Napak Tilas ke Bau-Bau dan Pelajaran tentang Ingatan
Pulang ternyata bukan sekadar kembali ke sebuah kota, tetapi menemukan kembali potongan diri yang pernah tertinggal di sana.
Akhirnya kami tiba di Kota Bau-Bau, Pulau Buton. Sebuah kota yang puluhan tahun lalu pernah menjadi bagian penting dari hidup kami. Perjalanan ini bukan sekadar wisata atau mengisi waktu liburan. Ada alasan yang lebih personal: kami ingin melakukan napak tilas, mengunjungi kembali tempat yang pernah kami sebut rumah.
Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang kembali ke tempat yang pernah membentuk sebagian hidupnya. Kita datang bukan hanya membawa tubuh, melainkan juga membawa ingatan. Dan ingatan, seperti ombak, sering kali datang tanpa bisa diatur. Kadang tenang, kadang menghantam begitu saja.
Barangkali karena itulah perjalanan menuju Bau-Bau terasa lebih emosional daripada perjalanan-perjalanan lain yang pernah saya lakukan.
Kami menyeberang menggunakan kapal cepat. Secara rasional saya tahu kapal itu dirancang untuk menghadapi gelombang laut. Teknologi pelayaran hari ini tentu jauh lebih maju dibanding puluhan tahun lalu. Standar keselamatan semakin baik, desain lambung kapal semakin adaptif terhadap ombak, dan para awak kapal tentu memahami karakter perairan yang mereka lintasi setiap hari.
Namun, rasa takut ternyata tidak selalu tunduk kepada logika.
Begitu kapal memasuki kawasan yang dikenal dengan nama Cempedak—hamparan laut terbuka yang tidak lagi terlindungi daratan—ombak mulai terasa berbeda. Kapal bergeser ke kiri dan ke kanan mengikuti ayunan ombak, membuat tubuh kami ikut terombang-ambing.
Saat itulah pengetahuan saya tentang teknologi pelayaran tidak banyak membantu. Tubuh memiliki bahasanya sendiri. Nyali saya mengecil. Wajah saya mungkin tampak pucat, meski saya berusaha terlihat tenang.
Belakangan saya mengetahui bahwa banyak penumpang di kelas biasa mengalami mabuk laut hingga muntah. Saya bersyukur tidak mengalaminya. Tetapi pengalaman itu menyadarkan saya bahwa rasa takut sering kali tidak berkaitan dengan besar kecilnya risiko. Ia lebih dekat dengan pengalaman dan ingatan.
Psikolog Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa manusia sering kali mengambil keputusan berdasarkan pengalaman emosional, bukan semata-mata probabilitas objektif. Otak lebih cepat mengingat pengalaman yang menegangkan daripada angka-angka statistik yang menenangkan. Barangkali itulah yang terjadi pada saya. Saya tahu perjalanan itu aman, tetapi tubuh tetap membaca ombak sebagai ancaman.
Menariknya, di sela-sela kecemasan itu, laut justru menyajikan pemandangan yang luar biasa indah.
Air laut berubah warna mengikuti kedalaman. Gugusan pulau-pulau kecil muncul dan menghilang di kejauhan. Langit yang cerah seakan menyatu dengan cakrawala. Dalam beberapa bagian perjalanan, saya justru merasa sedang berada di atas lukisan yang bergerak.
Alam seperti sedang mengingatkan bahwa keindahan dan kecemasan sering berjalan beriringan. Ombak yang sama bisa menghadirkan rasa takut sekaligus panorama yang memesona. Cara kita memandangnya sangat ditentukan oleh posisi batin kita sendiri.
Kota yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Sesampainya di Bau-Bau, kecemasan sepanjang perjalanan perlahan menguap.
Kami kembali mengunjungi rumah yang dahulu pernah kami tinggali. Di rumah itulah tinggal sebuah keluarga pribumi yang sejak lama kami anggap sebagai keluarga sendiri. Tidak ada hubungan darah di antara kami, tetapi kehidupan memang sering mempertemukan orang-orang yang kemudian menjadi keluarga melalui pengalaman bersama.
Pertemuan itu terasa hangat tanpa perlu banyak kata.
Waktu memang telah mengubah banyak hal. Anak-anak yang dahulu masih kecil kini telah dewasa. Beberapa sudut rumah telah berubah. Jalan-jalan yang dulu kami lalui setiap hari kini tampak lebih ramai.
Namun, ada sesuatu yang tetap bertahan.
Keramahan.
Keakraban.
Dan rasa diterima.
Sosiolog Ray Oldenburg pernah memperkenalkan konsep third place, yaitu ruang-ruang yang membuat seseorang merasa memiliki, di luar rumah dan tempat kerja. Bagi saya, Bau-Bau justru lebih dari itu. Kota ini pernah menjadi ruang kehidupan. Tempat saya belajar beradaptasi, membangun relasi, dan memahami bahwa rumah tidak selalu ditentukan oleh alamat, melainkan oleh orang-orang yang membuat kita merasa pulang.
Di zaman ketika mobilitas manusia semakin tinggi, pengalaman seperti ini menjadi semakin langka. Kita berpindah kota karena pekerjaan, pendidikan, atau tuntutan ekonomi. Kita mengenal banyak tempat, tetapi belum tentu memiliki ikatan dengan tempat-tempat itu.
Mungkin karena itulah napak tilas memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar nostalgia.
Ia menjadi cara untuk menguji apakah kenangan masih memiliki pijakan di dunia nyata.
Menemukan Diri di Antara Laut dan Benteng
Selama berada di Bau-Bau kami mengunjungi Pantai Nirwana dan Pantai Lakeba.
Pantai-pantai itu masih mempertahankan pesona yang saya ingat puluhan tahun lalu. Pasir putih membentang lembut, air laut begitu bening hingga dasar perairan masih terlihat jelas. Saya pun tidak mampu menahan keinginan untuk kembali menceburkan diri ke laut.
Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika tubuh bersentuhan kembali dengan ruang yang pernah akrab.
Di Pantai Lakeba kami menunggu matahari tenggelam.
Sedikit demi sedikit langit berubah warna. Jingga, keemasan, lalu kemerahan sebelum perlahan menjadi gelap. Tidak ada pertunjukan yang mewah. Matahari hanya menjalankan tugasnya seperti biasa. Tetapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Sunset mengajarkan bahwa sesuatu tidak harus spektakuler untuk meninggalkan kesan yang mendalam.
Dalam kehidupan modern, kita terlalu sering mengejar hal-hal besar hingga lupa menikmati perubahan-perubahan kecil yang sesungguhnya membentuk kebahagiaan.
Saya juga mengunjungi Benteng Wolio di kawasan Keraton Buton.
Benteng yang oleh banyak peneliti disebut sebagai salah satu benteng terluas di dunia itu berdiri kokoh menghadap Kota Bau-Bau dan lautan lepas. Dari atas benteng, kota terlihat tenang. Rumah-rumah kecil menyebar mengikuti kontur bukit. Laut membentang luas, menjadi jalur yang sejak berabad-abad lalu menghubungkan Buton dengan berbagai wilayah Nusantara.
Di tempat itu saya membayangkan bagaimana Kesultanan Buton dahulu memandang laut.
Bagi masyarakat maritim, laut bukan pemisah, melainkan penghubung. Laut menghadirkan perdagangan, perjumpaan budaya, pertukaran gagasan, sekaligus tantangan. Barangkali karena itulah masyarakat kepulauan memiliki cara pandang yang lebih terbuka terhadap perbedaan.
Ironisnya, di masa kini kita justru lebih mudah membangun tembok antarsesama daripada membangun jembatan.
Benteng Wolio mengingatkan saya pada paradoks itu. Benteng memang dibangun untuk bertahan dari ancaman, tetapi dari atas benteng justru terlihat hamparan laut yang membuka hubungan dengan dunia luar.
Mungkin manusia memang selalu membutuhkan dua hal sekaligus: perlindungan dan keterbukaan.

Napak Tilas sebagai Cara Mengenali Diri
Perjalanan ini perlahan mengubah cara saya memaknai kata "pulang".
Selama ini kita sering menganggap pulang sebagai aktivitas geografis: kembali ke kota asal, ke rumah lama, atau ke tempat kelahiran. Padahal, pulang juga merupakan perjalanan psikologis. Kita kembali untuk berdamai dengan waktu, memastikan bahwa sebagian diri kita masih tersimpan di sana.
Filsuf Prancis Gaston Bachelard dalam The Poetics of Space menulis bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang tempat ingatan disimpan. Ketika seseorang kembali ke rumah lama, sesungguhnya ia sedang memasuki kembali ruang batinnya sendiri.
Saya merasakan itu di Bau-Bau.
Yang saya cari ternyata bukan semata-mata pantai, benteng, atau rumah yang pernah saya tempati. Yang saya cari adalah potongan diri saya yang tertinggal di sana.
Dan saya menemukannya.
Bukan dalam bentuk yang utuh, melainkan dalam serpihan-serpihan kecil: tawa bersama keluarga yang pernah menerima kami seperti saudara, desir angin di Pantai Nirwana dan Lakeba, warna laut yang berubah mengikuti cahaya matahari, serta rasa lega setelah berhasil melewati ombak Cempedak.
Semuanya menyusun kembali sebuah kesadaran sederhana: manusia dibentuk oleh tempat-tempat yang pernah ia singgahi, tetapi lebih dalam lagi, oleh orang-orang yang pernah menyambutnya.
Barangkali itulah sebabnya perjalanan semacam ini penting dilakukan sesekali.
Bukan untuk hidup di masa lalu, melainkan untuk memahami mengapa kita menjadi seperti hari ini.
Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, kita sering terdorong untuk terus mengejar tempat baru, pengalaman baru, dan pencapaian baru. Kita begitu sibuk merencanakan tujuan berikutnya hingga lupa sesekali menoleh ke belakang. Padahal, tidak semua perjalanan yang bernilai adalah perjalanan menuju sesuatu yang belum pernah kita lihat. Ada kalanya perjalanan paling penting justru adalah perjalanan kembali.
Sebab pulang bukan berarti mundur.
Pulang adalah cara memberi hormat kepada jejak-jejak kehidupan yang pernah membentuk kita. Dan mungkin, hanya dengan sesekali menengok jejak itu, kita dapat melangkah ke masa depan dengan langkah yang lebih utuh, lebih rendah hati, dan lebih memahami siapa diri kita sebenarnya.