News Berita

Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga Demi Tekan Inflasi AS

Kenaikan suku bunga The Fed dinilai bisa menekan inflasi yang terjadi di AS. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga Demi Tekan Inflasi AS
Federal Reserve. Foto: Shutterstock
Federal Reserve. Foto: Shutterstock

Para pejabat Federal Reserve atau The Fed mendorong adanya kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi Amerika Serikat (AS). Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan sikapnya mendukung kenaikan suku bunga yang diperkirakan akan memanaskan pembahasan dalam rapat kebijakan The Fed berikutnya, sekaligus membuka peluang munculnya perbedaan pendapat pada pertemuan kedua yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh.

Dikutip dari Reuters, Hammack untuk pertama kalinya sejak menjabat mengaku mendengar langsung dari kalangan pelaku usaha yang meminta bank sentral mengambil langkah lebih tegas untuk mengendalikan inflasi. Di sisi lain, ia juga melihat semakin banyak konsumen yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

“Untuk pertama kalinya selama masa jabatan saya, saya mendengar dari pelaku usaha yang mengatakan mereka berpikir kita perlu mengambil tindakan untuk menekan inflasi, dan dari konsumen yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup serta merasakan keputusasaan yang semakin besar,” kata Hammack.

Dalam unggahan di LinkedIn menjelang periode tenang (blackout period) sebelum rapat kebijakan, Hammack menegaskan inflasi masih berada di level yang terlalu tinggi, sementara kondisi pasar tenaga kerja menurutnya telah mendekati tingkat lapangan kerja maksimum.

Ia memperkirakan inflasi inti yang diukur menggunakan core personal consumption expenditures (PCE) price index mencapai 3,3 persen pada Juni.

“Inflasi terlalu tinggi. Pasar tenaga kerja berada tepat di sekitar tingkat yang saya anggap sebagai kondisi lapangan kerja maksimum," ungkap Hammack.

Hammack, yang memiliki hak suara dalam penentuan kebijakan moneter tahun ini, menilai risiko inflasi yang bertahan tinggi menjadi perhatian utama. Sebelumnya, pada rapat April, ia mengajukan dissent bersama dua pejabat lain karena menilai kebijakan moneter saat itu masih terlalu longgar.

Pernyataan Hammack melengkapi komentar sejumlah pejabat The Fed sepanjang pekan ini yang bernada sama. Mereka mengkhawatirkan kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, serta tekanan inflasi yang dipicu lonjakan pembangunan pusat data untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI).

Presiden The Dallas Fed Lorie Logan pada Kamis juga menyatakan kondisi saat ini membutuhkan kenaikan suku bunga secara moderat.

Sementara itu, Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson mengatakan kebijakan moneter saat ini perlu dievaluasi kembali apabila inflasi tidak segera menunjukkan tanda-tanda melambat.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 15 persen pada pertemuan Juli dan meningkat menjadi sekitar 65 persen pada rapat September.

Analis Evercore ISI Krishna Guha menilai para pejabat The Fed yang berpandangan hawkish kini mulai menyampaikan pesan yang sejalan agar bank sentral benar-benar mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada September, jika data inflasi dalam beberapa bulan ke depan tetap tinggi atau konflik AS-Iran terus mendorong harga minyak naik.

Di sisi lain, tidak semua pejabat The Fed memiliki pandangan serupa. Presiden The New York Fed John Williams justru memperkirakan inflasi akan kembali melandai. Ia menilai tekanan kenaikan upah masih terbatas dan inflasi sektor perumahan diperkirakan terus melemah.

Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, meninggalkan East Room di Gedung Putih setelah upacara pelantikannya di Washington, DC, Jumat (22/5/2026). Foto: AARON SCHWARTZ/AFP
Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, meninggalkan East Room di Gedung Putih setelah upacara pelantikannya di Washington, DC, Jumat (22/5/2026). Foto: AARON SCHWARTZ/AFP

Adapun Ketua The Fed Kevin Warsh memilih tidak memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan ke depan. Ia mengatakan tidak ingin memberi sinyal kepada pasar terkait bagaimana data ekonomi akan memengaruhi keputusan suku bunga.

“Rekan-rekan saya tahu saya bukan pendukung besar forward guidance," kata Warsh.

Sementara itu, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi tahunan berdasarkan indeks harga konsumen (CPI) melambat menjadi 3,5 persen pada Juni dari 4,2 persen pada Mei. Meski demikian, Gubernur The Fed Christopher Waller menilai perlambatan tersebut belum cukup untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2 persen.

Menurut Waller, The Fed masih memerlukan bukti berupa beberapa bulan berturut-turut data inflasi yang lebih rendah sebelum mempertimbangkan perubahan arah kebijakan moneter.

Buka sumber asli