News Berita

Niatnya Memberi Kebebasan, Jawaban 'Terserah' Suami Justru Makin Membebani Istri

Sering bilang “terserah” ke pasangan, apakah benar itu bentuk dukungan? Simak penjelasannya! #momsupdate #moms #update #text

Niatnya Memberi Kebebasan, Jawaban 'Terserah' Suami Justru Makin Membebani Istri
Ilustrasi pasangan suami istri bertengkar atau berdebat. Foto: Shutterstock
Ilustrasi pasangan suami istri bertengkar atau berdebat. Foto: Shutterstock

Kalimat sederhana seperti 'terserah' sering dianggap sepele dalam komunikasi suami istri. Padahal, di balik kata tersebut, bisa tersimpan dampak emosional yang tidak kecil bagi pasangan, terutama istri.

Psikolog Klinis, Kezia Raraseta Djawa, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa ketika suami mengatakan “terserah”, sebenarnya bisa saja memiliki niat baik, yakni memberikan ruang bagi istri untuk memilih.

“Ketika suami bilang terserah, salah satunya adalah untuk memberikan ruang supaya istri boleh memilih,” kata Kezia kepada kumparanMOM, Kamis (16/4).

Namun, dalam praktiknya, pesan tersebut tidak selalu diterima sesuai maksud awal. Alih-alih merasa diberi kebebasan, banyak istri justru menangkapnya sebagai bentuk kurangnya dukungan.

Ilustrasi Pasangan Bertengkar. Foto: Shutterstock
Ilustrasi Pasangan Bertengkar. Foto: Shutterstock

“Istri menangkapnya justru, ‘Wah, aku kok tidak didukung? Wah, aku kok dibiarkan sendiri?’ Pada akhirnya berdampak kepada perasaan kosong, perasaan sedih dari istri,” imbuhnya.

Memicu Perasaan Kosong dan Sedih

Perbedaan persepsi ini kemudian dapat berdampak pada kondisi emosional istri. Perasaan tidak didukung bisa berkembang menjadi rasa kosong, sedih, bahkan lelah secara mental.

Hal ini berkaitan erat dengan yang disebut sebagai mental load, yaitu beban pikiran yang tidak terlihat, namun terus berjalan dalam keseharian.

“Mental load sederhananya adalah beban pikiran yang gak kelihatan,” sambungnya.

Dalam kehidupan rumah tangga, istri seringkali tidak hanya menjalankan tugas secara langsung, tetapi juga menjadi “manajer” yang mengatur berbagai hal. Mulai dari hal-hal kecil seperti mengingat stok kebutuhan rumah, menyiapkan makanan (meal prep), hingga hal yang lebih kompleks seperti mengatur jadwal sekolah anak, imunisasi, berkoordinasi dengan guru, hingga memastikan semua anggota keluarga merasa nyaman.

Ilustrasi istri marah dengan suami. Foto: Kmpzzz/Shutterstock
Ilustrasi istri marah dengan suami. Foto: Kmpzzz/Shutterstock

Semua perencanaan, pengingat, dan pengambilan keputusan ini merupakan bagian dari mental load yang kerap tidak disadari.

“Terserah” Justru Menambah Beban

Ketika suami memilih untuk mengatakan “terserah”, keputusan pada akhirnya kembali sepenuhnya ke istri. Artinya, beban berpikir yang sudah ada tidak berkurang, justru bisa bertambah.

Istri harus kembali mempertimbangkan berbagai pilihan, memikirkan dampaknya, hingga memastikan keputusan tersebut tepat untuk semua anggota keluarga.

“Bahkan bisa nambah karena istri harus kembali memilih, menimbang, dan mikirin semuanya sendiri,” ujar Kezia.

Ilustrasi Suami Istri. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
Ilustrasi Suami Istri. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Oleh karena itu, keterlibatan suami dalam proses berpikir dan pengambilan keputusan menjadi sangat penting. Tidak harus selalu mengambil alih, tetapi cukup dengan ikut berdiskusi dan memberi dukungan.

Dengan begitu, beban mental load istri bisa lebih ringan dan hubungan dalam rumah tangga pun menjadi lebih seimbang.

“Makanya, dengan suami ikut mikir dan ambil keputusan bareng-bareng, mental load istri bisa jauh lebih ringan dan keharmonisan rumah tangga bisa jadi lebih terjaga,” pungkasnya.

Buka sumber asli