News Berita

Menyusuri Bukit Emmon, Area Resapan Air di Lereng Gunung Merapi

Bukit Emmon berperan penting dalam menjaga siklus air yang menopang kehidupan masyarakat hingga sektor industri di sekitarnya. #kumparanTRAVEL #newsupdate

Menyusuri Bukit Emmon, Area Resapan Air di Lereng Gunung Merapi
Bukit Emmon (Emperan Merapi Montong) yang jadi sumber tangkapan air AQUA di Myrian, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Bukit Emmon (Emperan Merapi Montong) yang jadi sumber tangkapan air AQUA di Myrian, Boyolali, Jawa Tengah. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Udara sejuk langsung terasa saat kumparan tiba di Bukit Emmon, lereng timur Gunung Merapi, Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini bukan sekadar destinasi alam dengan panorama hijau, tetapi juga menjadi wilayah penting sebagai daerah tangkapan air atau recharge area yang menjaga keberlanjutan sumber air di kawasan hilir.

Stakeholder Relation Manager Pabrik AQUA Klaten, Rama Zakaria, menjelaskan bagaimana kawasan Bukit Emmon berperan penting dalam menjaga siklus air yang menopang kehidupan masyarakat, hingga sektor industri di sekitarnya.

“Kalau kawasan ini rusak, dampaknya besar. Tidak ada wisata air, perikanan, hingga persawahan di wilayah bawah yang bisa bertahan, karena sumber airnya berasal dari sini,” ujar Rama, saat ditemui kumparan dalam media trip "Kampanye Adem" di Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (6/5).

Peta DAS (Daerah Aliran Sungai) Bengawan Solo dalam Gambaran Umum Sub DAS Pusur dan sekitarnya. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Peta DAS (Daerah Aliran Sungai) Bengawan Solo dalam Gambaran Umum Sub DAS Pusur dan sekitarnya. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Rama menjelaskan, Bukit Emmon berada di kawasan strategis yang menjadi bagian dari Sub DAS Pusur, salah satu anak sungai dari DAS Bengawan Solo. Kawasan ini menjadi lokasi resapan air hujan yang nantinya mengalir ke berbagai wilayah di Jawa Tengah.

Menurutnya, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan di sekitar pabrik, tetapi juga mencakup wilayah hulu tempat air berasal.

“Karena itu AQUA mengintegrasikan program tanggung jawab sosial dan lingkungan dari hulu sampai hilir,” katanya.

Pengendali Dampak Lingkungan BP DAS Solo, Arina Miardini saat menjelaskan Peta DAS (Daerah Aliran Sungai) Bengawan Solo dalam Gambaran Umum Sub DAS Pusur dan sekitarnya. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Pengendali Dampak Lingkungan BP DAS Solo, Arina Miardini saat menjelaskan Peta DAS (Daerah Aliran Sungai) Bengawan Solo dalam Gambaran Umum Sub DAS Pusur dan sekitarnya. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Dalam kesempatan yang sama, Arina Miyardini dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo menjelaskan bahwa Bukit Emmon berada di area batas topografi yang menjadi pemisah beberapa sub-DAS, seperti Pusur dan Dengkeng.

Ia menyebut wilayah tersebut memiliki karakteristik penting sebagai kawasan resapan air alami.

“Daerah ini berfungsi sebagai recharge area, yaitu kawasan yang mampu meresapkan air ke dalam tanah untuk menyuplai mata air di bawahnya,” jelas Arina.

Perjalanan Jadi Sumber Air

Sementara itu, Ahli Hidrogeologi AQUA, Arif Fadilah, menjelaskan air hujan yang jatuh di lereng pegunungan akan meresap ke dalam lapisan akuifer, yaitu lapisan batuan yang mampu menyimpan air seperti spons.

“Air hujan yang meresap di kawasan pegunungan akan mengalami perjalanan panjang di dalam batuan, sehingga membawa mineral alami,” ujarnya.

Ahli Hidrogeologi AQUA, Arif Fadillah saat menjelaskan asal-usul sumber air AQUA di Bukit Emmon, Myrian, Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (5/5/2026). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Ahli Hidrogeologi AQUA, Arif Fadillah saat menjelaskan asal-usul sumber air AQUA di Bukit Emmon, Myrian, Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (5/5/2026). Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Ia menambahkan, sumber air yang digunakan AQUA berasal dari akuifer dalam yang lebih terlindungi dari kontaminasi dibanding mata air yang langsung muncul di permukaan.

Untuk memastikan asal usul air tersebut, tim peneliti melakukan studi isotop air hujan di berbagai elevasi. Hasilnya menunjukkan sumber air AQUA memiliki karakteristik yang sesuai dengan air hujan yang meresap di kawasan Bukit Emmon pada ketinggian sekitar 1.100 mdpl.

Tak hanya itu, kedalaman akuifer memengaruhi kandungan mineral dalam air.

“Semakin dalam biasanya mineralnya semakin kaya. Tapi tidak semua karakter mineral cocok dengan profil rasa yang diinginkan AQUA,” kata Arif.

Menurutnya, AQUA memiliki standar kualitas yang lebih ketat dibanding standar minimum air minum yang ditetapkan pemerintah. Jika standar pemerintah diperketat, AQUA juga akan mengikuti standar yang lebih tinggi tersebut.

Tim AQUA juga menegaskan penggunaan air tanah dilakukan dengan pengawasan ketat dan mengikuti izin pemerintah. Salah satu yang dipantau adalah neraca air, yakni keseimbangan antara jumlah air yang meresap dan jumlah yang digunakan.

“Penggunaan air AQUA di Klaten sekitar 2,8 persen dari total air hujan yang masuk setiap tahun,” jelas Arif.

Ia juga menepis kekhawatiran soal penurunan tanah seperti yang terjadi di sejumlah kota besar. Menurutnya, karakter batuan vulkanik di kawasan pegunungan berbeda dengan wilayah pesisir seperti Jakarta atau Semarang.

Selain memantau debit dan level air tanah secara berkala, AQUA juga diwajibkan melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah untuk memastikan tidak terjadi eksploitasi berlebihan.

Di akhir sesi, tim AQUA menjelaskan bahwa tidak semua air memiliki kualitas yang sama. Selain parameter kesehatan dari pemerintah, AQUA menerapkan ratusan parameter tambahan untuk memastikan kualitas, kandungan mineral, dan rasa air tetap konsisten.

“Setiap sumber air dari gunung punya karakter rasa berbeda karena mineralnya juga berbeda. Tapi semuanya tetap harus memenuhi profil rasa segar dan ‘adem’ yang menjadi ciri khas AQUA,” tutup Arif.

Buka sumber asli