Naik Turun Harga Minyak Mentah Imbas Konflik Timur Tengah
Pekan ini, harga minyak mentah dunia ditutup melemah 4 persen tapi menguat secara mingguan. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Konflik di Timur Tengah telah membuat harga minyak mentah fluktuatif. Pekan ini, harga minyak mentah dunia ditutup melemah 4 persen tapi menguat secara mingguan.
Angka tersebut merupakan data pada penutupan Jumat (24/7). Berdasarkan data Reuters, kontrak berjangka Brent ditutup di level USD 96,78 per barel, turun USD 3,91 atau 3,88 persen setelah pada sesi sebelumnya ditutup di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada USD 89,31 per barel, turun USD 2,88 atau 3,12 persen.
Meski turun, Brent masih berada di jalur kenaikan hampir 10 persen sepanjang pekan ini dan WTI masih mencatat potensi kenaikan mingguan sebesar 8,27 persen.
Sepanjang pekan ini kedua harga acuan tersebut memang menguat setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal, dan kelompok Houthi di Yaman menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Di samping itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga menurun drastis.
Di tengah situasi tersebut, importir minyak China juga mempercepat pembelian minyak mentah ESPO dari Rusia. Berdasarkan laporan Bloomberg, sejumlah pelaku pasar, seluruh kargo minyak ESPO untuk pengiriman Agustus dari Terminal Kozmino di pesisir Pasifik Rusia telah habis terjual.
Bahkan, beberapa kargo untuk pengiriman September juga sudah berpindah tangan. Para pedagang menyebut laju transaksi jauh lebih cepat dibandingkan pola perdagangan normal. Hal itu juga membuat harga minyak ESPO menguat.
Walau kualitas ESPO tak sepenuhnya sama dengan minyak mentah asal Timur Tengah, jenis minyak ringan dengan kadar sulfur rendah itu tetap diminati kilang-kilang di China karena harganya yang lebih murah dan mampu menghasilkan lebih banyak solar (diesel). Adapun sepanjang Juli, China telah mengimpor minyak mentah dari Rusia sekitar 1,4 juta barel per hari.
Tak Bahayakan APBN Meski Tembus USD 100 per Barel
Dengan fluktuasi yang ada di mana harga minyak dunia berdasarkan kontrak Brent dan WTI yang kembali menembus level USD 100 per barel, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan hal itu masih dalam jangkauan asumsi APBN.
“Artinya sekarang, kalau balik lagi ke (harga di atas USD 100), ruangnya semakin terbatas aja, tapi nggak membahayakan APBN sendiri, kan sudah karena ini bukan keadaan baru, kan,” kata Purbaya.
Ia juga memastikan bahwa kenaikan harga minyak tidak memengaruhi anggaran program stimulus yang telah disiapkan untuk semester II karena penyusunannya juga menggunakan asumsi harga minyak sebesar USD 100 per barel.
“Cuma yang yang mau saya tambahin ke beberapa ke kementerian/lembaga maupun ke daerah, mungkin enggak seluas yang sebelumnya itu aja,” ujarnya.
Kondisi harga minyak USD 100 per barel, menurut Purbaya, bukanlah situasi baru sehingga pemerintah bisa kembali menyesuaikan anggaran.