"Night Shift for Cuties", Kisah Persahabatan dan Fenomena Fangirling
Serial ini enggak hanya mengankat kisah tentang dunia K-Pop dan fangirling tapi juga dinamika persahabatan yang kompleks dadn emosional. #kumparanHits #newsupdate

Netflix Indonesia baru saja merilis serial terbaru mereka yaitu "Night Shift for Cuties". Serial yang mulai tayang pada Kamis (4/6) tak hanya mengangkat kisah tentang dunia K-Pop dan fangirling, tetapi juga dinamika persahabatan yang kompleks dan emosional.
Hal itu diungkapkan para kreator dan pemain dalam konferensi pers yang digelar menjelang penayangan serial tersebut.
Sutradara Monica Vanesa Tedja menjelaskan bahwa inti cerita Night Shift for Cuties berpusat pada hubungan dua sahabat, Muti dan Jenar. Menurutnya, persahabatan perempuan memiliki banyak lapisan emosi yang kerap jarang ditampilkan secara jujur di layar.

"Ini adalah cerita tentang persahabatan perempuan yang sangat rumit. Kadang berantakan, penuh pertengkaran, tapi di balik itu ada rasa sayang dan kepedulian yang tulus," ujar perempuan yang akrab disapa Mica dalam acara konferensi pers yang digelar baru-baru ini.
Inspirasi cerita tersebut ternyata berangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara saat melihat perubahan seorang teman yang menjadi penggemar berat grup K-pop. Monica mengaku tertarik melihat bagaimana sosok temannya berubah menjadi lebih bersemangat dan memiliki gairah hidup setelah menemukan idolanya.
"Dari situ saya mulai bertanya, sebenarnya apa yang terjadi di balik passion dan obsesi seorang penggemar?" katanya.

Meski berlatar dunia K-pop, Monica menegaskan serial ini tetap relevan bagi penonton yang bukan penggemar musik Korea. Menurutnya, semua orang pasti pernah memiliki sosok yang dikagumi atau sesuatu yang menjadi penyemangat dalam hidup.
Selain mengangkat dunia fandom, serial ini juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan. Karena itu, kreator memilih menghadirkan girl group sebagai bagian penting dalam cerita.
"Kami ingin membahas bagaimana perempuan menghadapi berbagai ekspektasi dan standar yang sering kali membatasi mereka. Bukan hanya di industri K-pop, tetapi juga di banyak bidang kehidupan," jelas Monica.

Pemeran Muti, Shenina Cinnamon, mengaku langsung tertarik bergabung ketika mengetahui serial tersebut memiliki unsur K-pop. Namun, yang membuatnya semakin yakin adalah karakter Muti yang digambarkan sebagai sosok pekerja keras dan mewakili generasi sandwich.
"Dia terus berjuang mengejar mimpinya meski hidupnya tidak mudah. Karakter seperti itu yang membuat saya tertarik," kata Shenina.
Sementara itu, Nadya Syarifa yang memerankan Jenar mengaku memiliki kedekatan emosional dengan karakternya. Menurutnya, Jenar adalah perempuan muda yang sering mendapat penilaian dari lingkungan sekitar, tetapi menemukan kepercayaan diri melalui sosok idolanya.
"Jenar seperti meminjam kepercayaan diri dari idolanya untuk bisa menjalani hidup. Saya merasa sangat relate dengan perjalanan emosinya," ujar Nadya.

Menariknya, Night Shift for Cuties juga menjadi debut akting Nadya di serial layar kaca. Ia mengaku banyak belajar selama proses produksi dan merasa beruntung mendapatkan dukungan dari para pemain serta tim kreatif.
Dalam proses penggarapan musik, tim produksi bekerja sama dengan komposer Henny Gabriel dan Monica Eva Sandi. Untuk tahap mixing, mereka turut menggandeng studio musik asal Korea Selatan guna menghadirkan nuansa K-pop yang autentik.
Serial ini juga memperkenalkan grup fiktif bernama Purple Tea yang terinspirasi dari sejumlah girl group populer. Monica mengungkapkan bahwa secara konsep dan karakter, grup tersebut banyak mengambil inspirasi dari grup seperti XG dan NewJeans.
Di akhir sesi, Monica menggambarkan Night Shift for Cuties seperti lapisan bawang yang terus mengungkap emosi baru seiring perkembangan cerita.
"Kelihatannya ringan, tapi semakin dalam ceritanya dikupas, semakin banyak emosi yang muncul. Kami ingin penonton bisa menerima seluruh emosi mereka dan menjadi diri sendiri," tutupnya.