Pemkab Akan Jalankan Rekomendasi UGM Tangani Kebakaran Misterius Rumah Sleman
Pemkab Akan Jalankan Rekomendasi UGM Tangani Kebakaran Misterius Rumah Sleman #newsupdate #update #news #text

Penelitian terkait rentetan peristiwa puluhan kebakaran misterius di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terus dilakukan UGM dan UPN "Veteran" Yogyakarta.
Kesimpulan sementara dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyebut kebakaran diduga berasal dari gas hidrogen yang terbentuk dari fermentasi limbah pemotongan ayam, yang selama ini menjadi usaha pemilik rumah.
UGM pun mengeluarkan sejumlah rekomendasi sebagai upaya mencegah kemunculan kembali api.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman, Makwan, mengatakan pemkab akan melaksanakan rekomendasi dari UGM.
"Saya kira rekomendasi ini tentu akan kita laksanakan. Terutama dengan hunian rumah karena menyangkut penataan rumah, dan kamar mandi maupun kamar tidur," kata Makwan.
Hal itu disampaikan Makwan saat pertemuan bersama para peneliti dari UGM hingga UPN Yogya di Kantor Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6).
Barang-barang di rumah yang mudah terbakar akan segera dikeluarkan.
"Untuk penjenuhan cairan basah, itu saya kira tetap akan kita laksanakan, sepanjang tidak membahayakan juga. Kan harus hati-hati ini. Karena yang tadi elektrostatis tadi itu kita tidak mudah juga menerjemahkannya," kata Makwan.
Pemilik rumah, Mutviana, yang hadir dalam pertemuan ini, oleh Makwan diminta untuk tenang. Bahwa peristiwa ini akan dihadapi bersama.
"Jadi Mbak Via tidak sendiri. Akeh kancane (banyak temannya). Jangan dipikir sendiri. Bahwa di dalam situasi darurat selalu ada solusi. Mbak Via juga terbuka, teman-teman akademisi juga bersama, selalu ada solusi," katanya.
Makwan juga meminta kepada relawan untuk senantiasa menemani keluarga Mutviana dalam menghadapi bencana ini.

Poin-poin rekomendasi UGM:
Sirkulasi udara dalam rumah dibuka selebar-lebarnya.
Pasang blower dan/atau kipas angin untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api.
Mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar dari dalam rumah.
Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen.
Diberitakan sebelumnya, Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM merilis kesimpulan sementara terkait puluhan kebakaran misterius yang terjadi di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Tim yang dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi ini menemukan pemicu api berasosiasi dengan gas hidrogen.
"Kesimpulan sementara, keluarnya api berasosiasi dengan gas hidrogen," kata Alva dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6).
Dugaannya, gas hidrogen ini berasal dari fermentasi limbah pemotongan ayam. Diketahui, pemilik rumah memiliki usaha pemotongan ayam yang berada di samping rumah sisi utara.
"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," katanya.

Lanjutnya, ada kemungkinan gas hidrogen itu bertemu dengan gas yang mudah terbakar pada suhu kamar.
"Sangat dimungkinkan, bersama dengan gas hidrogen tersebut ada gas lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin (PH3), yang diduga bisa terbentuk dari material yang kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam," katanya.
"Gas fosfin ini sayangnya tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," katanya.
Selain dari UGM, penelitian juga dilakukan UPN "Veteran" Yogyakarta. Temuan awal dari UPN menunjukkan adanya gas metana di sekitar lokasi kebakaran tersebut.