News Berita

Pedagang Teras Malioboro Belajar Bahasa Inggris, Jadi Pede Sambut Turis Asing

Pedagang batik, aksesori, hingga sate koyor di Teras Malioboro belajar bahasa Inggris bersama lembaga kursus agar lebih percaya diri melayani wisatawan mancanegara. #publisherstory #pandanganjogja

Pedagang Teras Malioboro Belajar Bahasa Inggris, Jadi Pede Sambut Turis Asing
Para pedagang Teras Malioboro mengikuti pelatihan bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dengan wisatawan mancanegara. Foto: Kumparan/Gracetika JP
Para pedagang Teras Malioboro mengikuti pelatihan bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dengan wisatawan mancanegara. Foto: Kumparan/Gracetika JP

Selama ini, kalau ada turis asing datang ke lapaknya, Bu Tini yang merupakan pedagang sate di koyor di Teras Malioboro hanya bisa berteriak, "Hello, I sell chicken sate, come come!" Selebihnya, biar bahasa tubuh yang bicara.

Bu Putri, pedagang aksesori di Teras Malioboro, punya pengalaman yang tak jauh berbeda. Setiap kali ada pertanyaan soal harga, ia mengandalkan kalkulator.

Pemandangan itulah yang mendorong UPT Balai Layanan Bisnis Teras Malioboro menggandeng Jogja English Training Centre (JETC) untuk menggelar pelatihan bahasa Inggris bagi para pedagang.

Salah satu kelasnya diadakan Jumat (23/5), dengan peserta pedagang batik, aksesori, hingga sate koyor yang berjualan di kawasan tersebut. Mereka duduk bersama dalam satu kelas untuk belajar cara menyapa, menawarkan produk, dan komunikasi dasar lainnya dalam bahasa Inggris.

Program pelatihan bahasa Inggris hasil kolaborasi UPT Balai Layanan Bisnis Teras Malioboro dan Jogja English Training Centre (JETC). Foto: Kumparan/Gracetika JP.
Program pelatihan bahasa Inggris hasil kolaborasi UPT Balai Layanan Bisnis Teras Malioboro dan Jogja English Training Centre (JETC). Foto: Kumparan/Gracetika JP.

Kepala Seksi Layanan Usaha Terpadu Teras Malioboro, Kuntarta, menyebut program ini lahir dari pengamatan di musim liburan, ketika banyak wisatawan mancanegara datang ke Yogyakarta.

"Tiap bulan Agustus itu banyak bule ya yang main ke Malioboro. Nah, alangkah sangat disayangkan kalau momentum itu dilewatkan karena kemampuan para pedagang dalam menawarkan kepada bule itu menjadi kurang," ujarnya.

Bagi para pedagang, kendala bahasa bukan soal ketidakmauan untuk belajar, melainkan kemampuan yang memang belum mumpuni. Tini mengungkapkan keinginannya untuk menarik pembeli asing selama ini terbentur ketidakmampuannya dalam berkomunikasi.

"Kita punya produk, tapi kita nggak bisa ngomong (dalam bahasa Inggris) gitu kan. Mau mengajak mereka untuk datang ke lapak kita untuk bisa membeli produk kita, kan juga perlu tahu bahasa mereka," tuturnya.

Ia langsung merasakan dampak dari pelatihan yang dijalaninya. Suatu hari, saat sedang menelepon anaknya, tiba-tiba seorang turis datang ke lapaknya. Ia pun spontan menawarkan dagangannya dalam bahasa Inggris.

"Sampai anak saya kaget. 'Ibu bisa ya bahasa Inggris?'" gelaknya.

Putri, pedagang eksesori di Teras Malioboro, juga langsung merasakan manfaat pelatihan bahasa Inggris ini sejak sesi pertama.

"Baru saja kita belajar tentang menyebutkan nominal harga-harga. Jadi besok bisa lebih jelas sama turisnya. Jadi nggak cuma sekadar jual-beli ya, misal mereka butuh bantuan atau tanya toilet di mana atau ini di mana," ujarnya.

Nia Alviani, tutor bahasa Inggris dari JETC, menjelaskan bahwa materi pelatihan dirancang khusus sesuai kebutuhan para pedagang.

“Goals-nya untuk program ini adalah untuk Bapak Ibu di sini lebih confident dalam menanggapi turis-turis yang akan datang di Teras Malioboro. Jadi fokusnya memang ke speaking skills," jelasnya.

Teras Malioboro, kawasan perdagangan yang menjadi lokasi pelaksanaan berbagai program pemberdayaan pedagang, termasuk pelatihan bahasa Inggris. Foto: Kumparan/Gracetika JP.
Teras Malioboro, kawasan perdagangan yang menjadi lokasi pelaksanaan berbagai program pemberdayaan pedagang, termasuk pelatihan bahasa Inggris. Foto: Kumparan/Gracetika JP.

Pada sesi kali ini, materi difokuskan pada cara mendeskripsikan dan mempromosikan produk dalam bahasa Inggris, termasuk teknik upselling.

"Kita mengajarkan expression yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan produk dalam bahasa Inggris sekalian berpromosi dalam bahasa Inggris untuk keperluan upselling juga. Jadi kalau turis awalnya cuma mau beli satu jadi lebih dari satu seperti itu," tambah Nia.

Pelatihan ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari. Tidak hanya pedagang, staf Teras Malioboro seperti petugas keamanan dan cleaning service pun turut dilibatkan. Hal ini dimaksudkan agar seluruh ekosistem Teras Malioboro siap menyambut wisatawan asing dengan lebih baik.

Buka sumber asli