News Berita

Merawat Taman Bernama Stabilitas

Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah.

Merawat Taman Bernama Stabilitas
Merawat Taman Bernama Stabilitas, sumber: AI
Merawat Taman Bernama Stabilitas, sumber: AI
"Tak ada taman yang tetap indah hanya karena pernah ditanami bunga. Ia tetap indah karena ada tangan-tangan yang tak pernah lelah merawatnya, bahkan ketika tak seorang pun memperhatikannya."

Sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah benar-benar memikirkan mengapa harga kebutuhan pokok hari ini masih relatif terjangkau. Kita datang ke pasar, membeli beras, bawang, cabai, atau minyak goreng, lalu pulang tanpa banyak bertanya. Seolah-olah kestabilan harga adalah sesuatu yang memang sudah semestinya terjadi.

Padahal, stabilitas tidak pernah tumbuh dengan sendirinya.

Ia lebih menyerupai sebuah taman. Bunga-bunganya memang terlihat indah, tetapi keindahan itu lahir dari pekerjaan yang nyaris tak pernah berhenti. Ada yang menyiram ketika tanah mulai kering, memangkas ketika ranting mulai liar, hingga membersihkan gulma sebelum merusak seluruh taman. Begitu pula dengan inflasi.

Ketika Gulma Mulai Tumbuh

Dalam ilmu ekonomi, inflasi sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dijaga agar tidak terlalu tinggi, tetapi juga tidak terlalu rendah. Inflasi yang terlalu tinggi menggerus daya beli masyarakat. Sebaliknya, inflasi yang terlalu rendah bahkan dapat menjadi sinyal melemahnya aktivitas ekonomi. Karena itu, menjaganya tetap berada pada tingkat yang sehat jauh lebih penting daripada sekadar membuatnya serendah mungkin.

Kabar baiknya, Indonesia masih mampu menjaga taman tersebut tetap terawat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen (yoy), masih berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah dan Bank Indonesia.

Di balik angka tersebut terdapat cerita yang jauh lebih besar. Kelompok volatile food, yang selama ini paling rentan terhadap perubahan cuaca dan gangguan pasokan, justru menunjukkan perbaikan. Inflasi tahunannya turun dari 6,24 persen menjadi 5,58 persen, meskipun harga bawang merah, bawang putih, dan beras masih menghadapi tekanan akibat berakhirnya musim panen serta meningkatnya biaya distribusi.

Artinya, ketika dunia masih diwarnai ketidakpastian, taman itu tetap mampu dijaga agar tidak dipenuhi gulma.

Inflasi tetap terjaga, sumber : BI
Inflasi tetap terjaga, sumber : BI

Tukang Kebun yang Tidak Pernah Libur

Banyak orang menikmati taman tanpa pernah mengenal siapa yang merawatnya. Padahal bunga tidak mekar sendiri. Begitu pula stabilitas harga.

Di balik inflasi yang tetap terkendali, terdapat konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia, sinergi erat bersama Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Seluruhnya bekerja layaknya para tukang kebun yang memastikan setiap sudut taman tetap terawat.

Ketika produksi pangan terganggu, distribusi diperbaiki. Ketika harga mulai bergerak, koordinasi diperkuat. Ketika ekspektasi inflasi mulai meningkat, kebijakan moneter hadir menjaga kepercayaan. Semua dilakukan bukan setelah masalah membesar, tetapi jauh sebelum masyarakat benar-benar merasakan dampaknya.

Sementara itu, tekanan dari kelompok administered prices tetap menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global mendorong inflasi kelompok ini mencapai 3,42 persen (yoy). Namun tekanan tersebut tidak berkembang menjadi gejolak inflasi yang lebih luas karena fondasi pengendalian inflasi tetap terjaga.

Merawat Lebih Mudah daripada Memperbaiki

Merawat taman selalu lebih murah daripada membangunnya kembali setelah rusak. Prinsip yang sama berlaku dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Ketika inflasi tetap terkendali, masyarakat dapat merencanakan pengeluaran dengan lebih baik. Dunia usaha lebih percaya diri melakukan investasi. Petani memiliki kepastian harga. Dan rumah tangga tidak perlu terus-menerus dihantui kenaikan biaya hidup yang tidak menentu.

Inilah sebabnya pengendalian inflasi sesungguhnya bukan sekadar menjaga angka statistik. Ia adalah upaya menjaga rasa tenang dalam kehidupan sehari-hari. Sebab di balik setiap harga yang stabil, ada kepastian bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan, ada ruang bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan ada optimisme bagi perekonomian untuk terus bertumbuh.

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi tidak pernah lahir karena keberuntungan. Ia tumbuh perlahan, seperti taman yang dirawat setiap hari, bahkan ketika tidak ada yang sedang melihatnya.

Taman yang indah bukanlah taman yang tidak pernah menghadapi musim kemarau. Melainkan taman yang selalu memiliki orang-orang yang setia merawatnya, apa pun musim yang datang.

Buka sumber asli