News Berita

No Na: Budaya dalam Industri Pop sebagai Pelestarian atau Tren Semata?

Grup vokal no na menghadirkan budaya Indonesia dalam industri modern. Apakah budaya lokal benar-benar dilestarikan atau hanya tren industri hiburan? #userstory

No Na: Budaya dalam Industri Pop sebagai Pelestarian atau Tren Semata?
No Na, group vokal perempuan Indonesia atas naungan 88rising. Foto: Instagram/@nonawav
No Na, group vokal perempuan Indonesia atas naungan 88rising. Foto: Instagram/@nonawav

No na merupakan grup vokal beranggotakan empat perempuan berbakat terdiri dari Baila Fauri, Christy Gardena, Shazfa Adesya, dan Esther Geraldine, yang resmi debut pada 2 Mei 2025 atas naungan label internasional, yaitu 88rising. Kemunculan no na menarik atensi masyarakat dalam negeri maupun luar negeri karena memadukan unsur budaya lokal dan konsep modern. Di balik popularitasnya itu, apakah budaya lokal benar-benar dilestarikan atau justru hanya dijadikan tren dalam industri hiburan modern?

Budaya Lokal di Tengah Dominasi Budaya Pop Global

Berkembangnya teknologi dan media sosial membuat budaya populer global semakin mudah masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh-pengaruh budaya asing mulai memengaruhi gaya hidup masyarakat, mulai dari selera musik, fashion, hingga cara berkomunikasi.

Indonesia bahkan telah menjadi pasar terbesar bagi industri K-pop. Berdasarkan data Chartmetric 2024, diketahui Indonesia menjadi konsumen K-pop terbesar di dunia dengan persentase 18,47%. Besarnya pengaruh budaya populer global menunjukkan bahwa budaya asing kini lebih mudah diterima dan dianggap relevan oleh generasi muda dibandingkan budaya tradisional.

Namun, berdasarkan survei Jakpat baru-baru ini, musik lokal kembali mendapat perhatian dari masyarakat. Minat masyarakat Indonesia mengalami lonjakan sebanyak 74% lebih tinggi dibandingkan ketertarikan terhadap K-pop yang berada pada angka 40%.

Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia tidak lagi hanya mengikuti tren global, tetapi juga mulai memberikan ruang apresiasi terhadap karya dan identitas lokal—walau pada kenyataannya K-pop masih memiliki penggemar besar, khususnya di kalangan Gen Z dan penggemar perempuan.

Melalui K-pop, Korea Selatan mampu memperkenalkan bahasa, makanan, fashion, hingga budaya ke kancah dunia. Mereka memanfaatkan budaya sebagai identitas dalam membangun popularitas global. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa selain menjadi warisan tradisional, budaya lokal memiliki nilai ekonomi dan daya tarik internasional.

Ilustrasi ragam budaya di berbagai lokasi wisata Indonesia. Foto: Oka diana/Shutterstock
Ilustrasi ragam budaya di berbagai lokasi wisata Indonesia. Foto: Oka diana/Shutterstock

Indonesia juga memiliki peluang yang sama untuk memperkenalkan budaya lokal melalui industri hiburan modern. Kekayaan budaya, bahasa daerah, musik tradisional hingga keanekaragaman alam Indonesia dapat menjadi identitas kuat yang membedakan karya Indonesia dari industri hiburan negara lain.

Sejalan dengan ini, kemunculan no na menarik karena mereka mencoba menghadirkan unsur budaya Indonesia ke dalam konsep pop modern yang dekat dengan generasi muda dan pasar internasional.

Identitas Indonesia dalam Grup Vokal no na

Pemilihan nama no na berasal dari kata “nona” dalam bahasa Indonesia yang berarti perempuan muda. Melalui nama tersebut, no na menunjukkan kedekatan mereka dengan identitas lokal Indonesia dalam industri pop modern. Mereka juga menghadirkan unsur-unsur budaya lokal dalam konsep musik video dan penampilan mereka.

Dalam debut pertamanya berjudul Shoot, no na menampilkan visual yang mengandung elemen-elemen budaya Indonesia. Video tersebut memperlihatkan berbagai lanskap alam, seperti Sawah Terasering Tegalalang di Ubud, Air Terjun Banyumala yang dikenal masyarakat setempat sebagai Air Terjun Tirta Kuning. Grup no na mencoba memperlihatkan betapa kaya alam Indonesia ke kancah dunia.

Mereka juga menghadirkan rumah panggung dengan nuansa arsitektur Bali, hingga ukiran batu dan desain bangunan yang menyerupai gaya arsitektur Lombok sebagai bagian dari identitas lokal yang mereka tampilkan. Dengan mengeksplor permainan tradisional domikado dan congklak dalam video, mereka ingin memperkenalkan kedalaman budaya lokal dan simbol budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Penggunaan wastra tradisional dalam foto promosi maupun musik video memperlihatkan upaya no na dalam membawa identitas lokal dalam industri pop. Kain tenun, batik, serta aksesori etnik digunakan untuk mencerminkan warisan budaya serta nilai filosofis masyarakat Indonesia. Mereka menunjukkan, bahwa budaya tradisional dapat berjalan berdampingan dengan modernitas tanpa kehilangan identitasnya.

Ilustrasi kain tenun. Foto: Lucy Eni/Shutterstock
Ilustrasi kain tenun. Foto: Lucy Eni/Shutterstock

Unsur budaya Nusantara kembali terlihat dalam musik video Work, salah satunya terlihat saat Christy memainkan ceng-ceng, instrumen tradisional asal Bali. Terdapat gerakan tari yang terinspirasi dari budaya Papua serta penggunaan irama gamelan dalam aransemen musik mereka. Dalam musik video ini, mereka menghadirkan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, yaitu mengangkat galon sebagai konsep visual.

Penampilan no na dalam acara Gold Gala 2026 semakin menunjukkan upaya mereka dalam membawa identitas Indonesia ke panggung internasional. Sebagai salah satu delegasi Indonesia, keempat anggota tampil mengenakan wastra Nusantara yang dipadukan dengan sentuhan modern, seperti tenun Pandai Sikek, Prada Bali, batik, dan tapis Lampung. Mereka tetap tampil elegan dengan budaya-budaya lokal di tengah industri hiburan global.

Antara Pelestarian Budaya dan Tren Industri

Kehadiran unsur budaya lokal dalam industri pop modern menjadi strategi yang sangat efektif dalam memperkenalkan identitas Indonesia. Melalui musik, visual, fashion, budaya lokal dapat menjangkau masyarakat luas, termasuk generasi muda dengan cara yang lebih modern dan mudah diterima. Kemunculan no na menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang untuk terus berkembang dalam arus globalisasi.

Penggunaan budaya lokal dalam industri hiburan modern cukup dikhawatirkan—karena budaya hanya dijadikan bagian dari kebutuhan pasar. Budaya yang harusnya dipahami sebagai warisan dan identitas masyarakat perlahan berubah menjadi unsur pendukung dalam strategi industri.

Wastra tradisional, alat musik daerah, dan berbagai simbol budaya lainnya dikemas mengikuti tren global agar terlihat unik dan berbeda dalam persaingan industri pop. Berdampak pada masyarakat yang asing pada budayanya sendiri. Mereka hanya mengenal sebatas yang dilihat tanpa memahami nilai, sejarah, dan makna di balik budaya tersebut.

Risiko lainnya yaitu munculnya stigma budaya "hanya keren" jika sudah modern. Ketika budaya selalu dikemas lewat pop modern, ada kemungkinan masyarakat hanya mau mengapresiasi budaya jika bentuknya dimodernisasi. Akibatnya, budaya dalam bentuk asli perlahan mulai ditinggalkan karena tidak memiliki relevansi dengan perkembangan zaman.

Girl group asal Indonesia no na menghadiri Gold Gala 2026 di The Music Center, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Sabtu (9/5/2026). Foto: Amy Sussman / GETTY IMAGES/AFP
Girl group asal Indonesia no na menghadiri Gold Gala 2026 di The Music Center, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Sabtu (9/5/2026). Foto: Amy Sussman / GETTY IMAGES/AFP

Selain itu, industri hiburan memiliki siklus tren sangat pendek, di mana jika unsur budaya hanya dijadikan tren industri semata, budaya berisiko ikut ditinggalkan dan digantikan dengan hal baru. Akibatnya, pelestariannya tidak bertahan lama.

Industri hiburan bisa menjadi ruang bagi budaya Indonesia untuk terus hidup dan berkembang. Penggemar musik—terutama generasi muda saat ini—cenderung mencari tahu makna budaya di balik pakaian, simbol, maupun properti yang digunakan idolanya.

Ketika merasa memiliki kedekatan dengan idolanya, mereka dipicu untuk memiliki rasa bangga dan ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya di kehidupan nyata, misalnya belajar menari daerah, memakai baju batik, atau mempelajari lagu daerah. Melalui video musik, mereka juga mendapatkan pengetahuan kebudayaan Indonesia dari berbagai daerah.

Keuntungan lainnya didapatkan melalui perekonomian pengrajin lokal. Ketika grup pop memakai wastra tradisional di video musik—bahkan dalam kehidupan sehari-hari—produk budaya lokal ikut mendapatkan perhatian masyarakat luas. Hal ini secara tidak langsung membantu mempromosikan karya pengrajin sekaligus memutar roda ekonomi kreatif daerah.

Grup no na berhasil menunjukkan bahwa budaya Indonesia tetap tampil mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya. Jika dimanfaatkan dengan tepat, tren pop dapat menjadi strategi awal yang efektif untuk memperkenalkan sekaligus menjaga budaya lokal agar tetap hidup di era modern.

Budaya Lokal dan Tantangan Generasi Muda

Di era modern seperti sekarang, menjaga kebudayaan lokal bukanlah hal yang mudah bagi generasi muda. Tantangan terbesar datang dari derasnya arus informasi dan budaya asing yang masuk dari media sosial. Musik K-pop, gaya hidup Barat, hingga tren global lainnya sangat mudah diakses. Kondisi ini membuat generasi muda lebih akrab dengan populer global dibandingkan budaya lokal dalam lingkungan sendiri, sementara budaya tradisional justru kerap dianggap kuno, kaku, dan membosankan.

Grup no na rilis lagu Rollerblade. Foto: Instagram @nonawav
Grup no na rilis lagu Rollerblade. Foto: Instagram @nonawav

Minat pada budaya lokal pelan-pelan mengalami penurunan, terlebih dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, generasi muda memiliki peran besar terhadap keberlangsungannya. Industri hiburan menjadi wadah memperkenalkan budaya dengan cara lebih kreatif dan dekat dengan anak muda. Seperti no na, mereka menunjukkan bahwa budaya tidak harus tampil secara formal atau tradisional untuk dikenal masyarakat, tetapi bisa juga dikenal dengan pendekatan yang lebih modern dan relevan dengan perkembangan zaman.

Meski demikian, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada industri hiburan. Partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, diperlukan dalam menjaga budaya lokal tetap hidup. Generasi muda dapat mulai mengenal dan memperkenalkan budaya melalui langkah sederhana, seperti mengikuti kegiatan budaya, menggunakan produk lokal, mempelajari bahasa daerah, hingga membagikan konten budaya melalui media sosial.

Lingkungan pendidikan, komunitas seni, masyarakat, hingga pemerintah perlu menghadirkan ruang yang lebih dekat dan terbuka bagi generasi muda untuk mengenal budaya lokal. Salah satunya melalui pembelajaran seni dan budaya dalam kurikulum yang lebih relevan dengan kehidupan anak muda. Komunitas seni turut menghadirkan pertunjukan budaya yang lebih mudah diakses dan terjangkau bagi kalangan muda. Masyarakat juga dapat menghidupkan kegiatan tradisi lokal dengan melibatkan generasi muda secara langsung.

Pemerintah juga dapat menghadirkan festival seni dan budaya secara rutin yang melibatkan kreativitas generasi muda. Melalui kegiatan tersebut, anak muda memiliki ruang untuk berekspresi sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokalnya sendiri. Memberikan dukungan terhadap karya anak muda yang mengangkat budaya lokal menjadi langkah penting dalam memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas.

Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu mendekatkan generasi muda dengan budayanya sendiri sekaligus budaya lokal agar tetap hidup bersama perkembangan zaman. Budaya lokal bukan sekadar nilai estetika atau strategi pasar global, melainkan juga identitas yang membentuk masyarakat Indonesia.

Modernisasi dapat menjadi jalan untuk memperkenalkan budaya pada dunia, tetapi pelestariannya tergantung bagaimana masyarakat memahami, menghargai, dan menjaga budaya tersebut dalam kehidupannya. Jika generasi muda mampu berjalan berdampingan dengan modernitas tanpa melupakan akar budayanya, budaya Indonesia tetap hidup dalam arus globalisasi tanpa kehilangan nilainya.

Buka sumber asli