Pasar Kita, Industri Siapa?
Kedaulatan industri tidak selalu dimulai dari proyek besar. Kadang ia dimulai dari barang yang kita beli setiap hari.

Alarm ponsel saya berbunyi pukul 04.02 dini hari. Saya terbangun dengan mata yang masih berat, lalu beranjak menuju kamar mandi. Hari itu saya berniat menjalani puasa sunnah. Setelah membersihkan diri, saya membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan sebelum azan Subuh.
Pilihan sahur saya pagi itu sangat sederhana: sepotong moci, pisang rebus, dan segelas air putih. Bagi sebagian orang mungkin itu terlalu sedikit, tetapi bagi saya sudah cukup. Bahkan jika dipikir-pikir, biasanya saya hanya sahur dengan air putih.
Barangkali karena suasana dini hari yang sunyi, atau karena pikiran yang masih bergerak perlahan setelah bangun tidur, perhatian saya tertarik pada sebuah kotak kemasan celana dalam yang beberapa waktu lalu saya beli. Entah mengapa, pagi itu saya merasa ingin membaca tulisan-tulisan kecil pada kemasan tersebut dengan lebih saksama.
Dari situlah sebuah perjalanan pikiran yang tidak saya rencanakan dimulai.
Ketika Bambu Berubah Menjadi Produk Industri
Pada kemasan itu tertulis bahwa produk tersebut terbuat dari 95 persen bamboo fiber. Saya terdiam sejenak. Selama ini saya mengenal bambu sebagai bahan bangunan, pagar kebun, perabot rumah tangga, atau alat musik. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan bahwa bambu dapat diolah menjadi serat tekstil yang begitu halus hingga menjadi pakaian yang menempel langsung di kulit manusia.
Rasa penasaran membuat saya mengambil kaos kaki baru yang saya beli bersamaan dengan celana dalam tersebut. Setelah saya amati, ternyata mereknya sama. Bahannya pun sama: bamboo fiber.
Ada sesuatu yang menarik dalam penemuan kecil itu. Bukan semata karena teknologinya, melainkan karena saya baru menyadari betapa panjang perjalanan sebuah barang sebelum sampai ke tangan konsumen. Di balik sepasang kaos kaki atau celana dalam terdapat riset, pengolahan bahan baku, teknologi manufaktur, desain produk, distribusi, hingga pemasaran.
Yang lebih mengejutkan, kedua produk itu ternyata berasal dari Cina. Disitu tercantum: Made in China. Pada kemasan juga tertera nama perusahaan Indonesia yang mengimpornya.
Saya kembali menatap tulisan kecil pada kemasan tersebut. Lalu muncul pertanyaan yang sederhana sekaligus mengganggu: mengapa untuk barang yang begitu sehari-hari, begitu dekat dengan tubuh kita, kita masih mengimpornya dari negara lain?
Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa pertanyaan itu sebenarnya bukan tentang celana dalam dan kaos kaki. Ia adalah pertanyaan tentang kemampuan sebuah bangsa mengubah sumber daya dan pengetahuan menjadi nilai tambah.
Sebab yang saya lihat pagi itu bukan sekadar label produk. Yang saya lihat adalah bambu yang telah berubah menjadi industri.
Menjadi Pasar atau Menjadi Produsen
Indonesia bukan negeri yang miskin sumber daya. Bambu tumbuh di banyak daerah. Kita mengenalnya sejak lama dan memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan. Namun ketika saya menemukan produk tekstil berbahan bambu, barang yang saya pegang justru merupakan produk impor.
Dari situlah kegelisahan saya bermula.
Bukan karena saya anti terhadap produk luar negeri. Bukan pula karena saya menolak perdagangan internasional. Dunia modern memang dibangun di atas hubungan dagang antarnegara. Tidak ada negara yang sepenuhnya hidup tanpa impor.
Namun ada perbedaan antara berpartisipasi dalam perdagangan global dan terlalu bergantung pada hasil produksi negara lain, bahkan untuk barang-barang konsumsi yang digunakan setiap hari.
Dalam ekonomi pembangunan, negara tidak menjadi maju karena memiliki sumber daya alam yang melimpah. Banyak negara kaya sumber daya justru tertinggal. Yang membedakan adalah kemampuan mengolah sumber daya tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Nilai terbesar tidak berada pada bahan mentahnya. Nilai terbesar berada pada teknologi yang mengolahnya, pada pabrik yang memproduksinya, pada tenaga kerja yang mengerjakannya, dan pada ekosistem industri yang membuat sebuah produk mampu bersaing di pasar.
Karena itu, masalahnya bukan bahwa Cina mampu membuat celana dalam dari serat bambu.
Masalahnya adalah mengapa produk yang saya temukan di rak toko berasal dari luar negeri, sementara Indonesia sendiri masih berjuang memperkuat industri manufakturnya.
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun sesungguhnya ia menyentuh persoalan yang jauh lebih besar: apakah kita ingin terus menjadi pasar yang besar, atau menjadi negara yang juga kuat dalam produksi?
Rak Toko yang Tidak Pernah Netral
Saya kemudian mencoba mengingat kembali saat membeli kedua barang itu.
Saya tidak pernah memeriksa negara asalnya. Saya tidak bertanya siapa produsennya. Saya hanya melihat kualitas yang tampak dan harga yang menurut saya masuk akal.
Saya menduga sebagian besar konsumen Indonesia melakukan hal yang sama.
Dan memang tidak ada yang salah dengan itu.
Namun semakin dipikirkan, saya menyadari bahwa rak-rak toko sebenarnya tidak pernah netral. Di sana berlangsung persaingan yang tidak terlihat antara industri satu negara dengan negara lainnya.
Setiap produk yang kita beli adalah hasil dari sebuah sistem ekonomi yang panjang. Di belakangnya ada pabrik yang beroperasi, pekerja yang memperoleh penghasilan, teknologi yang terus berkembang, dan modal yang terus berputar.
Karena itu, ketika jutaan konsumen mengambil keputusan yang sama setiap hari, keputusan tersebut akhirnya membentuk arah ekonomi sebuah bangsa.
Uang yang kita keluarkan bukan sekadar alat tukar. Ia adalah dukungan.
Ia menentukan industri mana yang berkembang.
Ia menentukan lapangan kerja mana yang bertambah.
Ia menentukan negara mana yang memperoleh manfaat ekonomi terbesar.
Persoalannya, dalam banyak kasus, kita tidak pernah menyadari dampak dari keputusan-keputusan kecil itu.

Industri Sudah Ada, Tetapi Apakah Diberi Ruang Tumbuh?
Setelah mencari tahu lebih jauh, saya menemukan bahwa dugaan saya pada pagi itu ternyata tidak sepenuhnya tepat. Indonesia bukan tidak memiliki industri tekstil berbahan bambu. Beberapa pelaku industri dalam negeri telah memanfaatkan serat bambu dan rayon untuk menghasilkan berbagai produk tekstil.
Namun justru di situlah kegelisahan saya bertambah.
Jika industrinya sudah ada, mengapa produk impor masih ada di rak-rak toko?
Jika kemampuan produksinya mulai tumbuh, mengapa barang yang saya temukan justru berasal dari luar negeri?
Saya juga menemukan bahwa sebagian bahan baku serat bambu yang digunakan industri tekstil masih banyak didatangkan dari Cina. Artinya, persoalannya bukan sekadar ada atau tidak adanya industri. Persoalannya adalah bagaimana membangun rantai industri yang lebih utuh dan lebih mandiri di dalam negeri.
Kita sering berbicara tentang hilirisasi pada sektor-sektor besar seperti mineral dan energi. Padahal semangat yang sama juga penting diterapkan pada sektor manufaktur. Kemajuan industri tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan barang yang rumit, tetapi juga dari kemampuan menguasai proses produksi barang yang digunakan masyarakat setiap hari.
Di sinilah saya mulai bertanya apakah kita sudah cukup serius memberi ruang tumbuh bagi industri nasional.
Bagaimana industri dalam negeri dapat berkembang jika harus berhadapan dengan arus produk impor yang diproduksi dalam skala raksasa dan biaya yang jauh lebih murah?
Bagaimana pelaku usaha lokal dapat memperbesar kapasitas produksi jika pasar domestiknya sendiri terus dipenuhi barang impor?
Bagaimana kita berharap lahir industri nasional yang tangguh jika ruang hidupnya semakin sempit bahkan di pasar negaranya sendiri?
Perlindungan Bukan Musuh Kemajuan
Selama ini setiap pembicaraan tentang pembatasan impor sering dianggap sebagai sikap yang anti-persaingan atau anti-globalisasi. Padahal sejarah pembangunan ekonomi menunjukkan bahwa hampir semua negara industri besar pernah melindungi sektor-sektor tertentu pada masa pertumbuhannya.
Mereka memahami bahwa industri yang baru tumbuh tidak bisa langsung disuruh bertarung melawan pemain global yang telah membangun teknologi, modal, dan efisiensi selama puluhan tahun.
Perlindungan bukan berarti memanjakan.
Perlindungan bukan berarti menolak persaingan.
Perlindungan adalah memberi kesempatan untuk bertumbuh.
Tentu tidak semua barang impor perlu dibatasi. Tidak semua sektor memerlukan perlindungan yang sama. Namun menurut saya, sudah saatnya kita lebih serius memikirkan pembatasan terhadap barang-barang tertentu yang sebenarnya telah mampu diproduksi di dalam negeri.
Tujuannya bukan untuk menutup diri dari dunia.
Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada industri nasional untuk memperkuat fondasinya, meningkatkan kapasitas produksinya, memperluas lapangan kerja, dan mengembangkan teknologinya sendiri.
Sebab tidak ada industri yang akan menjadi kuat jika terus-menerus menjadi penonton di pasar domestiknya sendiri.
Renungan di Meja Sahur
Pikiran-pikiran itu terus berputar hingga sahur saya selesai.
Saya kemudian teringat pada perbincangan mengenai nilai tukar rupiah yang belakangan sering menjadi perhatian. Sebagian orang melihat pelemahan rupiah sebagai kabar buruk. Sebagian lain berpendapat bahwa kondisi tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada barang impor karena produk luar menjadi lebih mahal.
Terlepas dari perdebatan itu, saya merasa persoalan yang lebih mendasar bukanlah kurs semata. Daya saing sebuah bangsa tidak dibangun oleh fluktuasi mata uang. Ia dibangun oleh kemampuan produksi, penguasaan teknologi, keberanian berinvestasi, dan konsistensi membangun industri nasional.
Pada akhirnya, seluruh renungan ini berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah kemasan celana dalam dan sepasang kaos kaki.
Namun mungkin memang demikian cara kesadaran bekerja. Ia tidak selalu datang melalui seminar ekonomi, pidato pejabat, atau laporan penelitian yang tebal. Kadang-kadang ia datang dari benda-benda yang setiap hari kita gunakan tanpa pernah benar-benar kita pikirkan.
Pagi itu saya menyadari bahwa persoalannya bukan terletak pada celana dalam yang saya beli. Persoalannya adalah apa yang diwakilinya.
Ia mewakili pertanyaan tentang nilai tambah.
Tentang kemampuan mengolah sumber daya.
Tentang keberpihakan pada industri nasional.
Dan tentang masa depan ekonomi yang ingin kita bangun.
Jika bahkan untuk produk sederhana yang sebenarnya telah mampu diproduksi di dalam negeri, kita masih membuka kran barang impor, maka yang dipertaruhkan bukan hanya pangsa pasar. Yang dipertaruhkan adalah kesempatan industri nasional untuk tumbuh menjadi kuat.
Mungkin karena itu, pertanyaan yang tersisa setelah sahur pagi itu terasa jauh lebih besar daripada sepasang kaos kaki dan sehelai celana dalam.
Sampai kapan industri kita hanya menjadi peserta dalam persaingan di negerinya sendiri, sementara pasar domestik yang begitu besar justru menjadi ruang tumbuh bagi industri negara lain?
Pertanyaan itu masih menggantung di kepala saya.
Dan barangkali, jika Indonesia sungguh ingin menjadi negara industri yang kuat, pertanyaan semacam itu perlu lebih sering kita ajukan. Sebab sebuah bangsa tidak akan naik kelas hanya karena memiliki pasar yang besar. Ia naik kelas ketika mampu menjadikan pasar itu sebagai tempat bertumbuh bagi industrinya sendiri, sebelum bersaing lebih jauh di pasar dunia.
Semua renungan itu berawal dari sahur yang sederhana.
Dari moci, pisang rebus, segelas air putih, dan sebuah tulisan kecil pada kemasan celana dalam yang tanpa sengaja mengingatkan saya bahwa kedaulatan industri ternyata bisa dimulai dari barang-barang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.