski demikian, tantangan masih ada, terutama terkait kandungan protein yang relatif rendah. Para peneliti mendorong adanya inovasi, seperti fortifikasi dengan bahan pangan lokal lainnya, tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.

“Mi lethek bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari sejarah dan budaya. Dengan pendekatan ilmiah, potensinya dapat dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan pangan sehat di masa depan,” ujarnya.

Buka sumber asli