Nostalgia Jejak Kota Bandung Sambil Menyusuri Jalur Kereta Api Legendaris
Nostalgic Parahyangan Escape mengajak traveler menyusuri jalur legendaris Jakarta-Bandung melalui perpaduan budaya, wisata bersejarah hinggga kuliner khas Nusantara. #kumparanTRAVEL #newsupdate

Siapa yang belum pernah ke Bandung? Rasanya traveler pasti pernah mengunjungi kota satu ini atau bahkan ada yang lebih dari satu kali.
Ya, kota ini selalu berhasil membuat traveler untuk datang lagi bukan hanya karena deretan kulinernya yang lezat, suasana yang sejuk, tapi juga budaya dan destinasi wisatanya yang menarik.
Belum lagi, lokasinya yang tak jauh dari Jakarta membuat Bandung bisa diakses dengan mudah entah itu menggunakan transportasi pribadi, kereta api, hingga bus atau mobil travel.
Bosan dengan perjalanan ke Bandung yang itu-itu aja, rasanya kamu harus cobain experience satu ini. Bertajuk Nostalgic Parahyangan Escape, kamu bakal diajak menikmati pengalaman perjalanan eksklusif yang menghidupkan kembali romantisme jalur legendaris Jakarta-Bandung melalui perpaduan warisan budaya, destinasi bersejarah, kuliner khas Nusantara, serta transportasi ikonik dari masa ke masa.

Menurut CEO Plataran Indonesia, Yozua Makes, program ini terinspirasi dari Kereta Parahyangan yang mulai beroperasi pada 31 Juli 1971 dan telah menjadi bagian dari perjalanan lintas generasi masyarakat Indonesia.
"Pada waktu kita melihat Parahyangan saya ingat sekitar tahun 80-an saya lulus itu sangat terkenal. Apalagi pada tahun 70-an saat berkuliah di ITB, kita sering naik kereta api Parahyangan. Kita ingin membuat perjalanan kereta bukan hanya sebagai transportasi tapi menjadi sebuah pengalaman wisata yang membuat pariwisata Indonesia terus mendunia," ujar Yozua saat ditemui kumparan di KA Panoramic Parahyangan.

Bagi banyak orang, khususnya mereka yang memiliki keterikatan dengan Kota Bandung sebagai kota pendidikan dan pusat intelektual, Kereta Parahyangan bukan sekadar moda transportasi, melainkan bagian dari kenangan dan perjalanan hidup.
Melalui Nostalgic Parahyangan Escape, Plataran Indonesia, KAI Wisata, dan Whoosh menghadirkan pengalaman yang menghubungkan masa lalu dan masa depan dalam satu perjalanan yang dikurasi secara istimewa.
Dalam acara media trip yang digelar beberapa waktu lalu, kumparan pun berkesempatan mengikuti tur ini selama sehari dari Jakarta ke Bandung lalu kembali ke Jakarta lagi.
Nostalgia dengan Kereta Parahyangan

Perjalanan dimulai dari VIP Lounge KAI di Jakarta sebelum peserta menaiki Kereta Panoramic Privat menuju Bandung sambil menikmati panorama jalur legendaris Parahyangan, kudapan pilihan dari Teras by Plataran, dan sesi guided storytelling mengenai sejarah dan budaya Jawa Barat.
Setibanya di Bandung, kumparan diajak mengeksplorasi berbagai destinasi ikonik seperti Museum Gedung Sate, Villa Isola, Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta menikmati tur kota menggunakan Bandros.

Di Gedung Sate kami diajak mengetahui sejarah salah satu gedung ikonik di Bandung yang dulunya dikenal sebagai Departement Verkeer en Waterstaat atau Departemen Pekerjaan Umum, yang jadi gedung utama, yang kini dikenal sebagai Gedung Sate.
Menurut Edukator Museum Gedung Sate, M Wenno Guna Utama, asal usul penamaan Gedung Sate. Sejarah penamaan Gedung Sate ternyata berasal dari ornamen yang berada di puncak menara bangunan tersebut.
"Waktu itu mereka bangun pusat pemerintahan di kota Bandung pakai bahasa Belanda dan mereka enggak terima. Waktu itu kebiasaan orang Sunda atau warga Bandung cenderung menyebutkan sesuatu berdasarkan karakteristik. Nah mereka melihat ada penangkal petir yang menyerupai tusuk sate di atasnya itu jadi dari mulut ke mulut warga Bandung "tuh tingali aya gedung sate" jadi, sampai sekarang itu sebutan itu karena kebiasaan warga Bandung," ujarnya.

Menurut Wenno, di bagian atas menara tusuk sate itu adalah penangkal petir yang bentuknya menyerupai jambu air. Enam tusuk sate tersebut melambangkan biaya pembangunan gedung yang mencapai 6 juta gulden, mata uang yang digunakan Belanda pada masa itu.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi salah satu bangunan bersejarah yang ada di Bandung yaitu Vila Isola. Villa Isola adalah bangunan Art Deco ikonik di utara Bandung yang dirancang oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker pada 1932–1933. Dibangun sebagai kediaman pribadi hartawan D.W. Berretty, tempat ini memiliki sejarah panjang beralih fungsi menjadi hotel, markas militer, dan kini berfungsi sebagai gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Selain Universitas Pendidikan Indonesia, kumparan juga diajak mengunjungi salah satu universitas ternama di Bandung yang pernah menjadi tempat para tokoh Indonesia menimba ilmu seperti mantan presiden RI pertama yaitu Ir. Soekarno dan juga mantan presiden ketiga RI B. J. Habibie.
Eksplorasi Kota Bandung Naik Bandros

Sebelum tur berakhir, kumparan diajak mengelilingi kota Bandung menggunakan Bandros. Di mana kami diajak mengunjungi beberapa kawasan ikonik seperti Cihampelas, Jalan Wastukencana, Rumah Sakit Cicendo, Gedung Pakuan hingga berakhir di Stasiun Bandung untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang naik Whoosh.
Pengalaman ini juga dilengkapi dengan santap siang istimewa di Plataran Bandung dan eksplorasi karya seni serta budaya lokal di Lorong Gallery Bandung.

Sebagai destinasi premium venue & dining yang mengusung semangat The Heartbeat of West Java, Plataran Bandung menghadirkan pengalaman Next Level Indonesian Hospitality yang memadukan budaya lokal, layanan berstandar Plataran, dan suasana khas Jawa Barat.
Nostalgic Parahyangan Escape akan hadir secara berkala dua kali setiap bulan sepanjang tahun 2026 hingga 2027.

Melalui program ini, Plataran Indonesia bersama KAI Wisata dan Whoosh mengajak masyarakat menikmati perjalanan yang tidak hanya menghubungkan Jakarta dan Bandung, tetapi juga menyatukan sejarah, budaya, dan kemajuan Indonesia dalam satu pengalaman yang autentik dan berkesan.
Untuk reservasi dan informasi lebih lanjut kamu bisa menghubungi Plataran Bandung.